Sebelum Kita Berciuman Dunia Sudah Menontonnya

A.A.Pusung
Chapter #3

Bab 2 Lima Menit Sebelum Foto Itu

BAB 2

Lima Menit Sebelum Foto Itu

Ruang properti berada di belakang set ruang makan, diapit gudang kostum dan lorong sempit menuju pintu darurat. Tempat itu dipenuhi benda-benda yang hanya terlihat mahal dari depan.

Vas kristal ternyata plastik.

Buku-buku di rak tidak memiliki halaman.

Lukisan tua di dinding masih menyimpan stiker harga dari toko dekorasi.

Nara masuk pukul delapan lewat dua puluh lima menit.

Elang sudah menunggu di antara tumpukan koper palsu dan lampu meja yang belum dipasang.

“Kau datang,” katanya.

“Kau meminta.”

“Aku mengira kau tipe orang yang sengaja terlambat supaya tidak mengikuti ramalan.”

“Aku mengira kau tipe orang yang berhenti berpura-pura tidak mengenalku setelah kita tidak sedang ditonton.”

Elang melirik sudut langit-langit. “Kita belum tahu itu.”

Nara ikut melihat ke atas.

Tidak ada kamera yang tampak. Tapi setelah video semalam, tidak adanya kamera tidak lagi berarti mereka aman.

Elang mengeluarkan telepon dan membuka pesan dari Kredit Akhir.

Isinya sama dengan yang diterima Nara.

Kalian akan saling berbohong untuk pertama kalinya.

Foto mereka di ruang properti juga sama.

Nara menatap waktu pada gambar.

08.27.

Sekarang 08.26.

“Kita keluar,” katanya.

Ia berbalik, tetapi gagang pintu tidak bergerak.

Nara mencoba lagi.

Terkunci.

“Jangan bilang ini ulahmu.”

“Aku bahkan tidak tahu pintu ini punya kunci.”

Elang mendekat. “Minggir.”

“Aku bisa membuka pintu.”

“Aku tidak meragukan kemampuanmu. Aku meragukan kesabaran orang di luar kalau kau terus memutarnya ke arah yang salah.”

Nara berhenti.

Elang meraih gagang, menekannya ke bawah, lalu menarik.

Pintu tetap tidak terbuka.

Nara melipat tangan. “Arah yang salah?”

“Aku juga bisa keliru.”

“Kukira pekerjaanmu menjadi orang lain dengan sempurna.”

“Tidak. Pekerjaanku membuat orang percaya dari jarak aman.”

Ia menendang pelan bagian bawah pintu.

Tidak ada hasil.

Jarum detik terus bergerak menuju 08.27.

Nara kembali membuka foto. Dalam gambar itu, pergelangan tangannya dipegang Elang. Posisi mereka dekat. Sangat dekat.

“Kita tidak perlu berdiri seperti ini,” katanya.

Elang menatap layar ponselnya sendiri. “Setuju.”

“Kau berdiri di sana.”

“Dengan senang hati.”

Nara bergerak ke sudut dekat rak buku palsu. Elang mengambil posisi di sisi berlawanan.

Jarak mereka hampir empat meter.

Jarum detik melewati angka dua belas.

08.27.

Tidak terjadi apa-apa.

Nara menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga.

Sebuah lampu berdiri di sampingnya tiba-tiba miring.

Nara menoleh. Kabelnya tersangkut pada sepatu. Rak tipis di belakang lampu ikut bergeser. Tiga kotak properti di bagian atas meluncur bersamaan.

“Nara!”

Elang bergerak cepat.

Ia menyeberangi ruangan dan menarik pergelangan tangan Nara sebelum kotak-kotak itu jatuh. Nara terdorong ke depan. Bahunya membentur dada Elang.

Posisi mereka berhenti tepat seperti foto.

Tangan Elang melingkari pergelangan Nara.

Wajah mereka berjarak beberapa sentimeter.

Jam di belakang menunjukkan 08.27.

Untuk sesaat, keduanya tidak bergerak.

Nara bisa melihat butir kecil air hujan yang masih tertinggal di rambut Elang. Ada aroma sabun dan sedikit bau logam dari pakaian yang terlalu lama berada di sekitar lampu studio.

Elang menatap matanya, lalu turun singkat ke bibirnya.

Tatapan itu begitu cepat sehingga Nara nyaris menganggap dirinya salah melihat.

Nyaris.

Lihat selengkapnya