Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia

HaoYuen
Chapter #13

Kilinik di Ujung Kota

Kawasan itu bernama Distrik Bawah. Jika Kota Zenith adalah wajah masa depan yang bersinar, maka Distrik Bawah adalah bayangannya yang terlupakan. Di sini, jalanan beraspal kasar dan retak. Lampu jalan sering mati, menyisakan sudut-sudut gelap yang hanya diterangi oleh cahaya remang dari warung-warung kecil. Tidak ada drone pengantar paket. Tidak ada pembersih jalan otomatis. Hanya ada manusia, dengan segala kekacauan, kebisingan, dan kehangatan mereka.

Nathan berjalan menyusuri gang sempit, menghindari genangan air hujan yang belum surut. Ia merasa asing di tempat ini. Setelah terbiasa dengan sterilitas Aethelgard dan kemewahan Distrik Atas, kekacauan Distrik Bawah terasa seperti tamparan keras. Tapi anehnya, dada Nathan terasa lebih lega. Di sini, udara tidak berbau ozon buatan. Ia berbau tanah basah, gorengan bawang, dan keringat manusia. Bau kehidupan yang nyata.

Di ujung gang buntu, berdiri sebuah bangunan tua berdinding bata merah yang catnya sudah mengelupas. Papan kayu sederhana tergantung di atas pintu, bertuliskan dengan spidol hitam: Klinik Sehat Bersama – Dr. Armand Lee.

Tidak ada logo perusahaan medis raksasa. Tidak ada mesin pendaftaran otomatis. Hanya sebuah meja kayu tua di mana seorang perawat paruh baya sedang mencatat nama pasien di buku tulis biasa.

Nathan mendorong pintu masuk. Bunyi lonceng kecil berbunyi ting-ting, menandakan kedatangan tamu. Ruangan dalamnya sederhana. Beberapa kursi plastik berjejer di dinding. Bau antiseptik bercampur dengan aroma kopi tubruk yang baru diseduh.

Di balik meja pemeriksaan, seorang pria berusia hampir enam puluh tahun sedang memeriksa tekanan darah seorang ibu tua. Ia mengenakan jas putih yang sudah agak kusam, stetoskop melingkar di lehernya. Wajahnya keriput, tapi matanya bersinar hangat. Itu Dr. Armand Lee.

Yang membuat Nathan tercengang bukan fasilitasnya, melainkan caranya bekerja. Tidak ada layar hologram yang memindai tubuh pasien. Tidak ada AI yang mendiagnosis dalam hitungan detik. Dr. Armand menggunakan stetoskop manual. Ia meraba perut pasien dengan tangannya sendiri. Ia bertanya dengan suara lembut, mendengarkan jawaban pasien dengan penuh perhatian, lalu mencatat hasilnya dengan pulpen di kertas rekam medis.

Prosesnya lambat. Sangat tidak efisien dibandingkan standar rumah sakit modern. Tapi ada sesuatu yang intim dalam setiap gerakannya.

Setelah ibu tua itu pergi dengan senyuman lega, Dr. Armand menoleh ke arah Nathan.

“Anda pasti Nathaniel Tan,” kata Dr. Armand, suaranya berat namun ramah. “Saya sudah membaca artikel Anda tentang ‘kesepian modern’. Tulisan yang bagus. Sedikit terlalu pesimis, tapi jujur.”

Nathan terkejut. “Anda mengenal saya?”

“Di kota kecil seperti ini, kabar menyebar lewat mulut, bukan algoritma,” jawab Armand sambil tertawa kecil. Ia menunjuk kursi di hadapannya. “Silakan duduk. Mau kopi? Ini kopi asli, bukan bubuk sintetis.”

Nathan mengangguk, mengambil kamera dari tasnya, tapi kali ini ia menyalakannya dengan rasa hormat. “Terima kasih, Dok. Saya ingin bertanya… mengapa Anda masih melakukan semua ini secara manual? Teknologi medis sekarang bisa mendeteksi penyakit lebih cepat, lebih akurat, dan tanpa kontak fisik. Mengapa Anda menolak efisiensi itu?”

Dr. Armand menuangkan kopi ke dalam gelas keramik pecah yang masih layak pakai. Ia menyerahkannya pada Nathan, lalu duduk di kursinya.

“Efisiensi,” gumam Armand, mengecap kata itu seolah rasanya pahit. “Kamu tahu, Nak, mesin bisa mengenali penyakit seseorang. Mesin bisa melihat tumor sekecil biji jagung. Mesin bisa menghitung detak jantung dengan presisi nanodetik. Tapi mesin belum tentu tahu kapan seseorang sedang takut.”

Nathan menatapnya, alisnya berkerut. “Takut?”

Lihat selengkapnya