Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia

HaoYuen
Chapter #11

Ketika Tetangga Menjadi Orang Asing

Gedung Apartemen Vertika adalah monumen dari kesendirian yang terstruktur.

Berdiri setinggi seratus lantai, bangunan ini dikenal sebagai hunian paling aman di Kota Zenith. Setiap unit dilengkapi dengan sensor biometrik, detektor jatuh, pemantau detak jantung, dan sistem notifikasi darurat yang terhubung langsung ke pusat layanan medis. Secara teknis, mustahil bagi seorang penghuni untuk meninggal tanpa diketahui oleh sistem.

Namun, Samuel meninggal.

Dan yang lebih mengerikan: sistem tahu dia meninggal, tapi tidak ada orang yang tahu.

Nathan berdiri di depan pintu unit 502, tempat jenazah Samuel ditemukan tiga hari setelah kematiannya. Polisi sudah membersihkan lokasi, meninggalkan hanya garis putih tipis di lantai yang menandai posisi tubuh itu sebelumnya. Udara di dalam apartemen masih berbau disinfektan kimia yang tajam, mencoba menghapus jejak biologis terakhir dari seorang manusia.

“Sistem mencatat penurunan aktivitas vital pada hari Selasa pukul 14.00,” lapor petugas keamanan gedung, seorang pria muda yang tampak bosan sambil memegang tablet. “Notifikasi otomatis dikirim ke kerabat darurat. Tapi ternyata, Samuel tidak memiliki kerabat yang terdaftar. Jadi, protokol standar berjalan: tim pembersihan dipanggil setelah 72 jam tidak ada respons gerak. Efisien, kan?”

Nathan menatap petugas itu dengan tatapan dingin. “Efisien? Seorang manusia mati sendirian selama tiga hari, dan Anda menyebutnya efisien?”

Petugas itu mengangkat bahu, wajahnya tanpa ekspresi bersalah. “Kami melakukan sesuai prosedur, Tuan Tan. Kami tidak bisa memaksa orang untuk menjadi teman seseorang.”

Nathan menghela napas panjang, rasa muak mengganjal di tenggorokannya. Ia memasuki apartemen Samuel. Ruangan itu kecil, rapi, dan hampa. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada souvenir perjalanan. Hanya rak buku yang penuh dengan novel-novel fiksi lama dan sebuah meja kerja dengan komputer yang masih menyala, menampilkan layar saver berupa pemandangan hutan digital yang bergerak lambat.

Di sudut ruangan, terdapat sebuah kamera web sederhana yang terhubung ke server pribadi Samuel. Nathan meminta izin akses data dari penyidik, dan ia diberikan salinan rekaman terakhir.

Ia duduk di kursi Samuel, menghubungkan perangkatnya, dan menekan tombol play.

Layar menyala. Wajah Samuel muncul. Pria paruh baya dengan kacamata tebal, rambut yang mulai menipis, dan mata yang lelah. Ia tidak sedang merekam vlog. Ia tidak sedang menjual produk. Ia hanya duduk, menatap lensa, seolah berbicara pada teman imajiner yang mungkin tidak pernah ada.

Suara Samuel terdengar jelas, gemetar, namun tenang.

“Hari ini adalah hari ke-1.204 aku tinggal di sini,” ucap Samuel pelan. “Aku punya 42 tetangga di lantai ini. Aku pernah melihat wajah mereka di lift. Aku pernah mendengar suara langkah kaki mereka di lorong. Tapi aku tidak tahu nama mereka. Mereka juga tidak tahu namaku.”

Samuel berhenti sejenak, menelan ludah. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahan air matanya.

“Kemarin, aku terjatuh di kamar mandi. Aku terbentur cukup keras. Sistem mendeteksi itu. Lampu darurat berkedip. Tapi tidak ada yang datang mengetuk pintu. Tidak ada yang bertanya, ‘Samuel, apakah kamu baik-baik saja?’ Karena bagi mereka, aku bukan Samuel. Aku hanya Unit 502. Sebuah angka. Sebuah status hijau di dashboard keamanan.”

Nathan merasakan dadanya sesak. Ia membayangkan dirinya di apartemennya sendiri. Apakah tetangganya tahu namanya? Apakah mereka akan peduli jika ia tidak keluar kamar selama tiga hari? Jawabannya mungkin sama: tidak.

Lihat selengkapnya