Sebelum Kita Berciuman Dunia Sudah Menontonnya

A.A.Pusung
Chapter #8

Bab 7 Cermin Yang Menyimpan Mata

BAB 7

Cermin yang Menyimpan Mata

Nara Nggak langsung melihat ke arah cermin.

Ia lebih dulu memeriksa pintu, jendela kecil di atas dinding, tumpukan kursi, kisi pendingin udara, dan langit-langit. Tidak ada seorang pun bersembunyi. Tidak terdengar langkah menjauh.

Tetapi, foto di layar Elang jelas diambil dari depan.

Posisi kamera hampir sejajar dengan dada mereka.

“Jangan bergerak,” kata Nara.

Elang masih menggenggam kunci apartemennya. “Aku gak berniat menari.”

“Masukkan kuncinya ke saku.”

“Foto sudah diambil.”

“Lakukan saja.”

Elang menyimpan kunci tersebut di saku bagian dalam jaket. Nara berjalan perlahan ke titik yang kira-kira menjadi posisi pengambil gambar.

Tepat di depan cermin besar.

Cermin itu menutupi hampir seluruh dinding ruang latihan. Permukaannya sedikit kusam dan dipenuhi bekas telapak tangan lama.

Nara berdiri di hadapannya.

Bayangannya menatap balik.

Elang muncul beberapa langkah di belakang.

“Cermin dua arah?” tanyanya.

“Mungkin.”

Ia menempelkan ujung jari pada permukaan kaca. Bayangan jarinya hampir menyatu tanpa celah.

Elang ikut mendekat. “Katanya itu cara memeriksa cermin dua arah.”

“Itu mitos yang Gak bakal selalu benar.”

“Bagus. Aku hampir merasa berguna.”

Nara mengetuk kaca dengan buku jarinya.

Bunyinya padat.

Ia bergerak ke sisi kanan, menemukan sambungan tipis yang ditutup lis hitam. Ada dua sekrup baru di antara beberapa sekrup lama. Kepalanya masih bersih, belum tertutup debu.

“Bagian ini pernah dibuka,” katanya.

Elang berjongkok. “Baru.”

“Kau punya obeng?”

“Kenapa kau mengira pemeran pengganti membawa obeng?”

“Kau membawa pendeteksi sinyal.”

“Itu berbeda.”

“Enggak terlalu.”

Elang merogoh tas pinggang dan mengeluarkan pisau lipat kecil dengan beberapa alat tambahan.

Nara menatapnya.

“Apa?”

“Ada obengnya.”

“Aku gak pernah bilang nggak punya.”

“Kau bertanya kenapa aku mengira kau membawa.”

“Aku sedang menjaga sedikit misteri.”

Nara mengambil alat itu dari tangannya.

“Romantis sekali,” gumam Elang. “Kunci rumah baru lima menit, alat kerja sudah disita.”

Nara membuka dua sekrup.

Lis cermin terlepas sedikit. Elang menahannya agar gak jatuh. Di baliknya tampak rongga sempit dan kabel hitam yang menuju bagian atas.

“Ini bukan cermin biasa,” kata Nara.

Mereka menggeser sisi kaca beberapa sentimeter. Belum tentu cukup untuk melihat seluruh ruang di belakangnya, tetapi cukup bagi Elang untuk memasukkan lampu senter ponsel.

Ada dinding kedua.

Di antaranya terdapat celah selebar kira-kira setengah meter.

Sebuah kamera kecil terpasang menghadap kaca.

Lensa hitamnya tepat sejajar dengan tempat Nara dan Elang berdiri saat kunci diserahkan.

Nara menatap kamera itu.

“Pendeteksi sinyalmu tidak menangkapnya.”

“Berarti tidak sedang mengirim secara nirkabel.”

“Kabel.”

Elang mengarahkan senter ke bawah. Kabel kamera masuk ke dalam pipa kecil menuju lantai.

“Rekaman lokal?”

“Atau jaringan lama.”

Nara mengeluarkan ponselnya untuk memotret posisi kamera.

Lihat selengkapnya