Hari itu hujan datang tanpa pertanda apapun.
Langit memang sudah gelap sejak siang tadi, tapi aku tidak mengira airnya akan turun selebat ini. Aku dan Ravi baru pulang dari sekolah, berjalan di gang kecil dekat rumah, dan tiba-tiba langit memuntahkan air banyak sekali.
Kami berlari. Ravi tertawa, “Kak! Cepat! Kita basah!”
Aku menggenggam tangannya kuat-kuat, tapi tak sempat mencari tempat berteduh.
Hujan turun deras sekali. Baju seragamku menempel di kulit, rambutku basah semua.
Tapi anehnya, aku tidak merasa ingin lari dari hujan. Justru ada sesuatu yang hangat di antara dinginnya air hujan yang menyentuh tubuh ku.
Mungkin karena ini hujan pertama sepulang sekolah tanpa Mama. Karena biasanya setiap hujan begini, Mama akan menjemput kami di ujung gang. Ia selalu membawa payung biru tua yang sudah agak sobek di pinggirnya. Ia selalu berkata hal yang sama ketika menjemput kami, “Payungnya sudah tua, kayak ayah kalian.” dan aku selalu tertawa mendengar candaan Mama itu. Kami bertiga pun akan pulang sambil bernyanyi kecil, menyamakan langkah dengan bunyi rintik di jalan. Tapi sekarang, hanya ada suara hujan dan langkah kaki kami yang gemetar.
Saat sampai di rumah, Ayah langsung menyambut kami. Ia memeluk kami tanpa bicara, lalu mengusap kepala Ravi yang menggigil kedinginan.
“Ganti baju dulu sana, nanti masuk angin,” katanya lembut.
Aku masuk kamar, mengganti seragam, tapi mataku berhenti di meja belajar.
Aku melihat buku harian ku yang sangat tebal itu. Buku yang selalu aku pakai untuk menulis sesuatu tentang perasaan ku. Entah kenapa, rasanya aku ingin menulis sesuatu lagi hari ini.
Ku telan ludah, dan mulai membuka halaman yang baru di buku itu. Lalu penaku mulai menari sendiri di atas kertas putihnya.
“Hai Mama,
Hari ini hujan turun lagi, Ma.
Tapi aku nggak bawa payung.
Aku kira aku bakal sedih banget, tapi ternyata nggak seburuk itu.
Karena aku merasa Mama ada di setiap rintik yang jatuh di wajahku.
Ayah mulai tersenyum lagi, Ma.
Kadang masih diam, tapi sekarang matanya nggak kosong.
Ravi juga tambah cerewet. Dia sering nyiram bunga matahari kesayangan ayah di halaman, katanya “biar bunga Melati kesayangan Mama ada temannya.”
Aku juga sudah belajar sesuatu hari ini
kalau kehilangan itu bukan tentang berpisah, tapi tentang belajar berjalan di bawah hujan, meski tanpa payung.
Aku janji, Ma, aku bakal terus belajar menjadi dewasa.
Untuk Mama. Untuk Ayah. Untuk Ravi.”
Aku menutup buku itu, dan perasaan di dadaku terasa jauh lebih ringan. Mungkin ini cara yang Ayah ajarkan dulu untuk menenangkan perasaan. Bukan lagi lewat pelukan, tapi lewat kenangan yang masih akan terus diingat.
Malamnya, hujan masih belum berhenti. Dari jendela kamar, aku melihat Ayah berdiri di halaman, menatap bunga matahari kesayangannya yang baru tumbuh beberapa sentimeter. Bunga itu ia tanam persis di sebelah bunga melati yang aku, Ravi, dan Ayah tanam kala itu. Ia basah kuyup, tapi tidak bergeming. Aku tahu, ia sedang berbicara dalam diamnya.
Aku membuka jendela dan berseru pelan,
“Yah, masuk, nanti masuk angin!”
Ia menoleh, tersenyum, lalu berkata,
“Sebentar, Nak. Ayah ingin lihat bunga matahari ini belajar menerima hujan juga.”
Aku menatapnya lama. Dan aku mulai paham apa maksud Ayah. Ternyata Ayah sedang mengajariku sesuatu dengan kata-kata. Bahwa keteguhan bukan berarti tidak menangis, tapi berani berdiri di tengah hujan, meski payungnya sudah tak lagi ada.
Seiring berjalannya waktu bunga matahari itu sudah hampir setinggi bahuku. Batangnya kokoh, daunnya lebar, dan di ujungnya mulai muncul bakal kelopak kuning. Setiap kali melihatnya, aku merasa seperti dekat dengan Mama. Bunga matahari itu sangat terlihat hangat seperti Mama. Terlihat sabar untuk tumbuh, dan selalu menghadap cahaya. Mungkin bunga matahari juga perlu kehangatan. Apa bunga matahari juga punya Mama? tak peduli seberapa gelap langit di atasnya, bunganya tetap tumbuh dengan indah. Bunga matahari sepertinya tetap butuh cahaya agar dia tetap merasa hangat, sama sepertiku yang selalu menganggap kalau Mama adalah cahaya yang selalu mengirimkan kehangatan dan kebahagiaan dari atas langit.
Hari ini adalah hari Sabtu.
Ravi sedang bermain bola di halaman bersama teman-temannya, sementara Ayah memperbaiki kursi kayu di teras. Aku duduk di dekat pot bunga matahari, membawa secarik kertas dan sebuah pensil. Entah kenapa, aku ingin menulis surat lagi. Tapi kali ini bukan untuk Mama. Tapi aku ingin menulis untuk diriku sendiri. Untuk Skya di masa depan.