Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia

HaoYuen
Chapter #18

Pertanyaan yang Mengganggu

Hujan buatan Kota Zenith menyapu jendela apartemen Nathan saat ia melangkah masuk setelah berbulan-bulan bepergian. Kunci pintunya berputar dengan bunyi klik halus yang familiar, tapi untuk pertama kalinya, suara itu terasa asing di telinganya.

Apartemen itu masih sama. Sofa putih yang terlalu bersih. Meja kaca yang memantulkan cahaya lampu kota. Dinding minimalis tanpa satu pun foto atau pajangan pribadi. Dulu, Nathan menganggap semua ini sebagai simbol kesuksesan. Sekarang, ia melihatnya sebagai apa adanya: sebuah kotak mewah yang dirancang untuk satu orang yang tidak benar-benar hidup di dalamnya.

"Pulang kerja, Nathaniel?" Suara Aria, asisten virtualnya, menyapa dari speaker tersembunyi di langit-langit. "Suhu ruangan telah disesuaikan menjadi dua puluh dua derajat celcius. Anda terlihat lelah. Apakah Anda ingin saya memesankan teh herbal dengan komposisi relaksasi?"

Nathan meletakkan tas ranselnya di lantai. Tas itu terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena isinya, tapi karena beban pengalaman yang ia bawa pulang.

"Nggak, Ar," jawabnya pelan. "Aku baik-baik saja."

"Namun, berdasarkan analisis mikro-ekspresi wajah Anda, tingkat kelelahan emosional Anda berada di atas rata-rata. Saya sarankan—"

"Ar, berhenti," potong Nathan, tapi tidak kasar. Ia tersenyum tipis. "Aku cuma butuh diam sebentar. Matikan semua notifikasi. Matikan semua pembaruan berita. Matikan semua yang tidak penting."

"Dimengerti. Mode hening diaktifkan."

Lampu utama meredup, menyisakan cahaya kuning lembut dari lampu meja di sudut ruangan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, apartemen itu terasa sunyi. Bukan sunyi yang menakutkan seperti di Aethelgard. Tapi sunyi yang memberi ruang. Ruang untuk berpikir. Ruang untuk merasa.

Nathan duduk di lantai, bersandar pada sofa. Ia menatap layar dinding yang besar di hadapannya, sebuah layar yang biasanya ia gunakan untuk menonton berita, memeriksa email, atau memutar film-film yang direkomendasikan algoritma. Kali ini, ia memiliki tujuan berbeda.

Ia mengeluarkan perangkat penyimpanan datanya dari tas. Perangkat kecil itu berisi ratusan jam rekaman dari perjalanannya. Wajah-wajah. Suara-suara. Momen-momen yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh konten digital manapun.

"Aria," panggilnya.

"Ya, Nathaniel?"

"Putar semua rekaman dari proyek 'Cerita Rumah Kita'. Tampilkan dalam format galeri. Semua wajah. Semua momen."

"Permintaan diproses."

Layar dinding menyala. Ratusan wajah muncul, tersusun dalam grid yang rapi. Nathan menatapnya dengan dada yang sesak.

Di sana ada Samuel Hartono, dengan senyum keriputnya dan pena fountain di tangan.

Di sana ada Ethan, anak kecil yang menggambar keluarganya tanpa sosok ayah.

Di sana ada Dr. Armand Lee, dengan stetoskop melingkar di leher dan mata yang hangat.

Di sana ada Rahma, dengan celemek kotornya dan kuali besar di tangannya.

Di sana ada Wei Han, berlutut di tanah yang dulu mati, memegang bibit pohon dengan lembut.

Di sana ada Mara, merajut benang biru sambil berkata tentang keluarga yang memilih untuk tidak meninggalkan.

Di sana ada anak-anak rumah singgah, tertawa di sekitar kuali sup yang sama.

Nathan menatap mereka satu per satu. Wajah-wajah yang dulu ia anggap sebagai subjek wawancara, kini terasa seperti teman-teman lama. Ia merasa rindu pada mereka, meski baru berpisah beberapa hari.

"Mulai analisis pola," perintah Nathan. "Cari kesamaan di antara mereka. Bukan usia, bukan gender, bukan status ekonomi. Cari... cari apa yang membuat mereka berbeda dari orang-orang yang mengalami Human Fade."

"Analisis dimulai," jawab Aria. "Membutuhkan waktu sekitar empat puluh dua menit untuk memproses seluruh data."

Lihat selengkapnya