Sebelum Kita Berciuman Dunia Sudah Menontonnya

A.A.Pusung
Chapter #6

Bab 5 Orang Pertama yang Tidak Dipercaya

BAB 5

Orang Pertama yang Tidak Dipercaya

Elang membuka pintu kurang dari tiga detik setelah lift berbunyi.

Lorong sudah kosong.

Nara keluar tepat di belakangnya. Cahaya dari unit-unit lain membuat lorong terlihat biasa saja, seolah tidak ada orang yang baru saja menyelipkan amplop berisi ancaman ke bawah pintunya.

Pintu lift sedang menutup di ujung lorong.

Elang berlari.

“Tahan!”

Ia menyelipkan tangan di antara kedua daun pintu. Sensor bekerja. Pintu terbuka kembali.

Tidak ada siapa-siapa di dalam.

Hanya sebuah troli kebersihan terparkir miring, dengan kantong sampah hitam tergantung di sisinya.

Nara memeriksa tombol lantai.

Angka tujuh menyala.

“Orangnya turun di lantai tujuh,” katanya.

“Atau sengaja menekan tujuh lalu keluar lewat tangga.”

Elang menekan tombol buka agar lift tidak bergerak. Nara memeriksa troli tanpa menyentuhnya. Botol pembersih, sarung tangan karet, kain lap, dan satu kotak tisu. Tidak ada amplop serupa.

Pintu darurat di ujung lorong terbuka sedikit.

Mereka berlari ke sana.

Tangga beton kosong. Suara langkah kaki tidak terdengar, tetapi pintu lantai sepuluh masih bergoyang pelan.

Elang turun dua anak tangga sekaligus.

Nara mengikuti sampai lantai sepuluh. Begitu pintu didorong, mereka memasuki lorong lain yang susunannya sama. Hanya warna keset dan nomor unit yang berbeda.

Seorang perempuan tua berdiri di depan unit 1006 sambil membawa kantong belanja.

Ia menatap Elang yang muncul dengan napas sedikit berat, lalu Nara di belakangnya.

“Kalian bertengkar?” tanyanya.

“Tidak,” jawab Nara.

“Belum,” kata Elang.

Nara meliriknya.

Perempuan itu mengangguk seolah jawaban itu cukup masuk akal. “Kalau mau kejar-kejaran, jangan lewat depan pintu saya. Kucing saya gampang panik.”

“Maaf, Bu,” kata Elang. “Tadi ada orang lewat?”

“Orang seperti apa?”

Nara hendak menjawab, tetapi berhenti.

Mereka tidak tahu.

Laki-laki atau perempuan. Tinggi atau pendek. Memakai seragam atau pakaian biasa. Mereka bahkan tidak tahu apakah suara lift tadi memang milik pelaku.

“Orang yang terburu-buru,” kata Elang.

Perempuan itu menunjuk ke ujung lorong. “Petugas kebersihan lewat. Bawa topi. Masuk tangga sebelah sana.”

Nara dan Elang saling pandang.

Mereka berlari lagi.

Pintu tangga di ujung lorong terbuka menuju area servis gedung. Di sana ada dua lift barang, ruang penyimpanan, dan pintu keluar menuju tempat parkir belakang.

Salah satu lift baru saja bergerak turun.

Elang menekan tombol pemanggil berkali-kali.

“Itu tidak membuatnya kembali lebih cepat,” kata Nara.

“Aku sedang memberi tahu mesin bahwa kita serius.”

“Mesin tidak punya perasaan.”

“Setidaknya ia tidak membuat video palsu.”

Nara menatap layar nomor lantai yang terus turun.

Delapan.

Tujuh.

Enam.

Mereka terlambat.

Elang menuju pintu parkir dan mendorongnya. Udara siang yang panas langsung masuk. Area parkir belakang dipenuhi mobil penghuni, motor kurir, dan sebuah truk pengangkut air.

Tidak ada petugas kebersihan bertopi.

Tidak ada orang berlari.

Hanya seorang laki-laki berseragam keamanan yang berdiri dekat pos kecil sambil berbicara melalui radio.

Nara mengenalinya. Guntur Prabaswara, kepala keamanan gedung. Tubuhnya besar, rambutnya dipotong pendek, dan cara berdirinya membuat siapa pun yang lewat merasa sedang dinilai.

Guntur menutup radio saat melihat mereka.

“Mbak Nara?”

“Ada orang masuk ke unit saya.”

Wajah Guntur langsung berubah serius. “Kapan?”

“Tidak tahu. Tapi barusan ada orang meninggalkan amplop di bawah pintu.”

“Kunci pintunya rusak?”

“Tidak.”

“Barang hilang?”

“Satu kemeja.”

Guntur melihat Elang.

Tatapannya berhenti pada jaket hitam, lalu wajahnya.

“Mas ini siapa?”

“Elang,” jawab Elang. “Bukan pencuri kemejanya.”

Nara menoleh tajam.

“Aku hanya mempercepat bagian yang pasti ditanyakan.”

Guntur tidak tersenyum. “Ikut saya ke ruang keamanan.”

Mereka kembali ke dalam gedung.

Di ruang keamanan, enam layar menampilkan kamera dari lobi, parkiran, lift, dan beberapa lorong. Tidak ada kamera langsung di depan setiap unit. Kamera lantai sebelas dipasang dekat lift, menghadap ke area masuk lorong.

Guntur memundurkan rekaman sepuluh menit.

Nara dan Elang terlihat keluar dari lift, berdiri di depan unit, lalu masuk bersama.

Elang melihat layar. “Dari sudut ini kita terlihat seperti pasangan yang baru pulang setelah bertengkar.”

“Kita tidak bertengkar,” kata Nara.

Lihat selengkapnya