Pagi itu, udara di pinggiran Kota Zenith terasa berbeda. Setelah semalaman tenggelam dalam kehangatan Dapur Berbagi, Nathan bangun dengan perasaan yang asing namun nyaman. Beban di dadanya tidak hilang sepenuhnya, tetapi rasanya tidak lagi menekan. Ia seperti seseorang yang baru saja belajar bernapas kembali setelah lama menahan napas di dalam air.
Ia tidak kembali ke kantornya. Sebagai gantinya, ia mengikuti sebuah petunjuk kecil dari salah satu relawan dapur semalam. Petunjuk itu mengarah pada sebuah rumah tua di ujung jalan yang bahkan tidak terdaftar dalam sistem navigasi kota. Di era di mana setiap bangunan memiliki kode QR dan koordinat digital, rumah ini hanya dikenal oleh orang-orang yang memang sengaja mencarinya.
Nathan berjalan menyusuri trotoar yang ditumbuhi lumut. Tidak ada robot penyapu jalan di sini. Ia berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang catnya sudah mulai mengelupas. Pagar kayunya rendah, dan di halamannya terdapat sebuah bangku batu tua yang ditumbuhi tanaman pakis.
Pintu depan terbuka sedikit. Dari dalam, terdengar suara gesekan halus yang ritmis. Suara yang sudah lama tidak Nathan dengar di dunia yang serba mengetik layar sentuh ini. Suara ujung pena fountain yang menggoreskan tinta di atas kertas.
Nathan mengetuk pintu kayu itu pelan. "Permisi."
"Masuk saja, pintunya tidak dikunci," jawab sebuah suara dari dalam. Suaranya serak, pelan, namun memiliki kehangatan yang menenangkan.
Nathan mendorong pintu dan melangkah masuk. Ruang tamu rumah itu lebih mirip sebuah perpustakaan kecil yang berantakan secara indah. Tumpukan buku berserakan di atas meja, rak-rak kayu penuh dengan album foto dan bingkai gambar, dan aroma teh melati serta kertas tua menguar kuat di udara.
Di sudut ruangan, di dekat jendela yang membiarkan cahaya matahari pagi masuk dengan lembut, duduk seorang pria tua. Rambutnya putih seluruhnya, punggungnya sedikit membungkuk, dan ia sedang menulis dengan konsentrasi penuh. Di hadapannya, secangkir teh masih mengepul.
Pria tua itu mengangkat kepala, terkejut melihat Nathan berdiri di ambang pintu. Matanya di balik kacamata tebalnya melebar sesaat, lalu segera berubah menjadi senyum hangat yang tulus. Ia meletakkan penanya di atas meja, lalu berdiri perlahan dengan bantuan tongkat kayu yang bersandar di samping kursinya.
"Oh, halo," ucapnya dengan nada ramah, seolah Nathan adalah teman lama yang tidak ia sadari sudah lama tidak bertemu. "Maaf, aku sedang agak tenggelam dalam tulisan ini." Ia tersenyum, menunjuk tumpukan kertas di hadapannya. "Tolong jangan khawatir soal kekacauan di sini. Aku sudah berniat merapikannya sejak... well, sejak sepuluh tahun yang lalu, sepertinya."
Samuel berjalan tertatih-tatih menuju Nathan, tangannya terulur untuk bersalaman. "Samuel Hartono. Dan kamu pasti tamu yang tersesat, atau mungkin... tamu yang memang sengaja datang? Silakan masuk, Nak. Rumah ini mungkin berantakan, tapi tehnya masih hangat."
Nathan tersenyum, merasa langsung diterima. "Maaf, Pak. Saya baru pertama kali ke sini. Saya Nathaniel Tan."
Pria tua itu akhirnya mengangkat kepala. Matanya di balik kacamata tebalnya tersenyum, penuh dengan kerutan di sudutnya yang menandakan seumur hidup sering tertawa. "Duduklah, Nathan. Aku sedang menyelesaikan satu paragraf."
Nathan duduk di kursi kayu di hadapan meja Samuel. Ia memperhatikan tangan pria tua itu. Jari-jarinya gemetar sedikit, namun saat memegang pena, tangan itu menjadi sangat stabil. Tinta biru mengalir perlahan, membentuk huruf-huruf yang rapi dan bersambung.
"Sudah berapa lama Bapak melakukan itu?" tanya Nathan, menunjuk tumpukan amplop yang sudah disegel di samping Samuel.
Samuel meletakkan penanya, lalu menatap Nathan. "Tiga puluh dua tahun. Tepatnya sejak aku pensiun dari mengajar di sekolah. Dulu aku pikir, setelah tidak ada di kelas, aku akan kehilangan cara untuk berbicara pada murid-muridku. Ternyata, aku hanya butuh mengganti papan tulis dengan kertas."
Samuel berdiri perlahan, berjalan menuju sebuah lemari kayu jati besar di sudut ruangan. Ia membuka pintu lemari itu. Nathan terkesiap. Di dalamnya, berjajar ratusan, mungkin ribuan, amplop surat. Mereka disusun rapi berdasarkan tahun dan nama. Tidak ada yang menggunakan email. Tidak ada yang dikirim melalui pesan instan. Semuanya adalah surat fisik.
"Ini bukan surat tentang nilai rapor, bukan?" tebak Nathan.
Samuel tertawa kecil. "Tentu saja bukan. Nilai akademik bisa dilihat di transkrip. Surat-surat ini... ini tentang kehidupan."