Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia

HaoYuen
Chapter #5

Proyek "Cerita Rumah Kita"

“Kamu yakin ingin mengambil tugas ini, Nathaniel?”

Pertanyaan itu datang dari Direktur Utama Media Zenith, seorang pria bernama Viktor yang selalu mengenakan jas abu-abu tanpa kerutan. Ia duduk di balik meja kaca transparan, menatap Nathan dengan ekspresi yang sulit dibaca. Di belakangnya, layar raksasa menampilkan logo proyek baru: sebuah ilustrasi rumah sederhana yang terbuat dari garis-garis cahaya, dengan tulisan Cerita Rumah Kita di bawahnya.

Nathan mengangguk pelan. “Saya pikir ini kesempatan baik, Pak. Setelah artikel tentang Adrian dan laporan investigasi saya tentang tren kesehatan mental, publik butuh narasi yang lebih… memanusiakan.”

Viktor tersenyum tipis, tapi senyuman itu tidak mencapai matanya. “Tepat. Dewan Kota menyadari adanya ‘ketidaknyamanan’ di masyarakat. Angka kepuasan hidup tinggi, tapi angka keterlibatan sosial rendah. Mereka menyebutnya paradoks kenyamanan. Proyek Cerita Rumah Kita adalah jawaban resmi pemerintah. Sebuah inisiatif nasional untuk mengingatkan warga tentang nilai-nilai kemanusiaan. Dan karena rekam jejakmu yang… let’s say, provokatif namun objektif, kami percaya kamu adalah wajah yang tepat.”

Nathan merasakan ada sesuatu yang ganjil dalam kata-kata Viktor. Jawaban resmi. Apakah ini benar-benar inisiatif tulus dari hati nurani pemerintah? Atau sekadar upaya meredam keresahan yang mulai muncul di permukaan, seperti yang diperingatkan Dr. Maya?

“Apa batasan editorialnya?” tanya Nathan langsung.

Viktor tertawa pendek. “Tidak ada batasan, Nathaniel. Itu poin utamanya. Kamu diberi kebebasan penuh. Pergi ke mana saja. Wawancara siapa saja. Rekam apa saja. Kami hanya meminta satu hal: temukan jawabannya. Apa yang membuat manusia tetap menjadi manusia? Jawabannya akan menjadi fondasi kebijakan sosial baru kita.”

Kebebasan penuh. Dalam dunia media Zenith yang serba terkontrol, kalimat itu terdengar seperti jebakan. Tapi Nathan tahu ia tidak bisa menolak. Ini adalah pintu masuk terbesar yang pernah ia miliki untuk menyelidiki akar masalah dari dalam sistem. Jika ia bisa mengarahkan narasi ini ke arah yang benar, mungkin ia bisa menyentuh lebih banyak orang daripada sekadar artikel opini.

“Saya terima,” kata Nathan tegas.

Minggu pertama proyek tersebut berjalan dengan cepat. Tim produksi memberikan Nathan akses tak terbatas ke seluruh wilayah Kota Zenith, dari Distrik Atas yang mewah hingga Zona Pinggiran yang jarang tersentuh kamera utama. Kendaraan transportasi disediakan, kru teknis siap siaga, dan dana tidak terbatas.

Namun, Nathan memilih untuk bekerja sendiri. Hanya dia dan kameranya. Tidak ada kru yang akan mengganggu keintiman momen. Tidak ada sutradara yang akan mengatur sudut pandang. Ia ingin cerita itu mengalir alami, kasar, dan jujur.

Hari pertama, ia pergi ke sebuah pasar tradisional kecil di Zona Pinggiran. Pasar ini adalah salah satu dari sedikit tempat di mana transaksi masih dilakukan secara tatap muka, meski pembayaran tetap digital. Di sana, ia bertemu Pak Budi, seorang penjual sayur tua yang wajahnya penuh keriput dan tangannya kasar karena tanah.

“Kenapa Bapak masih jualan di sini?” tanya Nathan sambil merekam. “Padahal ada layanan pengiriman otomatis yang bisa membawa sayuran segar langsung ke pintu rumah dalam lima menit.”

Pak Budi tertawa, suaranya serak tapi hangat. “Karena di sini saya bisa lihat mata pembeli, Nak. Saya bisa tahu kalau Bu Siti sedang hamil dan butuh bayam lebih banyak. Saya bisa bercanda dengan Pak RT soal tim sepak bola kampung. Kalau lewat aplikasi, saya cuma jadi nomor pesanan. Di sini, saya jadi Pak Budi. Manusia.”

Lihat selengkapnya