Kota kecil itu bernama Lembah Senja. Namanya puitis, terdengar seperti tempat di mana waktu berjalan lebih lambat dan matahari selalu bersinar hangat. Namun bagi Nathaniel Tan, yang baru saja turun dari kereta otomatis di stasiun terpencil itu, suasana "tenang" yang disuguhkan terasa mencekam.
Jalanan di sini bersih tanpa cela. Rumput di halaman-halaman rumah dipotong dengan presisi milimeter oleh robot pemotong rumput otonom. Tidak ada suara anak-anak berlarian. Tidak ada aroma masakan yang mengepul dari cerobong asap. Hanya ada dengungan halus mesin-mesin yang bekerja tanpa henti, menjaga keteraturan semu.
Nathan membawa tas ranselnya, melangkah menuju alamat yang diberikan oleh koordinator proyek. Rumah Madeline Tan—iya, mereka memiliki nama belakang yang sama, meski tidak ada hubungan darah—berdiri megah di ujung jalan buntu. Sebuah bangunan bergaya klasik dengan pilar-pilar putih tinggi dan taman yang luas. Secara visual, ini adalah definisi kemewahan dan ketenangan.
Nathan menekan bel pintu. Tidak ada jawaban. Ia menunggu beberapa saat, lalu mencoba mengetuk pintu kayu jati yang kokoh itu.
"Pintunya tidak dikunci, Nak. Masuk saja."
Suara itu datang dari dalam, lemah namun jelas. Nathan mendorong pintu. Ruang tamu yang luas terbentang di hadapannya. Lantai marmer mengkilap memantulkan cahaya lampu kristal yang redup. Di sudut ruangan, di atas kursi roda elektrik yang tampak sangat canggih, duduk seorang wanita tua. Rambutnya putih perak, disanggul rapi. Wajahnya penuh keriput, tapi matanya masih tajam, menatap Nathan dengan rasa ingin tahu yang lembut.
"Anda pasti Nathaniel," kata wanita itu. "Saya Madeline. Maaf saya tidak bisa berdiri menyambut Anda. Kaki saya sudah lama menyerah pada gravitasi."
Nathan tersenyum tipis, meletakkan tasnya. "Senang bertemu Anda, Bu Madeline. Terima kasih telah bersedia diwawancarai."
Madeline menggerakkan joystick kursinya, berputar perlahan menghadap Nathan. "Silakan duduk. Jangan kaku. Di sini tidak ada kamera pengawas yang akan menilai postur tubuhmu. Hanya aku, dan kesepianku yang sudah menjadi teman lama."
Kalimat itu diucapkan dengan nada bercanda, tapi ada duri halus di dalamnya yang membuat dada Nathan sesak. Ia mengambil kursi di hadapan Madeline, menyiapkan kameranya, tapi kali ini ia menyalakannya dengan hati-hati, seolah menghormati ruang suci tersebut.
"Ceritakan tentang rumah ini, Bu," mulai Nathan. "Ini rumah yang sangat indah."
Madeline tertawa kecil, suara yang kering seperti daun gugur. "Indah? Ya, secara arsitektur, mungkin. Dinding-dinding ini tebal, kedap suara, dan terlindungi dari polusi. Atapnya dilengkapi panel surya efisiensi tinggi. Dapur memiliki lengan robotik yang bisa memasak resep apa pun dari seluruh dunia. Kamar mandinya memiliki sistem spa otomatis."
Ia berhenti sejenak, matanya menyapu ruangan kosong di sekitarnya.
"Tapi tahukah kamu, Nak? Rumah ini terlalu besar untuk satu orang. Setiap langkah kakiku—atau roda kursiku—terdengar begitu nyaring. Klik. Klik. Klik. Gema itu mengingatkanku bahwa tidak ada telinga lain yang mendengarnya selain dinding."
Nathan mencatat setiap kata, tapi matanya tidak lepas dari wajah Madeline. "Anak-anak Ibu... mereka tinggal jauh?"
"Ah, anak-anakku," ucap Madeline, wajahnya melunak. "Mereka anak-anak baik. Sangat sukses. Anak sulungku, David, adalah insinyur di Kota Zenith Pusat. Putri tengahku, Sarah, dokter spesialis di Distrik Utara. Dan si bungsu, Michael, pengusaha teknologi di wilayah Timur. Mereka sibuk. Sangat sibuk membangun masa depan."