Sebelum Langit Kehilangan Warna

Anggi Irawan
Chapter #1

Prolog

SURAT UNTUK LANGIT

Aku menulis buku ini bukan untuk mengingat kesedihan,

tapi untuk menjaga agar kenangan tetap hidup, seperti langit sore yang tak pernah benar-benar pergi, meski matahari telah turun.

Ada masa ketika aku percaya, kehilangan berarti akhir.

Hari-hari terasa sepi, kursi di teras menjadi saksi betapa sunyi bisa berbicara lebih keras dari kata-kata.

Namun waktu, dengan cara yang lembut dan kadang menyakitkan, mengajariku sesuatu,

bahwa cinta tak berhenti hanya karena seseorang sudah tak disini.

Cinta berubah bentuk, tapi tetap ada di setiap aroma kopi pagi, di tawa kecil adikku, di langit jingga yang masih setia pulang setiap sore.

Ayahku dulu berkata,

“Kita tak bisa memilih kapan langit kehilangan warnanya, tapi kita bisa memilih untuk tetap melihatnya dengan hati.”

Kini aku tahu maksudnya.

Menulis buku ini adalah caraku memeluk masa lalu, bukan untuk terjebak di dalamnya,

melainkan agar aku tak pernah lupa dari mana cahaya itu berasal.

Untuk siapa pun yang sedang belajar berdamai dengan kehilangan,

semoga kau menemukan bagian kecil dari dirimu di antara halaman-halaman ini.

Lihat selengkapnya