Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia

HaoYuen
Chapter #16

Lelaki yang Menanam Pohon

Nathan meninggalkan rumah Samuel Hartono dengan amplop surat untuk ayahnya yang masih hangat di saku jaketnya. Tinta di atas kertas itu mungkin akan kering dalam beberapa jam, tapi jejak yang ditinggalkan Samuel di hatinya terasa seperti sesuatu yang akan bertahan seumur hidup. Kebaikan tidak selalu langsung menghasilkan sesuatu. Kalimat itu terus berputar di kepalanya seperti melodi yang tidak bisa ia hentikan.

Ia berjalan menuju stasiun kereta otomatis, tapi langkahnya melambat saat matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa di kejauhan. Di antara deretan gedung prefabrikasi dan lahan parkir drone yang membentang di pinggiran kota, ada sepetak warna hijau yang mencolok. Bukan taman kota yang dirancang oleh algoritma lanskap. Bukan kebun vertikal yang dipasang di dinding gedung oleh kontraktor. Ini adalah hutan kecil yang tumbuh liar, tidak beraturan, dan tampak sangat tidak pada tempatnya di tengah lanskap beton dan baja.

Rasa penasaran mengalahkan jadwalnya. Nathan berbelok dari rute yang seharusnya ia ambil, menyusuri jalan setapak berdebu yang tidak terdaftar di peta digitalnya. Semakin dekat ia berjalan, semakin kuat aroma tanah basah dan daun segar memenuhi hidungnya. Aroma yang sudah lama hilang dari pusat Kota Zenith.

Di tepi hutan kecil itu, seorang lelaki sedang berlutut di tanah. Usianya kurang lebih lima puluhan tahun, Kulitnya gelap terbakar matahari, tangannya kasar dan penuh tanah. Ia mengenakan kaos oblong yang sudah pudar warnanya dan celana panjang yang lututnya sobek. Di hadapannya, sebuah lubang kecil baru digali, dan di sampingnya terdapat bibit pohon mangga yang akarnya dibungkus kain lembap.

Lelaki itu tidak menyadari kehadiran Nathan. Ia berbicara pada bibit pohon itu dengan suara pelan, seolah sedang menenangkan bayi.

"Sabar ya, kecil. Tanahnya memang keras di sini. Tapi kamu kuat. Akar-akarmu akan menemukan jalan."

Nathan berdiri di sana selama beberapa menit, hanya menonton. Ada sesuatu yang hipnotis dalam gerakan tangan lelaki itu sangat hati-hati, penuh kasih, seolah setiap gumpalan tanah yang ia sentuh adalah makhluk hidup yang berharga.

"Permisi," ucap Nathan akhirnya, tidak ingin mengejutkannya.

Lelaki itu menoleh. Wajahnya penuh keriput, tapi matanya jernih dan hidup. Ia tidak tampak terganggu oleh kehadiran orang asing. Sebaliknya, ia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-gigi yang tidak sempurna.

"Halo! Kamu datang dari kota?" tanyanya, suaranya berat dan serak, seperti suara orang yang jarang berbicara dengan manusia dan lebih sering berbicara dengan angin.

"Iya. Nama saya Nathaniel Tan. Saya sedang mengerjakan proyek dokumenter tentang..." Nathan berhenti, menyadari betapa konyolnya terdengar kalimat "proyek dokumenter tentang kemanusiaan" di hadapan seseorang yang sedang menanam pohon dengan tangan kosong di tanah mati. "...tentang orang-orang yang masih peduli pada hal-hal yang dianggap tidak penting."

Lelaki itu tertawa. Tawanya lepas, tanpa beban, menggema di antara pepohonan. "Wah, kalau begitu kamu datang ke tempat yang tepat. Atau tempat yang paling salah, tergantung siapa yang kamu tanya." Ia mengulurkan tangannya yang penuh tanah. "Wei Han. Tapi orang-orang di sini panggil aku Wei saja. Atau 'Si Gila Pohon', kalau mereka sedang tidak sopan."

Nathan menjabat tangan itu. Kasar, hangat, dan kuat. Tangan yang telah bekerja dengan tanah selama puluhan tahun.

"Boleh saya bertanya, Pak Wei? Sudah berapa lama Anda menanam pohon di sini?"

Wei berdiri, membersihkan tanah dari celananya dengan tepukan-tepukan kasar. Ia menunjuk sekelilingnya. Pepohonan di sekitar mereka beragam ada mangga, jambu, rambutan, trembesi, bahkan beberapa pohon mahoni yang sudah cukup tinggi. Tidak ada pola penanaman yang teratur. Pohon-pohon itu tumbuh seperti mereka sendiri yang memilih tempatnya.

"Tiga puluh tujuh tahun," jawab Wei. "Waktu aku pertama datang ke sini, ini adalah lahan bekas pembuangan limbah konstruksi. Tanahnya mati. Tidak ada cacing, tidak ada rumput, tidak ada apa-apa. Orang bilang, 'Wei, buat apa kamu di sini? Tanah ini sudah rusak selamanya.' Tapi aku pikir... tanah itu seperti manusia. Kalau kamu bilang dia sudah rusak selamanya, maka dia akan benar-benar rusak selamanya. Tapi kalau kamu memberinya waktu, air, dan sedikit kesabaran... dia bisa hidup lagi."

Nathan melihat sekeliling dengan takjub. Hutan kecil ini mungkin seluas dua lapangan sepak bola. Ratusan pohon, dari yang masih bibit hingga yang sudah rindang. Burung-burung berkicau di dahan-dahan. Kupu-kupu beterbangan di antara bunga-bunga liar yang tumbuh di sela-sela akar. Di tengah kota yang udaranya diatur oleh filter atmosfer raksasa, tempat ini terasa seperti oasis dari dunia yang berbeda.

"Tapi, Pak Wei," Nathan memulai pertanyaannya dengan hati-hati, tidak ingin terdengar menghakimi. "Kota Zenith sudah memiliki sistem pemurni udara yang canggih. Kualitas udara di sini sudah terjamin bersih oleh teknologi. Pohon-pohon ini... secara teknis, tidak diperlukan untuk menghasilkan udara bersih. Kalau mesin bisa membuat udara lebih bersih, kenapa Anda masih menanam pohon?"

Wei menatap Nathan. Tidak ada kemarahan di matanya. Tidak ada penghinaan pada ketidaktahuan Nathan. Hanya ada kelembutan seorang guru yang sudah terbiasa menjelaskan hal yang sama berulang kali kepada orang yang berbeda.

Lihat selengkapnya