“Kalau hari ini kita tidak perlu lagi bekerja, tidak perlu lagi menunggu, dan tidak perlu lagi saling menyapa… lantas, apa sebenarnya yang masih membuat kita disebut manusia?”
Pertanyaan itu menggantung di udara gerbong kereta otomatis, seolah sengaja dilempar oleh seseorang yang tahu persis betapa sunyinya pagi itu. Nathaniel Tan menoleh perlahan. Suara itu bukan berasal dari speaker sistem transportasi kota, bukan pula dari pengumuman stasiun. Tapi dari seorang wanita paruh baya yang duduk tiga kursi di depannya. Wanita itu tidak menatap siapa pun. Matanya terpaku pada layar hologram di telapak tangannya, tapi bibirnya baru saja bergerak. Seperti berbicara pada hampa. Atau mungkin, justru sedang mencoba memanggil sesuatu yang sudah lama hilang.
Nathan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu mengalihkan pandangan ke jendela kaca yang membentang lebar di sampingnya. Kereta meluncur tanpa getaran, tanpa deru mesin, tanpa sedikit pun friksi yang bisa dirasakan tubuh. Di luar, deretan gedung pencakar langit Kota Zenith berdiri tegak seperti kristal raksasa. Permukaannya memantulkan cahaya matahari pagi yang telah difilter oleh lapisan atmosfer buatan, menciptakan pagi yang selalu cerah, selalu sejuk, selalu sempurna. Tidak ada asap. Tidak ada suara klakson. Tidak ada pejalan kaki yang terburu-buru menyeberang jalan. Semua mengalir sesuai jadwal yang telah dihitung oleh jaringan saraf pusat kota. Kemacetan..? Sudah menjadi arsip sejarah. Antrean panjang..? Hanya tersimpan dalam basis data nostalgia. Bahkan pekerjaan yang dulu menguras keringat kini dikerjakan oleh lengan mekanik dan algoritma yang tidak pernah lelah.
“Pagi, Nathaniel.” Suara itu lembut, datar, tanpa jeda. Aria, asisten virtual pribadinya, menyapa melalui earpiece transparan di telinganya. “Suhu ruangan telah disesuaikan menjadi dua puluh dua derajat celcius. Jadwal wawancara pertama Anda dimulai dalam empat puluh dua menit. Apakah Anda memerlukan kopi dengan kadar kafein lima puluh persen?”
“Nggak perlu, Ar. Cukup air hangat aja,” jawab Nathan pelan, matanya masih menatap ke luar.
“Diterima. Namun, berdasarkan data kesehatan Anda selama tiga bulan terakhir, asupan kafein rendah dikorelasikan dengan penurunan produktivitas sebesar delapan belas persen. Apakah Anda yakin?”
“Aku yakin,” ucap Nathan, kali ini sedikit lebih tegas. “Kadang, aku cuma butuh merasa lelah. Biar tahu aku masih hidup.”
Ada jeda singkat. Hanya sepersekian detik, tapi cukup terasa. Lalu, “Pesan Anda telah disimpan. Saya akan mencatatnya sebagai preferensi emosional, bukan medis.”
Nathan hampir tertawa. Emosional. Seperti itu istilah yang dipakai sistem untuk menyebut kerinduan manusia pada ketidaksempurnaan. Ia mengusap dahinya, lalu menoleh ke sekeliling gerbong. Puluhan, mungkin ratusan penumpang duduk berjejer. Jarak antar kursi hanya selebar bahu. Lengan mereka hampir bersentuhan. Tapi ruang di antara mereka terasa seperti jurang yang tak terlihat. Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang menguap. Tidak ada yang secara tidak sengaja bersenggolan lalu meminta maaf. Hanya ada cahaya biru lembut dari layar pribadi yang memantul di wajah-wajah tenang. Setiap orang seolah terbungkus dalam gelembung transparan yang tak bisa ditembus suara.
“Mereka benar-benar nggak saling bicara ya?” gumam Nathan, lebih kepada diri sendiri.
Di sebelah kanannya, seorang pemuda dengan kemeja rapi dan dasi tipis tiba-tiba menoleh. Matanya sedikit merah, seolah baru bangun dari tidur singkat. “Ngomong apa?” tanyanya, suara datar tapi tidak kasar.
“Nggak, cuma… biasanya orang naik kereta pagi gini suka ngeluh soal cuaca, atau nanyain arah, atau ngobrolin apa gitu yang nggak penting. Tapi di sini…” Nathan menggeleng pelan. “Semuanya hening.”
Pemuda itu tersenyum tipis, tapi matanya tetap menatap layar di pangkuannya. “Kenapa harus ngomong kalau semua sudah disediakan? Mau ke mana tinggal ketik. Mau makan tinggal pesan. Mau dengar musik, tinggal pilih. Ngomong cuma buang energi. Lagipula, percakapan manusia itu kan sering nggak jelas ujung pangkalnya.”
“Tapi bukankah ngomong itu… cara kita nyambung sama orang lain?”
Pemuda itu terkekeh pelan. “Nyambung buat apa? Kalau koneksi digital sudah lebih stabil, lebih cepat, dan nggak bikin ribet? Maaf, aku ada panggilan video kerja. Jangan tersinggung ya.”
Layar di depannya menyala. Pemuda itu langsung menunduk, kembali ke dunianya. Percakapan yang baru berlangsung dua puluh detik sudah berakhir tanpa jejak. Tanpa penutup. Tanpa rasa.