Apartemen unit 402 di Menara Horizon terasa seperti ruang tunggu bandara yang mewah. Dingin, steril, dan sunyi. Nathan duduk di sudut ruang tamu, kameranya sudah menyala, merekam suasana hampa yang justru lebih bising daripada keramaian pasar tradisional yang ia kunjungi minggu lalu.
Di hadapannya, Daniel, seorang arsitek sistem data berusia empat puluh tahun, sedang mengetik dengan kecepatan tinggi pada keyboard hologram yang melayang di udara. Matanya tidak pernah lepas dari aliran kode biru yang berputar-putar. Di sebelahnya, Ethan, seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun dengan rambut acak-acakan, duduk di karpet dengan sebuah buku gambar di pangkuannya.
“Pak,” panggil Ethan pelan. Suaranya kecil, hampir tertelan oleh dengungan pendingin ruangan server mini di sudut kamar.
Daniel tidak menoleh. Jemarinya terus menari di udara. “Sebentar, Ethan. Bapak lagi deadline. Sistem ini harus selesai sebelum tengah malam.”
Ethan menghela napas, bahunya merosot. Ia menatap Nathan, lalu kembali menunduk pada bukunya. Ia mengambil pensil warna merah, lalu menggoreskannya dengan kuat di atas kertas.
Nathan merasa gelisah. Ia ingin menghentikan perekaman, ingin menyuruh Daniel untuk berhenti bekerja sejenak. Tapi ia tahu, intervensi langsung akan merusak keaslian momen ini. Ini adalah realitas yang harus ia tangkap, sepahit apa pun rasanya.
Sepuluh menit berlalu. Lalu dua puluh. Daniel akhirnya menyelesaikan satu modul kode. Ia menggosok matanya, lalu menoleh sekilas ke arah Ethan.
“Sudah makan?” tanya Daniel, suaranya datar, tanpa nada bertanya yang hangat. Hanya sekadar verifikasi status.
“Sudah, Pak. Robot dapur masakkan nasi goreng,” jawab Ethan.
“Bagus. Jangan lupa minum susu. Oke?” Daniel sudah kembali menatap layarnya.
“Pak…” Ethan mencoba lagi. Kali ini ia mengangkat gambarnya. “Lihat, Pak. Aku baru selesai menggambar.”
Daniel melirik sekilas, tanpa benar-benar fokus. “Wah, bagus. Nanti ya, Nak. Bapak lihat setelah ini selesai.”
Nanti.
Kata itu terdengar seperti mantra kutukan. Kata penunda yang tak berujung. Kata yang membangun tembok tebal di antara ayah dan anak.
Nathan merasakan sakit di dadanya. Ia teringat pada dirinya sendiri saat masih kecil, menunggu ayahnya pulang dari lembur, hanya untuk ditidurkan sebelum ayahnya sempat mengucapkan selamat malam. Siklus itu berulang. Generasi berganti, teknologi berubah, tapi pola pengabaian emosional tetap sama. Bahkan, kini diperparah oleh ilusi bahwa "bekerja dari rumah" berarti "hadir di rumah".
Malam semakin larut. Daniel akhirnya menutup proyeknya. Ia berdiri, meregangkan punggungnya yang kaku.