Aku selalu terbangun oleh dua hal di pagi hari.
Bau telur gosong dan suara pelan Ayah yang bersenandung.
Suara itu datang dari dapur kecil kami, bercampur dengan bunyi wajan yang bergesekan dengan spatula logam. Kalau aku membuka mataku lebih cepat, aku bisa melihat sinar matahari menembus atap seng yang sedikit berlubang, menimpa lantai yang sudah dingin.
Ayah tidak pernah pandai memasak.
Tapi sejak Mama pergi, dia selalu berusaha membuat sarapan untukku dan Ravi.
“Ayah, telurnya gosong lagi,” kataku suatu pagi sambil duduk di kursi kayu yang goyah.
Ayah tertawa kecil, suaranya serak tapi hangat.
“Yang penting masih kelihatan bentuk telurnya, kan? Gosong sedikit anggap saja itu bonus rasa,” katanya sambil menaruh piring di depanku.
Aku mengembungkan pipi.
“Tapi masakan Mama dulu nggak pernah gosong.”
Tawa Ayah berhenti sejenak. Ada jeda kecil yang entah kenapa membuat udara di dapur ikut diam. Tapi kemudian ia mengusap rambutku dan tersenyum lagi, “Iya, Mama memang lebih hebat. Tapi Ayah kan berusaha belajar masak pelan-pelan.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap tangannya. Ya... tangan yang kasar dan hitam karena oli dari bengkel tempat ia bekerja. Tangan itu sama sekali tidak mirip tangan Mama. Tapi entah kenapa, rasanya hangat. Rasanya seperti di peluk Mama dulu.
Setiap kali aku menatap Ayah, aku tahu ia lelah.
Matanya sering merah, dan kadang ia tertidur sambil duduk di kursi rotan, masih memakai seragam kerja yang terlihat lusuh karena tidak disetrika.
Tapi setiap kali aku bangun, ia selalu sudah lebih dulu ada di dapur menyiapkan sarapan untuk aku dan Ravi.
Kadang ia bersenandung lagu yang sama setiap pagi,
lagu lama yang tak pernah ia selesaikan liriknya.
“Bintang kecil di langit yang jauh…”
lalu berhenti sampai disitu.
Suatu kali aku bertanya,
“Kenapa Ayah nggak pernah lanjutin nyanyinya?”
Ayah tersenyum samar.
“Soalnya lirik selanjutnya Ayah sudah lupa,” katanya ringan.
Tapi malamnya, aku mendengar ia menyanyi pelan di ruang tamu, suaranya hampir seperti bisikan.
“Temani Mama di sana, jangan biarkan Mama sendirian…”
Aku pura-pura tidur, tapi aku tahu.
Ayah sedang menahan tangis.
***