Sudah satu tahun sejak kepergian Ibunya.
Waktu memang tak menyembuhkan segalanya, tapi ia perlahan mengajarkan cara berdamai.
Pagi itu, matahari menyelinap lembut lewat jendela dapur. Kya sedang mengaduk adonan pancake dengan serius, sementara Ayah memotong buah di meja. Ravi duduk di kursi, memandangi mereka dengan senyum kecil. Dulu, di pagi seperti ini, ibulah yang paling sibuk menyiapkan bekal, menyisir rambut Ravi, dan memarahi Kya yang sering bangun terlambat. Kini semua terasa berbeda, kehangatan itu tidak lagi setajam dulu.
“Pancakenya bentuk hati, Kak,” pinta Ravi.
Kya pura-pura mengeluh. “Susah, Rav.”
“Tapi Mama dulu bisa.”
Ayah tertawa kecil. “Berarti Kakak harus belajar dari Mama lewat ingatanmu.”
Kya akhirnya mencoba, dan bentuknya memang tak sempurna. Miring dan gosong di pinggir. Tapi ketika Ravi menatapnya, matanya berbinar.
“Cantik,” katanya.
Dan semua tertawa, meski di ujung tawa itu, ada sedikit air mata yang tertahan rapi.
Sore harinya, Ayah mengajak mereka menanam bunga di halaman belakang.
Tanah di sana kering, tapi ayah membeli beberapa bibit bunga melati. Ya… bunga kesukaan Ibu mereka.
“Kita tanam di sini, ya, Yah?” teriak Ravi bersemangat.
Ayah mengangguk. “Mama pasti senang kalau rumah kita wangi lagi.”
Mereka menanam bersama. Kya menggali lubang, Ravi menabur bibitnya, lalu bagian Ayah yang menyiram air diatasnya. Setelah selesai, mereka duduk bertiga di bawah langit sore yang mulai menampakan warna jingganya, sambil memandangi tanah yang baru saja mereka tanami bibit bunga.
“Ayah,” kata Kya, “kalau bunga ini tumbuh, berarti Mama masih dekat, kan?”
Ayah terdiam sejenak. “Mama selalu dekat, Sayang. Hanya saja sekarang, Mama nggak terlihat. Tapi setiap kali bunga ini mekar, itu tandanya Mama sedang tersenyum.”
Kya menatap langit yang mulai berubah warna. Warna jingga lembut yang menembus awan abu.
“Langitnya nggak kelabu lagi,” ujarnya pelan.
Ravi memegang tangan Ayahnya dan tersenyum kecil.
“Berarti Mama udah tenang di sana.”
Malam pun tiba. Dari jendela kamar, Ravi menatap bintang-bintang.
Di bawahnya, Kya sedang mengerjakan tugas, dan Ayah sibuk memperbaiki lemari tua.
Suara mereka bercampur dengan sahutan bunyi jangkrik, menghadirkan suasana yang sederhana tapi terasa hangat.
Ravi berbisik pelan, seolah berbicara pada langit,
“Ma, kami nggak sedih lagi. Kami cuma kangen. Tapi Ayah udah bisa senyum lagi, Kak Kya juga sering masak. Dan aku... Aku udah nggak takut malam.”
Hening sejenak, lalu angin masuk lewat jendela, mengibaskan tirai putih perlahan.
Ada aroma melati yang samar menusuk hidungnya. Ravi menutup mata, tersenyum, lalu berbaring tepat di samping Kakaknya. Langit malam itu terasa lebih terang dari biasanya. Seperti Ibu mereka yang menatap dari atas, mengirim warna baru pada keluarga kecil itu.
***