Hujan buatan malam itu turun lebih deras dari biasanya. Tetesan air menghantam atap seng rumah tua di pinggiran Kota Zenith dengan ritme yang hampir seperti musik perkusi. Nathaniel Tan berdiri di ambang pintu, tangannya gemetar sedikit saat memegang kunci besi yang sudah berkarat.
Rumah ini telah kosong selama lima tahun. Sejak ayahnya pindah ke panti jompo modern di Distrik Utara, Nathan tidak pernah kembali. Ia terlalu sibuk mengejar deadline, terlalu sibuk membangun reputasi, terlalu sibuk menjadi "Nathan si Jurnalis Objektif" hingga lupa bahwa ia juga seorang anak.
Kunci berputar dengan suara klik berat. Pintu terbuka, menyambutnya dengan hawa lembap dan aroma debu yang khas. Lampu otomatis tidak menyala karena sistem listrik di wilayah ini sudah dimatikan demi efisiensi energi. Nathan menyalakan senter dari ponselnya. Cahaya putih itu menyapu ruang tamu yang sempit. Sofa usang masih di tempatnya, dilapisi sarung plastik kuning yang kini menguning karena usia. Meja kayu jati dengan goresan-goresan kecil bekas mainan masa kecilnya masih berdiri kokoh.
Nathan melangkah pelan. Setiap langkahnya membangkitkan memori yang ia kubur dalam-dalam. Di sudut ruangan, ia melihat tumpukan kardus yang belum sempat dibersihkan sepenuhnya oleh layanan pindahan dulu. Ia mendekat, lututnya berdecit saat berjongkok.
Di atas tumpukan itu, terdapat sebuah kotak sepatu karton berwarna biru pudar. Tulisan "Kenangan" tertulis miring di tutupnya dengan spidol hitam yang sudah memudar.
Jantung Nathan berdebar kencang. Ia membuka kotak itu perlahan.
Isinya adalah waktu.
Foto-foto cetak fisik, bukan file digital. Kertas foto yang mulai menguning di tepinya, permukaannya sedikit bergelombang karena kelembapan. Nathan mengambil satu per satu. Foto dirinya saat ulang tahun kelima, dengan kue cokelat yang hancur di wajahnya. Foto liburan ke pantai buatan, di mana ia sedang membangun istana pasir yang ambruk. Foto wisuda SMA, di mana ayahnya tersenyum bangga meski matanya lelah.
Lalu, ada satu foto yang membuat napas Nathan tertahan.
Foto itu diambil di halaman belakang rumah ini. Rumputnya masih hijau, belum digantikan oleh paving block seperti sekarang. Nathan kecil, mungkin berusia tujuh tahun, duduk di pangkuan ibunya. Ayahnya berdiri di samping mereka, tangan besarnya menempel di bahu Nathan kecil. Mereka semua tersenyum. Bukan senyum pose untuk media sosial, tapi senyum yang mencapai mata. Senyum yang lepas. Senyum orang-orang yang tidak memikirkan efisiensi, melainkan kebahagiaan sesaat.
Nathan membalik foto itu. Di bagian belakang, terdapat tulisan tangan ibunya. Huruf-hurufnya rapi, bulat, dan penuh kasih sayang.
"Rumah bukan tempat kita tinggal. Rumah adalah tempat kita merasa tidak sendirian."
Kalimat itu menghantam dada Nathan lebih keras daripada angin malam di luar. Air matanya tiba-tiba naik, menggenangi pelupuk matanya. Ia tidak menahannya. Ia membiarkan tetesan pertama jatuh ke atas kertas foto, menciptakan noda kecil yang akan abadi.
Selama bertahun-tahun, Nathan mengira kesuksesannya diukur dari jumlah penonton dokumenternya, dari pengakuan rekan-rekan seprofesi, dari apartemen mewahnya di pusat kota. Ia mengira "rumah" adalah alamat di kartu identitas. Tapi kata-kata ibunya mengingatkan pada kebenaran yang ia lupakan: rumah adalah perasaan. Perasaan aman. Perasaan diterima. Perasaan bahwa ada seseorang yang akan mendengarkanmu bahkan ketika kamu tidak memiliki apa-apa untuk ditawarkan.
Dan ia telah meninggalkan perasaan itu. Ia telah memilih kesendirian yang efisien daripada kebersamaan yang berantakan.
Ponselnya bergetar di saku. Notifikasi dari Aria: "Pengingat: Keberangkatan proyek 'Cerita Rumah Kita' besok pukul 06.00 pagi. Pastikan baterai perangkat terisi penuh."
Nathan menatap notifikasi itu, lalu menatap foto di tangannya. Untuk pertama kalinya, ia mematikan notifikasi tersebut tanpa membacanya lebih lanjut. Ia tidak butuh pengingat dari mesin. Ia butuh pengingat dari hatinya.