Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia

HaoYuen
Chapter #4

Statistik yang Menghawatirkan

Hujan buatan di Kota Zenith telah berhenti, meninggalkan jalanan yang mengkilap dan udara yang berbau ozon sintetis. Namun, badai di dalam kepala Nathaniel Tan justru baru saja mencapai puncaknya. Ia tidak pulang ke apartemennya. Sebaliknya, ia menuju perpustakaan arsip digital pusat, sebuah bangunan tua yang sengaja dipertahankan sebagai "monumen sejarah" di tengah lautan gedung-gedung kaca futuristik. Di sini, data-data lama masih disimpan dalam format fisik dan server terisolasi, jauh dari jangkauan algoritma penyaring konten real-time yang menguasai jaringan publik.


Nathan duduk di depan terminal komputer kuno, jari-jarinya menari cepat di atas keyboard mekanik yang berbunyi klik-klok tajam. Suara itu terasa asing di telinganya yang sudah terbiasa dengan antarmuka sentuh yang hening. Ia memasukkan serangkaian kata kunci yang jarang dicari orang: gangguan afektif, penurunan empati kolektif, statistik kesehatan mental longitudinal, dan anomali respons emosional.

Layar menyala, menampilkan ribuan grafik dan tabel. Awalnya, Nathan hanya mencari pola acak. Tapi semakin dalam ia menggali, semakin jelas bentuk monster yang sedang ia hadapi.

Grafik pertama menunjukkan garis merah yang melonjak drastis. Itu adalah data kasus "Affective Blunting" atau tumpulnya afek, sebuah kondisi di mana seseorang kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi secara intens. Dua puluh tahun lalu, angkanya berada di bawah lima persen populasi. Sekarang? Hampir empat puluh persen warga Kota Zenith didiagnosis dengan tingkat keparahan ringan hingga berat.

"Gila," gumam Nathan, matanya melebar. "Ini bukan wabah virus. Ini erosi."

Ia membuka tab lain. Laporan sosiologis dari dekade sebelumnya menyebutkan bahwa tingkat kepercayaan antarwarga menurun seiring dengan meningkatnya penggunaan asisten virtual pribadi. Orang-orang lebih percaya pada prediksi AI daripada intuisi teman mereka. Kasus penipuan emosional naik, namun laporan korban turun drastis. Mengapa? Karena korban sering kali tidak menyadari bahwa mereka telah dimanipulasi. Mereka tidak merasa dikhianati karena mereka tidak lagi menganggap hubungan tersebut "nyata".

Yang paling mengerikan adalah temuan berikutnya: fenomena ini buta terhadap demografi. Tidak peduli apakah seseorang kaya atau miskin, muda atau tua, sehat atau sakit. Seorang CEO teknologi dan seorang pembersih jalan memiliki profil psikologis yang semakin mirip: datar, efisien, dan terisolasi. Status ekonomi tidak lagi menjadi pelindung dari kehampaan jiwa. Kemiskinan mungkin membuat tubuh lelah, tetapi kemewahan ternyata membuat jiwa mati rasa.


Nathan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang sudah usang. Ia merasa dingin, meski suhu ruangan diatur stabil. Jika ini terus berlanjut, apa yang akan tersisa dari manusia? Apakah kita akan menjadi spesies yang hanya berfungsi biologis, tanpa kedalaman spiritual atau emosional? Seperti Adrian yang mati dalam keramaian digital, atau Elena yang kehilangan air mata untuk ibunya.

"Kamu terlihat seperti orang yang baru saja menemukan bahwa langit sebenarnya berwarna abu-abu, bukan biru."

Suara itu datang dari belakang, tenang dan berwibawa. Nathan menoleh. Seorang wanita berdiri di sana, memegang tumpukan buku fisik yang tebal. Usianya sekitar lima puluhan, dengan rambut pendek beruban yang disisir rapi dan kacamata bingkai tebal yang memberikan kesan intelektual klasik. Matanya tajam, tapi ada kelembutan di sana, sesuatu yang langka ditemukan di Kota Zenith saat ini.


"Siapa Anda?" tanya Nathan, waspada.


"Dr. Maya Hartono," jawab wanita itu sambil tersenyum tipis. Ia meletakkan buku-bukunya di meja sebelah Nathan. "Saya melihat Anda mengakses arsip terlarang tentang psiko-sosiologi. Jarang ada orang muda yang tertarik pada data 'kotor' seperti itu. Kebanyakan lebih suka ringkasan instan dari asisten virtual mereka."


Nathan mengerutkan kening. "Anda tahu siapa saya?"


"Nathaniel Tan. Jurnalis dokumenter yang artikel terakhirnya tentang 'kesepian modern' memicu perdebatan kecil di forum elit minggu lalu. Tulisanmu bagus, Nak. Terlalu jujur untuk zaman ini."

Maya menarik kursi dan duduk di hadapan Nathan tanpa menunggu undangan. Gerakannya luwes, natural, berbeda dengan gerakan kaku kebanyakan warga kota.

"Apa yang Anda cari sebenarnya, Nathan?" tanya Maya langsung pada inti persoalan.


"Bukti," jawab Nathan tegas. "Bukti bahwa kita sedang sakit. Bukan sakit fisik, tapi sakit jiwa kolektif. Saya bertemu dengan orang-orang yang kehilangan kemampuan untuk menangis, untuk mendengarkan, untuk merasa. Dan data-data ini..." Ia menunjuk layar. "...menunjukkan bahwa ini sistematis. Bukan kebetulan."


Maya mengangguk perlahan. Ekspresinya menjadi serius. "Kamu benar. Ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari desain sosial yang tidak disadari oleh banyak orang, atau mungkin... direncanakan oleh segelintir pihak yang menganggap emosi sebagai inefisiensi."


"Direncanakan?" Nathan mencondongkan tubuhnya maju. "Maksud Anda ada konspirasi?"

Lihat selengkapnya