Nathan meninggalkan kota dengan membawa kamera, perangkat perekam, dan seluruh data penelitiannya tentang Human Fade. Perjalanan menuju Lumen Valley tidak tercantum dalam sistem navigasi publik. Peta digital menunjukkan bahwa wilayah tersebut hanyalah pegunungan kosong yang sudah lama ditinggalkan.
Setelah menempuh perjalanan panjang, kendaraan otomatisnya kehilangan koneksi.
“Koneksi jaringan terputus... Memulai protokol pencarian rute alternatif.”
Suara Aria, asisten virtual yang biasanya terdengar begitu mulus dan meyakinkan, kini terdengar pecah, diwarnai oleh desis statis yang kasar. Layar dasbor kendaraan otomatis yang tadinya menampilkan peta holografik tiga dimensi berkedip beberapa kali, lalu mati sepenuhnya, menyisakan layar hitam yang memantulkan wajah Nathan.
Kendaraan itu berhenti dengan sentakan halus di tengah jalan setapak yang dipenuhi lumpur dan akar pohon. Di sekelilingnya, hanya ada hutan pinus yang rapat dan kabut tebal yang mulai turun seiring meredupnya cahaya matahari.
Nathan menatap ke luar jendela. Di belakangnya, cahaya Kota Zenith telah lama tenggelam di balik bukit. Di depannya, hanya ada jalan aspal retak yang berakhir di sebuah gerbang besi berkarat dengan papan peringatan: AREA TERLARANG. TANAH MILIK NEGARA. TIDAK ADA AKSES PUBLIK.
Peta digital pemerintah menyatakan bahwa koordinat yang dituju oleh Aria sebelum sinyal mati hanyalah pegunungan kosong. Wilayah yang sudah lama ditinggalkan, tidak memiliki nilai ekonomis, dan tidak ada infrastruktur. Tapi grafik anomali itu tidak berbohong. Ada denyut nadi di sana. Ada kehidupan yang menolak untuk pudar.
Nathan mengambil tasnya, mengenakan jaket tebal, dan melangkah keluar. Kendaraan otomatis itu tidak bisa melaju lebih jauh dari titik ini. Sisa perjalanan harus ia tempuh dengan berjalan kaki.
Jalan setapak itu nyaris tidak terlihat. Semak belukar dan tanaman merambat seolah berusaha menelan kembali jalur yang dulu pernah dibuka. Nathan harus membelah dahan-dahan rendah dengan tangannya sendiri, sepatunya basah dan berlumpur. Setiap langkah terasa berat, tapi pikirannya terasa lebih ringan. Tidak ada notifikasi. Tidak ada suara bimbingan dari asisten virtual. Hanya ada suara napasnya sendiri dan kicauan burung yang asing di telinganya.
Setelah hampir dua jam berjalan menembus kabut, Nathan berhenti. Napasnya memburu. Di depan matanya, terdapat sebuah struktur beton yang setengahnya sudah ditelan oleh lumut dan akar beringin.
Itu adalah bekas pos pemeriksaan.
Nathan mendekat, menyeka lumut dari dinding beton. Tidak ada logo pemerintah Kota Zenith. Tidak ada tanda batas wilayah administratif. Yang ada hanyalah sebuah lempengan logam yang terpasang miring. Ia menyenterinya dengan senter ponsel. Tulisan di sana hampir terkelupas, tapi masih bisa dibaca:
FASILITAS RISET BIOSFER – AREA TERLARANG. OLEH INSTITUT AEGIS.
Nathan mengerutkan kening. Institut Aegis? Ia belum pernah mendengar nama itu. Ia mencoba mencari di database offline ponselnya, tapi hasilnya nihil. Lembaga itu tidak ada dalam arsip pemerintah, tidak ada dalam sejarah korporasi, dan tidak ada dalam berita manapun.
Tapi yang membuat bulu kuduk Nathan berdiri bukanlah lempengan itu.
Di atas pos pemeriksaan, terdapat sebuah kamera pengawas model lama. Lensanya retak, tertutup sarang laba-laba. Nathan mengira itu adalah barang rongsokan yang sudah mati puluhan tahun. Namun, saat ia menatap lebih dekat, di tengah retakan lensa itu, terdapat sebuah titik cahaya merah kecil yang berkedip pelan.
Kedip. Kedip. Kedip.
Kamera itu masih aktif. Masih menyala. Masih merekam.
Jantung Nathan berdegup lebih cepat. Ia menatap ke sekeliling. Jika kamera ini aktif, berarti ada daya yang mengalir. Jika ada daya, berarti ada orang yang merawatnya.
Ia melanjutkan perjalanan, kini dengan kewaspadaan yang meningkat. Jalan setapak perlahan melebar, berubah menjadi jalan beraspal yang retak-retak. Dan di sepanjang jalan itu, ia menemukan hal-hal yang tidak masuk akal.
Ada bekas ban kendaraan yang masih cukup segar, tidak tertutup lumpur sepenuhnya. Ada puntung rokok yang terselip di celah batu, yang filternya belum menguning. Dan di sebuah persimpangan, terdapat papan peringatan kayu yang cat merahnya tampak mencolok dan baru. Seseorang baru saja mengecatnya.
Tempat ini tidak ditinggalkan. Tempat ini disembunyikan.
Malam akhirnya turun sepenuhnya. Kabut menjadi begitu tebal hingga Nathan hampir tidak bisa melihat ujung sepatunya sendiri. Ia merasa kedinginan, lelah, dan mulai mempertanyakan kewarasannya. Apakah ia sedang dikejar oleh ilusi? Apakah Human Fade telah merambat ke otaknya sendiri?