Malam itu hujan turun lagi.
Bukan hujan deras, tapi cukup untuk membuat suara “tik… tik… tik…” di ember besar yang diletakkan Ayah di ruang tamu. Atap kami bocor di tiga tempat. Satu di atas televisi tua, satu di dapur, dan satu lagi… tepat di dekat tempat tidurku.
Aku tidak bisa tidur. Namun Ravi sudah terlelap di sebelahku, memeluk sepatunya seperti boneka. Ya… itu adalah sepatu baru buatan tangan Ayah untuk Ravi. Karena sepatu Ravi sudah rusak, dan Ayah belum bisa membelikan yang baru untuknya, jadi Ayah berusaha membuatnya sendiri. Aku rasa ayah membuatnya dengan penuh cinta. Karena walaupun terlihat sederhana, tapi bagiku terlihat sangat indah. Lagi -lagi suara tetesan air dari atap yang bocor mengalihkan pandanganku. Aku menatap langit-langit rumah, memandangi rembesan air yang menetes perlahan. Lalu aku dengar suara langkah Ayah di ruang tamu. Langkah yang pelan, tapi terdengar berat. Ia memindahkan ember, menadahkan air yang menetes dari atap, lalu duduk di kursi tua. Aku tahu ia tidak tidur karena sering begitu setiap hujan turun. Ayah selalu terjaga di malam hari, untuk memastikan agar rumah kami tidak kebanjiran, sambil sesekali menatap foto Mama di dinding.
Aku bangun pelan-pelan, mengambil jaket dan menapaki lantai yang dingin.
Ayah tampak kaget saat aku muncul di ruang tamu.
“Kya? Kok belum tidur?”
Aku mengangkat satu ember kecil dari kotak mainan ku dan tersenyum, “Mau bantu Ayah jagain langit bocor.”
Ayah tertawa pelan.
“Langit nggak bocor, sayang. Cuma rumah kita yang belum kuat nahan hujan.”
Aku mendekat dan duduk di sampingnya.
Suara hujan mengisi ruangan. Dari balik jendela aku melihat hujan lebat sekali diluar, nampak dingin, tapi terasa hangat di dalam. Aku melihat ke arah langit-langit dan berkata,
“Kalau Mama ada di surga, dia juga dengar suara hujan yang sama, kan, Yah?”
Ayah menatapku, lama sekali.
Lalu mengangguk pelan. “Iya, mungkin Mama juga lagi denger suara ini. Mungkin dia juga lagi mikirin kita.”
Kami duduk diam beberapa menit.
Lalu aku menatap tangan Ayah yang kasar. Tangan itu penuh luka kecil dan bekas oli.
“Ayah…”
“Hmm?”
“Kya pengin bantu Ayah kerja. Biar Ayah nggak capek terus.”
Ayah tersenyum, tapi matanya sedikit bergetar.
“Kerjaan Ayah emang capek, tapi kalau tiap pulang bisa lihat kalian, capeknya langsung hilang. Jadi Kya nggak usah bantu kerja, cukup bantu Ayah tersenyum saja tiap hari.”
Aku menatap wajahnya. Di bawah cahaya redup, Ayah tampak lebih tua dari biasanya. Rambutnya mulai beruban di sisi, dan matanya sembab karena kurang tidur.
Aku ingin bilang sesuatu, tapi tenggorokanku terasa sesak.
Jadi aku hanya bersandar di bahunya. Kami berdua duduk seperti itu sampai hujan berhenti.
Pagi harinya, Ayah menemukan sesuatu di meja makan sebuah toples kecil berisi uang receh, dengan kertas bertuliskan
“Tabungan untuk genteng bocor. Dari Skya & Ravi.”
Ayah memandangi toples itu lama. Uang di dalamnya mungkin hanya cukup untuk membeli satu potong seng kecil, tapi bagi Ayah, itu terlihat seperti setumpuk emas.
Ia menatap langit yang mulai cerah lalu berbisik dalam hati,
“Lihat, Sayang… anak-anak kita sudah belajar untuk kuat dan mulai tumbuh dewasa.”
***
Aku lihat Sudah beberapa malam ini Ayah pulang lebih larut dari biasanya. Bajunya berbau sirup dan es batu, bukan oli seperti biasanya. Ketika ku tanya, Ayah cuma menjawab,
“Ayah habis bantu teman jualan es keliling, cuma sementara.”
Tapi aku tahu…
Itu bukan “sementara”.
Itu karena uang bengkel tidak cukup, karena buku tulis Ravi butuh diganti, dan token listrik rumah kami hampir habis.
Malam itu, aku pura-pura tidur lebih awal. Begitu Ayah keluar rumah sambil mendorong gerobak es, aku pelan-pelan bangun dan mengikuti Ayah dari jauh.
Langit malam tampak terlihat lebih rendah. Mungkin karena dipenuhi bintang, tapi udara malamnya sangat dingin sekali.
Suara roda gerobak berdecit di jalan berbatu. Ayah berhenti di dekat taman kecil. Lampu jalan berkelap-kelip, kadang mati, kadang hidup. Ia menata botol-botol sirup dengan rapi, menyalakan lampu kecil di gerobak, lalu mulai memanggil pembeli dengan suara pelan.
“Es sirup… manis, dingin segar…”
Beberapa anak remaja datang, tertawa-tawa, membeli segelas es.
Ayah tersenyum sopan, mengucapkan terima kasih setiap kali uang receh berpindah tangan.
Aku berdiri di balik tiang listrik, memperhatikan semuanya. Entah kenapa, dadaku terasa sesak. Ada perasaan bercampur aduk didalamnya, antara bangga dan sedih.
Waktu sudah hampir tengah malam. Angin semakin dingin, tapi Ayah belum memutuskan untuk pulang. Aku mendekat, dengan membawa termos kecil berisi teh hangat saat keluar rumah tadi.
“Ayah…” suaraku pelan.