BAB 1
Hari yang Terlalu Biasa
Pagi itu terasa seperti hari-hari lain yang sudah terlalu sering aku jalani.
Langit belum benar-benar cerah, tapi sekolah sudah mulai ramai. Suara langkah kaki, tawa yang saling bersahutan, dan percakapan kecil yang tidak pernah benar-benar penting semuanya bercampur menjadi satu, seperti rutinitas yang tidak pernah berubah.
Dan mungkin, memang tidak ada yang berubah.
Setidaknya… sampai hari itu.
Aku, Julio Leonard, berjalan menyusuri koridor dengan langkah santai. Tas yang menggantung di bahuku terasa lebih berat dari biasanya, meskipun isinya tidak berbeda. Atau mungkin… yang berubah bukan tasnya.
Melainkan pikiranku.
“Jul!”
Sebuah suara memanggil dari kejauhan.
Aku menoleh, dan seperti yang sudah bisa ditebak, Timothy Chandra berlari kecil ke arahku dengan ekspresi yang setengah kesal, setengah lega.
“Kamu lama banget sih,” katanya, sedikit terengah.
Aku mengangkat bahu. “Perasaan biasa aja.”
“Biasa dari mana? Aku nungguin dari tadi.”
Aku tersenyum kecil. Selalu seperti ini. Timothy selalu datang lebih dulu, lalu mengeluh seolah-olah aku yang membuatnya menunggu terlalu lama.
Padahal, kalau dipikir-pikir… dia tidak pernah benar-benar keberatan.
Kami berjalan berdampingan tanpa perlu banyak bicara. Tidak ada canggung. Tidak ada jarak. Semua terasa… otomatis.
Seperti kebiasaan yang sudah terlalu lama dilakukan.
“Octa udah di kelas belum?” tanyaku.
Timothy menggeleng. “Belum. Pasti lagi di tempat biasa.”
Aku mengangguk pelan. Tanpa perlu bertanya lagi, kami berbelok ke arah tangga belakang tempat yang entah sejak kapan menjadi “markas” tidak resmi kami.
Dan benar saja.
Di sana, di sudut yang sedikit tersembunyi dari keramaian, Octa Filipianus sudah duduk dengan posisi santai, punggung bersandar pada dinding, dan buku terbuka di tangannya.
Seperti biasa.
Selalu seperti itu.