Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia

HaoYuen
Chapter #17

Rumah Singgah

Hujan gerimis yang turun sejak sore hari belum juga berhenti ketika Evelyn dan Nathan tiba di depan sebuah rumah tua berlantai dua di pinggiran Distrik Bawah. Cat temboknya sudah mengelupas, memperlihatkan bata merah di beberapa sudut, dan terasnya dipenuhi pot-pot tanaman herbal yang ditata seadanya. Tidak ada papan nama resmi dari pemerintah, tidak ada sensor keamanan biometrik, dan tidak ada drone pengawas. Hanya ada sebuah lampu kuning temaram yang menyala di beranda, memancarkan kehangatan yang seolah mengundang siapa pun untuk berteduh.

"Ini dia," kata Evelyn pelan, menyeka air hujan dari jaketnya. "Rumah Singgah. Tempat bagi mereka yang jatuh melalui celah-celah kota yang terlalu sibuk untuk melihat ke bawah."

Nathan mengangguk, merasakan getaran aneh di dadanya. Setelah bertemu dengan Wei Han dan Samuel Hartono, ia merasa hatinya sudah lebih terbuka, lebih siap untuk menerima kebenaran-kebenaran yang tidak terukur oleh algoritma. Ia mengikuti Evelyn menaiki anak tangga kayu yang berderit pelan.

Sebelum Evelyn sempat mengetuk, pintu terbuka. Seorang pemuda dengan pakaian lusuh namun senyum ramah menyambut mereka. "Masuklah, Di luar dingin. Evelyn, kamu bawa tamu lagi?"

"Iya, Rian. Ini Nathan. Dia sedang belajar," jawab Evelyn singkat sambil melangkah masuk.

Nathan mengikuti mereka ke dalam. Aroma kaldu ayam, jahe hangat, dan kayu basah langsung menyergap indranya. Ruang tamu rumah itu tidak memiliki sekat yang kaku. Ruang keluarga, ruang makan, dan dapur menyatu dalam satu ruang besar yang hangat. Karpet tua membentang di lantai, dipenuhi bantal-bantal yang warnanya sudah pudar.

Yang paling mengejutkan Nathan bukanlah kesederhanaan tempat itu, melainkan orang-orang yang berada di dalamnya. Ada sekitar dua puluh orang di rumah itu. Beberapa sedang memasak di dapur, yang lain melipat pakaian di sudut ruangan, dan ada yang sedang membasuh kaki di teras belakang.

Evelyn menjelaskan dengan suara pelan agar tidak mengganggu suasana. "Mereka semua kehilangan sesuatu. Ada yang di-PHK karena perusahaannya digantikan oleh AI. Ada yang diusir dari apartemen karena tidak bisa membayar sewa yang naik drastis. Ada yang kehilangan keluarganya dalam kecelakaan, dan tidak ada yang mau menampung mereka. Secara data, mereka adalah angka nol. Tidak punya pekerjaan, tidak punya aset, tidak punya keluarga."

Nathan mengamati sekeliling. Di sudut dapur, seorang pria paruh baya sedang mengaduk kuali besar. Di sebelahnya, seorang remaja laki-laki yang tadi menyambut mereka sedang memotong sayuran dengan cepat. Mereka tertawa bersama, bercanda tentang siapa yang paling ceroboh memotong bawang. Di ruang tengah, seorang wanita muda sedang mengompres dahi seorang pria tua yang sedang tertidur dengan wajah meringis kesakitan.

Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki hubungan darah. Tidak ada kartu keluarga yang mencantumkan nama-nama mereka dalam satu kolom. Namun, mereka bergerak dalam harmoni yang indah. Mereka makan bersama dari kuali yang sama. Mereka membersihkan rumah bersama. Mereka merawat yang sakit bersama.

"Bagaimana kalian bisa hidup bersama seperti ini?" tanya Nathan pada Evelyn, suaranya penuh kekaguman. "Di luar sana, orang yang tinggal satu apartemen selama sepuluh tahun saja bisa tidak saling tahu nama. Tapi di sini..."

Evelyn tersenyum, menepuk pelan bahu Nathan. "Kamu akan menemukan jawabannya sendiri, Nak. Tunggu sebentar, aku bantu Rian di dapur."

Nathan ditinggalkan berdiri di tengah ruang tengah. Ia berjalan perlahan, mencoba tidak menjadi pengganggu. Matanya tertuju pada seorang perempuan tua yang sedang duduk di kursi goyang dekat jendela, merajut sesuatu dengan benang wol berwarna biru. Perempuan itu memiliki rambut putih yang diikat rapi, dan wajahnya dipenuhi kerutan yang menceritakan ribuan senyuman dan tangisan.

Nathan duduk di bangku kecil di dekatnya. "Selamat malam, Bu," sapanya pelan.

Perempuan tua itu menoleh, matanya yang sedikit rabun menatap Nathan dengan hangat. "Selamat malam, Nak. Kamu basah. Sini, ambil handuk di meja itu, lap rambutmu sebelum masuk angin."

Nathan tersenyum, mengambil handuk kecil yang terlipat rapi dan mengeringkan rambutnya. "Terima kasih, Bu. Nama saya Nathan."

"Panggil saya Mara," jawab perempuan itu, jarinya terus bergerak lincah merajut. "Kamu datang bersama Evelyn? Dia orang baik. Dia sering membawakan kami beras dan obat-obatan. Kamu sendiri, Nak? Apa yang kamu cari di tempat orang-orang yang rugi ini?"

Lihat selengkapnya