Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia

HaoYuen
Chapter #3

Wanita yang tidak bisa menangis

“Kamu bilang kamu sedih, tapi matamu kering. Apakah itu artinya rasa sakitmu sudah hilang, atau justru terjebak di suatu tempat yang tidak bisa kau jangkau?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Nathan, memecah keheningan ruang tamu yang terlalu rapi. Di hadapannya duduk Elena, seorang wanita berusia awal tiga puluhan dengan postur tubuh yang tegak sempurna. Rambutnya disisir rapi, pakaiannya tanpa kerut sedikit pun, dan wajahnya datar seperti permukaan danau yang membeku. Tidak ada kedipan berlebihan. Tidak ada gerakan tangan gelisah. Hanya keheningan yang pekat.


Elena menatap Nathan. Tatapannya tidak tajam, juga tidak lembut. Kosong. Seperti lensa kamera yang kehilangan fokus.

“Aku tidak tahu, Tuan Tan,” jawab Elena pelan. Suaranya stabil, tanpa getaran. “Secara logika, aku tahu ibu saya meninggal. Aku ingat tanggalnya. Aku ingat prosesi pemakamannya. Aku ingat semua orang yang datang dan mengucapkan belasungkawa. Tapi… di sini.” Ia menunjuk dadanya sendiri dengan jari telunjuk yang kaku. “Di sini rasanya hampa. Seperti ada lubang besar, tapi angin tidak masuk ke dalamnya. Dingin, ya. Tapi tidak menyakitkan.”


Nathan menggeser posisinya di sofa. Ia merasa tidak nyaman. Bukan karena Elena bersikap dingin, melainkan karena ketiadaan respons emosional yang seharusnya muncul secara alami ketika seseorang membahas kematian orang tua. Setelah kasus Adrian, Nathan menjadi lebih sensitif terhadap tanda-tanda ketidakwajaran dalam interaksi manusia. Dan Elena? Elena adalah anomali yang berjalan.

“Sudah berapa lama perasaan ini terjadi?” tanya Nathan, membuka catatan digitalnya, meski ia tahu alat itu tidak akan bisa menangkap nuansa kekosongan di ruangan ini.


“Tiga bulan,” jawab Elena. “Sejak hari pemakaman. Sebelum itu, aku biasa. Aku bisa menangis saat film sedih, marah saat macet, senang saat dapat promosi. Tapi setelah ibu pergi… saklar itu sepertinya putus.”


Nathan mengerutkan kening. “Apakah kamu pernah mencoba memaksanya? Menangis, maksudku..?”


Elena menggeleng pelan. “Aku sudah mencoba segala cara. Aku menonton film-film paling tragis. Aku mendengarkan lagu-lagu duka. Aku bahkan pergi ke pusat terapi emosi untuk menjalani stimulasi saraf. Dokter mengatakan fisikku sehat seratus persen. Hormon stresku normal. Aktivitas otakku menunjukkan pola yang efisien. Mereka bilang aku mungkin mengalami mekanisme pertahanan diri yang ekstrem. Bahwa otakku memutuskan untuk mematikan rasa sakit agar aku bisa terus berfungsi.”


“Fungsi,” ulang Nathan, mengecap kata itu dengan pahit. “Jadi menurut mereka, tidak menangis itu efisien?”


“Itu kesimpulan medis mereka,” kata Elena datar. “Mereka memberiku obat penstabil suasana hati. Katanya, jika aku tidak bisa merasakan kesedihan, setidaknya aku tidak boleh merasakan kegelisahan. Sekarang hidupku sangat tenang. Sangat produktif. Aku bekerja lebih cepat. Aku tidak lagi membuang waktu untuk merenung. Tapi…”

Elena berhenti. Untuk pertama kalinya, ada retakan kecil di topeng ketenangannya. Alisnya berkedut halus, seolah sedang berusaha mengakses memori yang terkunci.


“Tapi apa, Elena?” desak Nathan lembut.


“Tapi aku merasa seperti hantu,” bisiknya. “Aku melihat orang-orang menangis di jalanan. Dulu, aku bisa ikut merasakan beratnya tangisan mereka. Sekarang, aku hanya melihat air mata sebagai cairan biologis. Aku melihat ekspresi wajah sebagai kontraksi otot. Aku kehilangan kemampuan untuk terhubung dengan penderitaan orang lain. Dan yang paling menakutkan… aku mulai tidak peduli.”


Ruangan itu terasa semakin dingin. Nathan menelan ludah. Ia teringat pada Adrian, yang tenggelam dalam lautan perhatian palsu hingga mati kesepian. Dan sekarang Elena, yang tampaknya telah mencapai puncak ketenangan yang dijanjikan oleh sistem Kota Zenith, justru kehilangan inti dari kemanusiaannya.


“Apakah kamu merasa bersalah karena tidak bisa menangis?” tanya Nathan.


Elena memikirkan pertanyaan itu selama beberapa detik. “Bersalah adalah emosi, kan? Aku juga tidak terlalu merasakannya. Aku hanya tahu, secara sosial, ini dianggap salah. Ibu saya mencintai saya. Seharusnya saya berduka. Tapi fakta bahwa saya tahu seharusnya berduka, tidak membuat saya merasa berduka. Itu seperti membaca instruksi manual untuk mesin yang rusak. Saya tahu caranya memperbaiki, tapi saya tidak punya alatnya.”


Nathan menutup catatan digitalnya. Ia merasa frustasi. Kasus ini bukan sekadar psikologis. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih sistemik. Ia memandang Elena, wanita yang tampak sempurna secara fisik namun cacat secara spiritual.

“Boleh saya lihat kamar ibu Anda?” tanya Nathan tiba-tiba.


Elena menoleh, sedikit terkejut. “Kenapa?”

Lihat selengkapnya