Sebelum Langit Kehilangan Warna

Anggi Irawan
Chapter #3

Bab 2 - Langit Abu-abu

Hari itu tepat satu tahun yang lalu, langit seperti tahu sesuatu yang tak ingin dikatakannya. Abu-abu menggantung di atas atap rumah sakit, dan udara di dalam ruangan terasa lebih berat dari biasanya. Kya duduk di kursi sudut, menatap Ibunya yang terbaring dengan wajah pucat, napasnya pelan seperti angin yang takut mengusik sunyi. Ravi berdiri di sisi ranjang, menggenggam tangan Ibunya erat-erat, seolah dengan cara itu ia bisa menahan waktu.

“Ravi...” suara itu terdengar lembut masuk ke telinga Kya dan Ravi.

Ravi menunduk, menahan air mata yang sudah lama berusaha ia sembunyikan.

“Iya, Ma. Aku di sini.”

Ibunya tersenyum tipis. “Jaga kakakmu, ya…”

“Pasti, Ma.”

Kya menunduk, air matanya jatuh ke punggung tangan Ibunya. Dingin. Ia memeluknya, mencoba mengingat aroma sabun bunga melati yang selalu melekat pada setiap dekapan Ibunya. Tapi sekarang aroma itu pelan-pelan memudar, digantikan bau obat dan oksigen.

“Ma, jangan pergi dulu…” bisik Kya di sela tangisnya.

Senyum Ibunya melembut, “Langit kadang kehilangan warnanya, Nak. Tapi itu bukan berarti ia berhenti mencintai bumi…”

Detak mesin monitor berdetak pelan, seperti detak yang menahan kepergian. Sampai akhirnya garis itu lurus. Keheningan membuat waktu berhenti di titik itu.



***


Tiga hari setelah pemakaman, rumah terasa terlalu besar untuk mereka bertiga.

Ravi duduk di kamar Ibunya, memeluk bantal yang masih menyimpan bau tubuhnya. Di luar jendela, senja menetes perlahan ke tanah, mewarnai tembok dengan warna oranye kusam.

Kya berdiri di pintu, memandang Adiknya dalam diam.

“Sudah makan,?” tanyanya lirih.

Ravi menggeleng.

Ia menatap foto keluarga di meja rias milik Ibunya. Terlihat Ibu, dan juga Ayahnya sedang tertawa, Kya kecil memegangi tangan Ravi yang baru belajar berjalan waktu itu. Semua tampak hangat di sana. Tapi di dunia nyata, kehangatan itu kini seperti warna abu-abu.

Kya menatap langit yang mulai gelap.

“Kau tahu, Rav,” katanya pelan. “Aku takut lupa suara Mama.”

Ravi menoleh, matanya basah.

“Aku juga takut, Kak. Takut suatu hari aku berhenti merindukannya.”

Kya mendekat, memeluk Adiknya. Hujan mulai turun perlahan.

“Langit mulai kehilangan warnanya, Rav,” bisiknya.

Ravi membalas pelukannya, “Tapi mungkin… di balik hujan, Mama sedang melukis warna baru.”

Malam itu, sebelum tidur, Kya menatap bintang dari jendela kamarnya.

Ia teringat kata-kata Ibunya: “Langit kadang kehilangan warnanya, tapi tidak pernah kehilangan cintanya.”

Untuk pertama kalinya sejak hari itu, Kya menutup mata tanpa menangis.

Ia berharap, warna langit belum hilang hanya bersembunyi sementara, menunggu mereka berani untuk terlihat lagi.


Lihat selengkapnya