BAB 4
Rumah yang Mengingat Orang Asing
Nara tiba di apartemennya dua puluh tiga menit kemudian.
Ia tidak menghubungi keamanan gedung lebih dulu.
Keputusan itu tidak masuk akal, dan ia tahu itu. Tapi sejak semalam, setiap orang yang menawarkan perlindungan lebih sibuk melindungi produksi, citra Arka, atau kepentingan agensi.
Tidak seorang pun bertanya apakah Nara takut pulang.
Lift berhenti di lantai sebelas.
Pintu terbuka.
Lorong di depannya kosong.
Karpet abu-abu membentang sampai jendela darurat di ujung. Lampu putih menyala terlalu terang. Tidak ada suara televisi dari unit lain, tidak ada langkah kaki, tidak ada pintu yang tertutup.
Nara keluar perlahan.
Pintu unitnya terlihat dari tempat ia berdiri.
Tidak ada kunci tertancap di lubangnya.
Ia berhenti beberapa langkah sebelum pintu, mengeluarkan ponsel, lalu membandingkannya dengan foto yang dikirim Kredit Akhir.
Nomor unit sama.
Bekas gores kecil di bawah gagang sama.
Sudut keset sama.
Foto itu benar-benar diambil di sana.
Kuncinya sudah tidak ada.
Nara memotret lorong sebelum mendekat.
Ia kemudian berjongkok di depan keset. Tidak ada benda tersembunyi. Tidak ada kawat. Tidak ada bekas tanah atau sepatu yang mencolok.
“Kau selalu memeriksa keset selama itu?”
Suara Elang datang dari belakang.
Nara berdiri cepat.
Elang berhenti sekitar lima meter darinya, kedua tangan terlihat jelas di sisi tubuh. Ia sudah mengganti mantel produksi dengan jaket hitamnya.
“Katamu kita berangkat terpisah,” ujar Nara.
“Kita memang berangkat terpisah.”
“Kau mengikuti aku.”
“Aku naik tangga dari lantai sepuluh supaya tidak berada dalam lift yang sama.”
“Itu tidak menjawab.”
“Aku khawatir gambar berikutnya memperlihatkan kau masuk sendirian.”
Nara memandangnya beberapa saat. “Kau menerima pesan baru?”
Elang menunjukkan layar ponselnya.
Jangan biarkan dia membuka pintu sendirian.
Nara memperlihatkan pesan miliknya.
Jangan biarkan dia masuk lebih dahulu.
Elang membaca dua kalimat itu, lalu tertawa pendek.
“Mereka benar-benar ingin kita bertengkar di lorong.”
“Jangan memberi mereka kepuasan.”
“Baik. Kau masuk lebih dahulu.”
“Pesanku melarang itu.”
“Pesanku juga.”
Mereka memandang pintu.
“Bersamaan?” usul Elang.
Nara mengeluarkan kunci. “Itu terdengar konyol.”
“Sebagian besar keputusan buruk terdengar masuk akal sebelum dilakukan. Yang ini setidaknya jujur.”
Nara memasukkan kunci ke lubang.
Elang berdiri di sampingnya, cukup dekat untuk ikut masuk tanpa saling menyentuh.
“Pada hitungan tiga,” katanya.
“Kenapa harus dihitung?”
“Supaya dramatis.”
“Aku tidak butuh dramatis.”
“Kau bekerja membuat drama.”
“Aku bekerja mencegah kesalahannya.”
“Pantas kau terlihat kurang bahagia.”
Nara menoleh.
Elang mengangkat satu tangan. “Baik. Tidak bercanda.”
Ia tetap tersenyum tipis.
Nara memutar kunci.
Pintu terbuka tanpa hambatan.
Mereka melangkah masuk hampir bersamaan.
Apartemen terlihat normal.
Sofa berada di tempatnya. Tirai tertutup separuh. Rak buku masih sedikit miring karena salah satu kakinya lebih pendek. Dua amplop tagihan tergeletak di meja kecil dekat pintu.
Nara tidak bergerak selama beberapa detik.
Elang menutup pintu menggunakan siku.
“Jangan menyentuh apa pun,” kata Nara.
“Aku bahkan bernapas dengan hati-hati.”
Ia mengambil dua lembar tisu dari kotak di dekat pintu, membungkus tangannya, lalu memeriksa pengunci tanpa meninggalkan sidik jari.
“Tidak ada bekas paksa.”
“Kunci replika?”
“Mungkin.”
Nara berjalan ke tengah ruang tamu.
Nara tidak punya ingatan fotografis seperti yang sering dikatakan Bimo. Tapi ia mengenal ruang ini dari ribuan pagi dan malam. Ia tahu jarak meja dari sofa, kemiringan bingkai foto, posisi kabel lampu, dan buku mana yang sengaja diletakkan terbalik karena sampulnya membuat Laras kesal.
Sesuatu berubah.
Ia hanya belum tahu apa.
Elang berdiri dekat pintu sambil memperhatikan.
“Apa?”
“Aku mencari kesalahan.”
“Dalam rumahmu sendiri?”
“Terutama dalam rumahku sendiri.”
Nara menatap rak buku.
Tidak.
Lampu berdiri.
Tidak.
Bantal sofa.
Ia mendekat.