Sebelum Langit Kehilangan Warna

Anggi Irawan
Chapter #7

Bab 6 - Sepotong Awan di Langit Sekolah

Bu Lily adalah guru Bahasa Indonesia ku di sekolah. Aku selalu suka dengan nama Ibu guru ku itu, karena mengingatkan aku dengan satu nama bunga. Ya… bunga Lily, untuk ku bunga Lily adalah bunga yang indah. Aku paling suka bunga Lily berwarna kuning, karena bunga Lily berwarna kuning itu melambangkan kegembiraan dan kebahagiaan. Begitu juga dengan Bu guru yang selalu mengajari kami dengan penuh rasa gembira sehingga aku dan semua teman-temanku selalu bahagia setiap kali kami belajar. Seperti kebanyakan seorang guru. Mereka adalah pahlawan dengan tangan dinginnya, yang selalu menginginkan semua hasil didikannya berhasil. Ayah pernah berkata kepadaku, kalau guru itu adalah orangtua kita selama disekolah. Jadi apapun perkataannya pasti itu yang terbaik untuk kami para muridnya. Jadi aku selalu menganggap Bu Lily adalah Mama ku di sekolah, dan seorang Mama tidak akan pernah jahat terhadap anak-anaknya.

Hari itu Bu Lily memberi kami tugas menulis puisi bertema “rumah” disekolah. Teman-temanku langsung heboh. Ada yang menulis tentang rumah besar, ada yang menulis tentang halaman dengan kolam ikan. Tapi aku hanya menatap kertas putih di mejaku dengan sedikit rasa bimbang. Aku ingin menulis sesuatu yang jujur, tapi entah kenapa, dadaku terasa sesak. Karena rumah bagiku bukan sekadar bangunan. Ia punya luka, tapi juga punya cinta. Dan bagaimana caranya menulis tentang sesuatu yang begitu rapuh tanpa membuatnya terasa menyedihkan?

Aku menatap keluar jendela kelas. Langit agak mendung, tapi cahaya matahari tetap berusaha menembus awan. Mungkin seperti itu juga rumah kami sekarang. tidak selalu cerah, tapi tetap berusaha bersinar. Walaupun rumah kami tidak sempurna karena kehilangan sebagian cintanya, tapi di setiap retak-retaknya selalu ada Ayah yang mencoba memberikan kasihnya.

Akhirnya aku mulai menulis pelan-pelan.


“Rumah Kecil Tanpa Pagar

oleh Skya

Rumahku tidak besar,

atapnya sering bocor kalau hujan datang.

Tapi di bawah atap bocor itu,

Selalu ada seseorang yang tidak pernah pergi, dan selalu menungguku pulang.

Dia adalah Ayah yang selalu menjadi tempatku pulang, disaat aku mulai tersesat

Oleh arus kehidupan yang tidak menentu.

Rumahku tidak punya pagar,

tapi selalu ada tangan yang menuntunku agar tidak tersesat lagi.

Tangannya kasar sekali, juga tidak terlalu putih.

tapi sangat hangat, seperti doa yang diam-diam dilantunkan pada malam hari.

Kalau angin datang, bunga melati di halaman rumahku bergoyang,

dan aku rasa, Mama sedang melambai dari langit. menyapaku dari surga yang indah.

Rumahku sangat kecil,

tapi di dalamnya ada cinta yang begitu besar,

tempat aku bisa menaruh semua tangis dan tawa

tanpa pernah takut hilang dan tersesat lagi.”

Selesai menulis, aku membaca ulang tulisanku perlahan.

Setiap kata terasa seperti benang yang menjahit bagian hatiku yang dulu sobek.

Aku menatapnya dan tersenyum kecil. Mungkin ini adalah alasan aku tetap merasa kuat hingga hari ini, mungkin besok dan besoknya lagi. Karena rumah bagiku adalah sebuah tempat untuk kita pulang dari semua kelelahan yang menyinggahi kita. Dan tempat kita bernaung dari badai kehidupan yang entah kapan bisa segera berlalu.

Bu Lily berjalan di antara meja-meja, mengumpulkan kertas kami.

Ketika ia meraih kertasku dan membaca tulisanku, langkahnya mulai terhenti sejenak.

Ia menatapku lama, lalu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Skya,” katanya lembut, “Puisi ini indah sekali. Rumahmu pasti penuh kasih sayang, ya?”

Aku hampir menjawab “iya”, tapi suaraku seperti hilang di tenggorokan.

Jadi aku hanya mengangguk kecil dan tersenyum.


***

Sore harinya, setelah jam pelajaran berakhir, Bu Lily memanggilku ke ruang guru. Aku tidak tahu karena apa aku di panggil Bu guru. Yang aku tahu Ayah sudah membayar uang sekolahku. Lalu kenapa Bu guru memanggilku? Aku bergegas ke ruang guru dan duduk tepat di depan mejanya. Ia menyapaku dan bilang ingin membaca puisiku di acara Hari Guru minggu depan.

Aku kaget.

“Puisi saya, Bu?” tanya ku merasa heran.

“Iya, Skya. Karena kadang tulisan yang paling sederhana, justru yang paling menyentuh.”

Bu Lily membalas dengan senyumnya yang indah, persis seperti bunga lily.

Malamnya aku menceritakan semuanya pada Ayah. Ia mendengarkan semua ceritaku dengan serius sambil memperbaiki motor mainan Ravi.

“Puisi tentang Ayah, ya?” tanyanya sambil tersenyum nakal.

Aku tertawa, “Iya, tapi jangan GR dulu. Ada Mama juga di situ.”

Ayah pura-pura manyun, lalu mengacak-acak rambutku.

Lihat selengkapnya