Sebelum Kita Berciuman Dunia Sudah Menontonnya

A.A.Pusung
Chapter #7

Bab 6 Satu Kunci untuk Orang Asing

BAB 6

Satu Kunci untuk Orang Asing

Setibanya di Studio Delapan, Nara dan Elang dipisahkan sebelum melewati pintu utama.

Tara menarik Nara ke ruang humas.

Saka membawa Elang menuju gudang kostum.

Tidak ada kesempatan untuk membicarakan pesan terakhir.

Ruang humas dipenuhi layar, kabel pengisi daya, tumpukan laporan media, dan tiga orang yang mengetik tanpa saling melihat. Video lift sudah ditonton lebih dari satu juta kali. Nama Arka berada di posisi teratas pencarian. Nama Nara belum diketahui publik, tetapi wajahnya mulai beredar dalam tangkapan layar.

Tara menutup pintu.

“Kau pergi tanpa pengawal.”

“Aku pergi ke rumahku.”

“Dengan Elang.”

“Kami tiba terpisah.”

“Kalian kembali bersama.”

Nara meletakkan salinan rekaman keamanan di meja. “Seseorang menyamar sebagai petugas kebersihan, memakai kartu akses mantan pegawai, masuk ke lantai saya, lalu menutup kamera. Ini lebih penting daripada siapa yang duduk satu mobil denganku.”

Tara mengambil perangkat penyimpanan itu.

Ekspresinya berubah saat Nara menjelaskan seragam yang hilang dan kunci yang tidak pernah dinonaktifkan.

“Kau membuat laporan polisi?”

“Guntur yang membuat.”

Tara menutup mata sebentar. “Ilyas akan marah.”

“Bagus.”

“Kau tidak memahami posisi perusahaan.”

“Aku memahami posisi perusahaan sejak mereka menyuruhku diam tentang orang yang masuk ke rumahku.”

Tara meletakkan perangkat itu kembali.

“Perusahaan bukan musuhmu, Nara.”

“Kalau begitu berhenti bertindak seperti pihak yang paling takut kebenaran keluar.”

Pintu terbuka sebelum Tara menjawab.

Mira masuk sambil membawa dua bungkus makanan.

“Aku dengar kalian belum makan.”

Tara menghela napas. “Kami sedang bicara.”

“Aku juga bisa bicara sambil mengunyah. Itu keterampilan dasar dalam produksi.”

Mira memberikan satu bungkus kepada Nara. Nasi, ayam panggang, dan sayur. Makanan sederhana, tetapi masih hangat.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya.

Nara mengangguk.

Mira menatapnya beberapa detik lebih lama. “Itu jawaban kerja atau jawaban asli?”

Nara membuka bungkus makanan. “Aku belum tahu.”

Tara menerima telepon dan keluar dari ruangan. Begitu pintu menutup, Mira duduk di sisi meja.

“Aku melihat videonya.”

“Semua orang juga.”

“Bukan video lift. Video apartemen.”

Nara berhenti membuka sendok plastik.

“Tara memperlihatkannya.”

“Kenapa?”

“Karena aku kepala penulis. Mereka ingin tahu apakah ada bagian naskah yang mirip dengan kalimat di video.”

Nara menatapnya.

“Dan?”

“Tidak ada kalimat persis.” Mira mengambil botol air dari meja. “Tapi cara videonya disusun terasa seperti adegan. Ada pembukaan, objek penting, dialog yang menyembunyikan informasi, lalu akhir yang sengaja dipotong.”

“Seperti seseorang menulis kehidupan kami.”

“Ya.”

Jawaban itu terlalu dekat dengan ketakutan Nara.

Mira membuka bungkus makanannya sendiri. “Aku kenal wajahmu ketika sedang memikirkan sepuluh kemungkinan sekaligus.”

“Tidak ada yang cukup masuk akal.”

“Biasanya pelaku tidak membutuhkan semuanya masuk akal. Hanya perlu membuat korbannya kelelahan.”

Nara menatap nasi di depannya tanpa makan.

“Kau pernah masuk ke apartemenku.”

Mira mengangkat wajah.

“Dua kali,” lanjut Nara. “Kau tahu susunannya.”

Suasana di ruangan berubah tipis.

Mira tidak terlihat tersinggung. Ia hanya meletakkan sendok.

“Benar.”

“Pernah memotret?”

“Tidak sengaja mungkin. Saat ulang tahunmu, kita mengambil foto dekat jendela.”

“Foto itu bisa memperlihatkan ruang tamu.”

“Bisa.”

“Ponselmu pernah dipinjam orang?”

“Sering oleh asisten penulis. Kadang tim produksi meminta foto referensi.”

Mira tidak membela diri terlalu cepat. Tidak marah. Tidak memaksa Nara percaya.

Aneh, tetapi justru itu yang membuat Nara sedikit lega.

“Aku tidak menuduhmu,” kata Nara.

“Kau sedang menyusun daftar orang yang punya akses. Namaku seharusnya ada.”

“Fina juga.”

“Laras.”

“Bimo.”

Mira mengangkat alis. “Bimo masuk rumahmu?”

“Sekali.”

“Kenapa?”

“Mengantar naskah. Lalu menjatuhkan mi.”

“Masuk akal.”

“Bagian mi?”

“Bagian Bimo.”

Nara akhirnya memakan satu suap.

Mira kembali membuka sendoknya. “Elang bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Kau percaya dia?”

Pertanyaan itu datang terlalu tepat.

Nara teringat pesan Kredit Akhir.

Pilih orang pertama yang akan kau percaya.

“Aku baru mengenalnya hari ini.”

“Itu bukan jawaban.”

“Karena tidak ada jawaban.”

Mira tersenyum tipis. “Kau tidak suka orang yang tidak bisa dibandingkan dengan versi sebelumnya.”

Nara menatapnya.

“Pekerjaanmu selalu memberi pengambilan pertama,” lanjut Mira. “Kau tahu posisi awal, lalu mencari apa yang berubah. Dengan orang baru, kau tidak punya patokan.”

“Itu sebabnya orang baru berbahaya.”

“Atau jujur. Mereka belum punya waktu untuk mengecewakanmu.”

“Kalimat itu terdengar seperti dialog.”

“Aku penulis. Penyakit kerja.”

Pintu terbuka lagi.

Bimo memasukkan kepala.

“Mbak Nara, Kak Elang minta bertemu.”

“Panggil dia Elang.”

“Kalau saya terlalu akrab, nanti dibilang tidak sopan.”

“Kau sudah memanggilku Kakak sejak hari pertama.”

“Itu berbeda. Kak Nara terlihat seperti orang yang bisa membuat saya kehilangan pekerjaan hanya dengan menemukan salah ketik.”

“Masuk.”

Lihat selengkapnya