Sebelum Kita Berciuman Dunia Sudah Menontonnya

A.A.Pusung
Chapter #4

Bab 3 Kunci yang Tidak Pernah Diberikan

BAB 3

Kunci yang Tidak Pernah Diberikan

Ruang rapat Studio Delapan memiliki dinding kaca, meja terlalu panjang, dan pendingin udara yang membuat siapa pun yang masuk merasa sedikit lebih dingin dari seharusnya.

Nara duduk di ujung meja bersama Elang.

Jarak di antara kursi mereka cukup untuk meletakkan satu orang lagi. Tara sengaja mengaturnya begitu sebelum menutup tirai kaca.

Di seberang mereka, Arka Mahendra bersandar dengan kedua tangan terlipat. Kacamata hitamnya sudah dilepas, tetapi ekspresinya masih menunjukkan bahwa ia lebih memilih tidak melihat siapa pun di ruangan itu.

Damar berdiri dekat layar proyektor. Mira Daneswari duduk di sampingnya sambil membuka tablet. Bimo berada paling dekat pintu, membawa tujuh gelas kopi yang tidak seorang pun berani minum setelah kejadian pagi tadi.

“Aku ulangi sekali lagi.” Tara meletakkan tabletnya di atas meja. “Tidak ada yang membantah video itu secara pribadi. Semua komunikasi melalui tim humas.”

“Video itu palsu,” kata Nara.

“Aku tahu.”

“Publik tidak.”

“Itulah sebabnya kau harus diam.”

“Diam tidak membuatnya hilang.”

“Berbicara tanpa strategi juga tidak membuatnya hilang. Itu hanya membuat skandal punya kutipan tambahan.”

Nara hendak menjawab, tetapi Elang lebih dulu menyentuh ujung meja dengan telunjuk.

“Orang-orang mengira aku Arka,” katanya.

Arka mendengus pelan. “Karena kau dibayar untuk terlihat seperti aku.”

“Aku dibayar untuk terlihat seperti punggungmu.”

Bimo menundukkan kepala. Bahunya berguncang pelan.

Tara menatapnya. “Ada yang lucu?”

“Tidak.”

“Kau tertawa.”

“Saya tersedak suasana.”

Mira mengambil satu gelas kopi dari depan Bimo, membaca namanya, lalu mengembalikannya. “Ini milik Damar.”

Bimo melihat tulisan di sana. “Pantas pahit.”

“Masalah kita bukan kopi,” kata Damar.

“Syukurlah,” gumam Bimo. “Kalau kopi juga masalah, saya pulang.”

Tara mengabaikannya. Ia menekan layar tablet dan menampilkan video dari Kredit Akhir ke proyektor.

Gambar lift memenuhi dinding.

Nara menahan diri untuk tidak melihat Elang ketika adegan ciuman muncul. Melihatnya melalui layar besar membuat video itu terasa lebih buruk. Wajah perempuan tersebut benar-benar wajahnya. Gerakan laki-laki itu juga terlalu alami untuk disebut tempelan kasar.

Pada detik ketika tangan Elang versi video menyentuh tengkuk Nara, seseorang di ruangan itu menggeser kursi.

Arka.

“Matikan,” katanya.

Tara menghentikan video.

“Kenapa?” tanya Mira.

“Karena itu bukan aku.”

“Justru itu masalahnya,” kata Tara. “Publik mengira itu kau.”

“Buat pernyataan.”

“Pernyataan seperti apa? Bahwa laki-laki yang selama ini dipakai untuk mengalihkan paparazi adalah orang lain?”

Arka menatap Elang. “Namanya tidak perlu disebut.”

Nara merasakan otot rahangnya mengeras.

Elang tetap tenang. Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat semacam itu untuk bereaksi di depan orang lain.

“Kalau nama saya tidak disebut,” katanya, “berarti video ini akan tetap dianggap video Arka.”

“Untuk sementara,” jawab Tara.

“Dan Nara dianggap berciuman dengan aktor yang sudah memiliki kampanye pasangan layar bersama Arelia.”

Tara terdiam.

Mira menatap Elang lebih lama, seolah baru menyadari laki-laki itu bukan sekadar tubuh pengganti yang kebetulan bisa bicara.

Nara membuka video kedua.

“Kita punya masalah yang lebih dekat daripada opini publik.”

Gambar Elang di dalam apartemennya muncul di layar.

Ruangan itu langsung sunyi.

Video dimulai dari sudut ruang tamu. Kamera menghadap pintu masuk apartemen Nara. Pencahayaannya redup, tetapi sofa abu-abu, rak buku rendah, dan lampu berdiri di dekat jendela terlihat jelas.

Elang versi video masuk menggunakan sebuah kunci.

Ia mengenakan kaus hitam dan celana gelap. Tidak ada jaket yang menyamarkan tubuhnya. Wajahnya tampak lebih jelas daripada dalam video lift.

Ia menutup pintu, memandang seseorang di belakang kamera, kemudian mengangkat kunci yang dipegangnya.

“Kau seharusnya tidak memberiku ini,” katanya.

Suara Elang.

Bukan suara Arka.

Lihat selengkapnya