Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia

HaoYuen
Chapter #2

Seribu Teman Nol Pendengar

“Jadi, menurut Anda, Nathaniel, apa yang membuat seseorang merasa kesepian di tengah kota yang paling terhubung di dunia ini?”

Pertanyaan itu datang dari produser Nathan, seorang wanita bernama Elena yang matanya selalu berkedip cepat seolah sedang memproses data dalam kecepatan tinggi. Mereka duduk di ruang rapat kaca transparan di lantai empat puluh dua gedung media tempat Nathan bekerja. Di luar, awan buatan bergerak lambat, menciptakan pemandangan senja abadi yang estetis.

Nathan menghela napas, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu sintetis. “Jujur, El, aku rasa ini topik klise. Kesepian itu kan subjektif. Kalau orang nggak mau nyari teman, ya udah. Bukan tugas jurnalis buat ngobatin rasa sepi orang lain. Kita harusnya liput inovasi, bukan… curhat massal.”

Elena menatapnya tajam, tapi ada kelelahan di sudut matanya. “Ini bukan soal curhat, Nat. Ini soal statistik. Tingkat depresi naik tiga puluh persen tahun ini. Angka bunuh diri diam-diam meningkat, meski sistem kesehatan mental otomatis sudah tersedia dua puluh empat jam. Orang-orang punya seribu teman di media sosial, tapi nol pendengar di kehidupan nyata. Dewan Kota ingin tahu kenapa. Mereka pikir ini bug dalam sistem sosial kita. Aku butuh kamu cari tahu bug-nya di mana.”

Nathan mendengus pelan. “Bug..? Manusia bukan kode program, El.”

“Tapi perilakunya bisa diprediksi. Dan sekarang, polanya rusak. Cari siapa saja. Siapa pun yang terlihat sempurna tapi retak di dalamnya. Mulai besok.”


Esok harinya, Nathan berdiri di depan pintu apartemen mewah di Distrik Atas. Pintu itu terbuka sebelum ia sempat mengetuk.

“Masuk, Nathaniel Tan. Kamera sudah siap. Pencahayaan optimal,” sambut suara berat dan bersahabat.

Adrian Welles, influencer teknologi dengan lima puluh juta pengikut, menyambutnya dengan senyuman lebar yang tampak sangat terlatih. Ruangan apartemennya luas, minimalis, dan dipenuhi tanaman hias yang disiram oleh sistem irigasi otomatis. Tidak ada debu. Tidak ada kekacauan. Semuanya terlihat seperti render 3D yang sempurna.

“Silakan duduk,” kata Adrian, menunjuk sofa putih yang tampak terlalu bersih untuk diduduki. “Kamu mau minum? Ada teh organik, kopi single-origin, atau air berion?”

“Air putih aja, Adrian. Thanks,” jawab Nathan sambil menyiapkan peralatan rekamnya. Lensa kamera kecil itu menyala merah, tanda perekaman dimulai.


Wawancara berjalan lancar. Terlalu lancar. Adrian menjawab setiap pertanyaan dengan kalimat-kalimat yang puitis, inspiratif, dan penuh data. Ia berbicara tentang bagaimana teknologi menghubungkan manusia, tentang pentingnya komunitas digital, tentang kebahagiaannya bisa berbagi momen dengan jutaan orang setiap hari.

“Saya merasa sangat dicintai,” kata Adrian, matanya berbinar ke arah lensa. “Setiap pagi, saya bangun dan melihat ribuan pesan dukungan. Itu bahan bakar saya. Saya tidak pernah merasa sendiri karena saya selalu dikelilingi oleh suara-suara positif.”

Nathan mengangguk, mencatat nada bicara Adrian yang datar namun antusias. “Jadi, apakah ada momen di mana Anda merasa… cukup? Maksud saya, cukup dengan koneksi digital itu?”

Adrian tertawa renyah. “Cukup? Kenapa harus cukup kalau kita bisa memiliki lebih? Koneksi adalah oksigen, Nathaniel. Tanpa itu, kita mati.”


Perekaman berlangsung selama empat puluh lima menit. Saat lampu merah di kamera padam, suasana ruangan berubah drastis. Senyum Adrian lenyap. Bahunya yang tegak tiba-tiba merosot. Ia berjalan menuju jendela, membelakangi Nathan, dan menatap kota Zenith yang gemerlap di bawah sana.

“Boleh minta tolong matikan alat-alat itu sebentar?” tanya Adrian, suaranya tiba-tiba terdengar serak.

Nathan bingung, tapi ia mematikan kamera dan mikrofon. “Ada masalah, Adrian?”

Adrian tidak menoleh. Ia hanya memegang gelas airnya erat-erat. “Kamu tahu, Nat… tadi aku bilang aku dikelilingi suara-suara positif.”

Lihat selengkapnya