Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia

HaoYuen
Chapter #9

Senyum yang di Pinjam

“Senyum itu bukan ekspresi, Nathan. Itu adalah alat.”

Kalimat itu meluncur dingin dari bibir Adrian Wijaya, pria yang wajahnya menghiasi hampir setiap billboard digital di Kota Zenith. Mereka berada di ruang tengah apartemen penthouse Adrian, sebuah ruangan dengan dinding kaca yang menawarkan pemandangan kota 360 derajat. Di sini, langit terlihat lebih dekat, tapi manusia terasa lebih jauh.

Adrian duduk di sofa kulit putih, posturnya sempurna. Rambutnya ditata rapi, kulitnya bersinar tanpa cela berkat perawatan laser rutin. Di hadapannya, sebuah panel kontrol hologram melayang, menampilkan grafik analitik real-time: Engagement Rate, Sentiment Analysis, dan Optimal Posting Time.

Nathan menatapnya. Ini bukan Adrian yang ia kenal dari layar. Ini adalah versi yang lebih hampa, lebih mekanis.

“Maksudmu alat?” tanya Nathan, kameranya sudah mati. Ia memutuskan untuk tidak merekam momen ini. Ada sesuatu dalam tatapan Adrian yang meminta privasi, bukan publikasi.

Adrian menggeser jarinya di udara, mengubah grafik menjadi wajah-wajah emoji. “Lihat ini. Algoritma saya, ‘Aura’, menganalisis jutaan data pengikut. Jika saya posting foto sedang tertawa lebar pada jam tujuh malam, engagement naik 15%. Jika saya posting foto dengan ekspresi serius dan filter monokrom pada pagi hari, komentar ‘inspiratif’ meningkat 20%. Jadi, saya tidak memilih kapan harus tersenyum. Aura yang memilih. Saya hanya eksekutor.”

Nathan merasa merinding. “Jadi kamu tidak pernah bahagia saat memposting itu?”

Adrian terkekeh, tapi tawanya tidak mencapai mata. Matanya tetap datar, seperti lensa kamera yang belum difokuskan. “Bahagia? Apa itu bahagia, Nathan? Apakah bahagia itu ketika dopamin otak meningkat karena notifikasi masuk? Atau apakah bahagia itu ketika kamu merasa dimengerti oleh seseorang yang bahkan tidak tahu nama aslimu?”

Adrian berdiri, berjalan menuju jendela. Punggungnya terlihat tegap, tapi bahunya tampak berat menanggung beban tak terlihat.

“Dua puluh juta orang mengikuti saya,” lanjut Adrian, suaranya rendah. “Mereka tahu warna favorit saya (biru laut, menurut profil bio). Mereka tahu makanan favorit saya (sushi omakase, berdasarkan vlog bulan lalu). Mereka tahu jadwal olahraga saya. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa saya alergi terhadap stroberi. Tidak ada yang tahu bahwa saya takut pada gelap sejak kecil. Tidak ada yang tahu bahwa saya sering menangis di kamar mandi karena merasa kosong.”

Ia berbalik, menatap Nathan dengan intensitas yang menakutkan.

“Mereka mengenal ‘Adrian Wijaya’, sang influencer. Tapi mereka tidak mengenal Adrian, manusia yang bernapas, yang ragu, yang sakit. Saya adalah produk. Dan produk yang baik tidak boleh memiliki cacat emosional yang tidak terkontrol.”

Nathan menelan ludah. Ia teringat pada Elena, wanita yang kehilangan air matanya. Adrian adalah kebalikannya: ia masih bisa menangis, tapi tangisannya adalah rahasia industri yang harus disembunyikan agar nilai pasarnya tidak turun.

“Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar bahagia, Adrian?” tanya Nathan. Pertanyaan itu sederhana, tapi bobotnya luar biasa.

Adrian membuka mulutnya, siap menjawab dengan kalimat klise tentang kesuksesan atau pencapaian. Tapi kata-kata itu macet di tenggorokannya. Matanya berkedip cepat. Jari-jarinya gemetar halus.

Dia mencari di memori otaknya. Mencari momen di mana hatinya berdetak kencang bukan karena kafein atau adrenalin kerja, tapi karena kedamaian. Mencari momen di mana dia tidak perlu memeriksa jumlah likes.

Lihat selengkapnya