Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia

HaoYuen
Chapter #10

Kota Tanpa Sapaan

Jika Kota Zenith adalah wajah modernitas yang masih mencoba mempertahankan sisa-sisa kehangatan manusia, maka Aethelgard adalah masa depan yang telah selesai berevolusi. Di sini, efisiensi bukan lagi tujuan; ia adalah hukum alam.

Nathan turun dari kereta maglev yang meluncur tanpa suara. Tidak ada petugas stasiun yang menyambutnya. Tidak ada papan pengumuman yang berkedip-kedip memberikan instruksi. Hanya sebuah lorong kaca panjang yang membimbing langkah kakinya secara otomatis melalui perubahan tekanan udara halus di lantai. Ia hanya perlu berjalan; sistem akan tahu ke mana ia harus pergi.

Udara di Aethelgard terasa berbeda. Lebih bersih. Lebih dingin. Terlalu sempurna hingga terasa steril, seperti ruang operasi raksasa yang terbuka untuk langit.

Nathan berjalan menyusuri jalan utama. Jalanan ini lebar, mulus, dan bebas dari kendaraan pribadi. Transportasi dilakukan oleh kapsul-kapsul transparan yang melayang di jalur magnetik di atas kepala, bergerak dalam sinkronisasi matematis yang memukau. Tidak ada kemacetan. Tidak ada klakson. Tidak ada teriakan sopir yang marah.

Hening.

Itu hal pertama yang menghantam Nathan. Bukan hening karena sepi, tapi hening karena ketiadaan interaksi sosial. Ratusan orang berjalan di trotoar lebar tersebut. Mereka berpakaian rapi, wajah-wajah mereka tenang, langkah mereka teratur. Tapi tidak ada satu pun yang menoleh ke kiri atau ke kanan. Tidak ada senyuman sapaan pada orang asing. Tidak ada obrolan ringan tentang cuaca. Mata mereka tertuju pada lensa kontak augmented reality mereka, atau mereka mendengarkan bisikan langsung ke saraf pendengaran mereka melalui implan neural.

Mereka berada di tempat yang sama, tapi hidup di dimensi yang berbeda.

Nathan merasa seperti hantu di tengah kerumunan robot biologis. Ia mencoba tersenyum pada seorang wanita yang lewat di sebelahnya. Wanita itu tidak merespons. Matanya bahkan tidak berkedip. Ia terus melangkah, tubuhnya menghindari Nathan dengan presisi milimeter berkat sensor gerak di pakaiannya, tanpa perlu kontak mata atau kesadaran sosial.

“Selamat pagi,” coba Nathan lagi, kali ini lebih keras, pada seorang pria muda yang sedang menunggu kapsul transportasi.

Pria itu menoleh perlahan, ekspresinya datar, seolah baru saja diganggu dari meditasi mendalam. “Ada masalah dengan navigasi Anda, Tuan?” tanyanya. Suaranya datar, tanpa nada ramah maupun kasar. Murni fungsional.

“Tidak,” jawab Nathan. “Saya cuma… menyapa.”

Pria itu mengernyit, sedikit bingung, seolah konsep menyapa tanpa tujuan adalah bug dalam logika sosialnya. “Sapaan tidak diperlukan jika tidak ada transaksi informasi atau barang. Sistem sudah memastikan kita semua sampai ke tujuan dengan aman. Menyapa hanya menambah variabel waktu yang tidak efisien.”

Sebelum Nathan bisa menjawab, pria itu sudah masuk ke dalam kapsul yang datang tepat waktu. Pintu tertutup. Kapsul meluncur pergi. Nathan ditinggalkan berdiri sendirian di trotoar yang sempurna.

Ia melanjutkan perjalanannya, perasaan tidak nyaman semakin menebal di dadanya. Ia memasuki sebuah plaza publik yang luas. Di tengahnya ada air mancur holografik yang menari mengikuti irama musik ambient yang hampir tak terdengar. Orang-orang duduk di bangku-bangku ergonomis, masing-masing tenggelam dalam dunia digital mereka sendiri.

Tiba-tiba, sebuah kejadian memecah keheningan itu.

Seorang pria tua, mungkin turis yang belum sepenuhnya beradaptasi dengan sistem Aethelgard, tersandung kaki sendiri saat berjalan. Ia jatuh cukup keras, lututnya membentur paving block, dan tas belanjaannya tercecer. Buah-buahan segar menggelinding ke segala arah.

Nathan refleks melangkah maju, ingin membantu pria itu berdiri.

Tapi sebelum ia sempat mengambil dua langkah, sesuatu yang lebih cepat terjadi.

Lihat selengkapnya