Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia

HaoYuen
Chapter #14

Dapur untuk Orang Asing

Hujan gerimis menyelimuti jalanan sempit di pinggiran Distrik Bawah, menciptakan genangan air kecil yang memantulkan cahaya lampu jalan yang kuning dan redup. Nathan mengikuti Evelyn, seorang wanita paruh baya dengan celemek kotor namun mata yang berbinar cerah, menuju sebuah bangunan tua yang atapnya terbuat dari seng berkarat.

Dari luar, bangunan itu tampak seperti gudang bekas yang terlupakan. Namun, begitu pintu kayu berat didorong terbuka, aroma hangat langsung menyambut mereka. Aroma bawang goreng, rempah-rempah, nasi yang baru matang, dan kaldu ayam yang mendidih. Suara tawa, denting panci, dan obrolan ramai memenuhi udara, menggantikan keheningan mencekam yang biasa Nathan temui di gedung-gedung pencakar langit.

Ini adalah "Dapur Berbagi", sebuah inisiatif komunitas yang tidak terdaftar di database pemerintah mana pun. Tidak ada logo perusahaan sponsor. Tidak ada plakat penghargaan. Hanya sebuah papan tulis kapur di dinding yang bertuliskan menu hari ini: Nasi Goreng Kampung, Sayur Asem, dan Teh Hangat.

“Selamat datang di rumah kedua kami,” sapa Evelyn sambil mengikat tali celemeknya lebih kencang. Ia menunjuk ke arah dapur besar di tengah ruangan. “Malam ini kita punya lima puluh porsi. Tapi mungkin akan datang enam puluh orang. Jadi, kita harus cepat tapi tetap teliti.”

Nathan melihat sekeliling. Puluhan orang sedang sibuk. Ada mahasiswa yang baru pulang kuliah masih mengenakan jaket kampusnya. Ada ibu rumah tangga yang meninggalkan anak-anaknya sebentar di tetangga sebelah. Ada pensiunan pegawai negeri yang tangannya gemetar saat mengupas kentang, tapi senyumnya lebar. Mereka bekerja berdampingan tanpa hierarki. Tanpa supervisor AI yang menghitung efisiensi gerakan mereka.

Mereka hanya bekerja karena mereka ingin.

Nathan mengambil kameranya, tapi rasanya aneh. Di sini, lensa kamera terasa seperti intrusi. Ia merasa seperti spy yang mencoba mencuri momen suci. Namun, ia tahu ia harus merekam ini. Bukan untuk sensasi, tapi sebagai bukti.

Ia mendekati Evelyn yang sedang mengaduk kuali besar berisi sayur asem. Uap panas mengepul di wajahnya, membuat keringat menetes di pelipisnya.

“Nyonya Evelyn,” panggil Nathan, suaranya hampir tenggelam oleh kebisingan dapur.

Evelyn menoleh, menyeka dahinya dengan lengan baju. “Ya, Nak?”

“Saya perhatikan… anda bahkan tidak mengenal sebagian besar orang yang datang ke sini malam-malam begini. Kamu tidak tahu nama mereka, pekerjaan mereka, atau latar belakang mereka. Lalu, mengapa anda repot-repot memasak untuk mereka? Mengapa anda menghabiskan waktu luang setelah seharian bekerja?”

Pertanyaan itu terdengar naif di telinga Nathan sendiri. Dalam logika Kota Zenith, tindakan tanpa imbalan jelas adalah anomali. Tindakan tanpa data target adalah pemborosan sumber daya.

Evelyn berhenti mengaduk. Ia menatap Nathan dengan tatapan yang tajam namun penuh kasih sayang. Ia meletakkan sendok kayunya, lalu membersihkan tangannya di celemek.

“Memangnya kita harus mengenal seseorang dulu supaya peduli?” tanya Evelyn balik. Suaranya tenang, tapi menghantam dada Nathan lebih keras daripada argumen Dr. Maya atau Dr. Armand.

Lihat selengkapnya