Sebelum Langit Kehilangan Warna

Anggi Irawan
Chapter #8

Bab 7 - Hujan Yang Terlambat Datang

Pagi berikutnya, langit sudah tampak berat.

Awan kelabu bergulung di atas rumah, seolah menyimpan sesuatu yang tak sabar turun ke bumi.

Ayah berangkat lebih awal dari biasanya, membawa payung hitam dan jaket lusuhnya.

“Ayah pergi dulu ya. Cuma sebentar ke bengkel, nanti pulang sore,” katanya sambil menepuk kepala Ravi.

Ravi tersenyum kecil, “Boleh aku bantu, Yah?”

“Lain kali, Rav. Hari ini Ayah cuma mau beresin mesin yang belum selesai kemarin.”

Aku memperhatikan dari teras. Ayah mulai mengayuh sepedanya, kayuhan sepeda yang perlahan menjauh, lalu menghilang di tikungan. Ada sesuatu dari gowesan itu yang terasa lebih lambat dari biasanya. Ia tak tahu kenapa, tapi pagi itu udara terasa lebih dingin, dan bau tanah basah seolah sudah menunggu sebelum hujan benar-benar turun.

Menjelang sore hari, awan menumpuk semakin rendah. Sepertinya awan akan memuntahkan seluruh isi-isinya. Ravi duduk di dekat jendela, menatap kearah jalanan depan rumah.

“Biasanya jam segini Ayah udah pulang, ya?” tanyanya.

Aku mengangguk, memandangi jam dinding yang berdetak terlalu keras.

“Iya... karena mau hujan, mungkin Ayah mampir dulu.”

Tapi hujan tak kunjung datang. yang datang justru senja yang semakin lama semakin gelap, dengan angin dingin yang membawa aroma tanah basah dari aspal jalanan di depan rumah.

Waktu menunjukan pukul enam lewat, tak lama setelahnya sampai pada pukul tujuh.

Aku mulai gelisah. Aku menyalakan lampu teras, lalu memandangi jalan basah yang makin sepi. Setiap suara roda yang lewat membuatnya berdebar, berharap salah satunya adalah Ayah. Tapi yang lewat hanya bayangan air, cipratan genangan dari roda sepeda motor yang melintas di depan rumah. Dan sambutan suara hujan yang akhirnya datang terlambat, memaksa setiap tetesannya menjadi semakin deras.

“Rav, Ayah belum pulang juga?” tanya ku pelan.

Ravi berlari kearah jendela dan menatap ke luar, matanya mulai berkaca. “Mungkin Ayah kehujanan...”

Aku meraih jaket kuning ku, hendak keluar menyusul ke bengkel tempat Ayah bekerja. Tapi angin terlalu kuat, dan hujan seperti tirai tebal yang menelan pandangan.

“Jangan keluar dulu, Kak,” pinta Ravi sambil menarik ujung bajunya. “Ayah pasti pulang. Ayah kan selalu pulang.”

Kalimat itu menggantung di udara seperti doa.

Namun waktu terus berjalan, dan hujan tak kunjung berhenti.

Di meja makan, sepiring nasi yang ku sajikan untuk Ayah sudah mulai dingin. Dan di kursi tempat Ayah biasa duduk, kuletakkan payung hitam yang niatnya akan ku pakai untuk menjemput Ayah. Namun belum sempat ku gunakan, disisi payungnya sudah basah oleh tetesan air hujan di depan pintu rumah.

Malam itu, langit menangis lebih lama dari biasanya.



***


Pagi datang tanpa cahaya yang masuk ke jendela.

Hujan semalam meninggalkan genangan di halaman, menampung sisa-sisa langit yang terlihat retak. Ravi belum tidur semalaman. Ia duduk di dekat jendela, memeluk lututnya, dan menatap jalan yang masih basah karena hujan.

“Pasti Ayah tidur di bengkel, Kak,” katanya pelan, suaranya serak karena menangis diam-diam semalaman.

Aku hanya mengangguk. Di meja, secangkir kopi yang tadi malam aku siapkan untuk Ayah masih di tempatnya. Terlihat dingin, dengan lapisan tipis minyak di permukaannya. Tak seorang pun punya hati untuk membuangnya.

Aku mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan Ayah, mencoba untuk berpikir positif, tapi dadanya terasa aneh saat ini, seperti ada sesuatu yang menempel di sana, berat dan dingin. Karena belakangan, Ayah sering batuk. Kadang suaranya serak sampai aku harus memanaskan air jahe diam-diam, lalu meletakkannya di meja sebelum tidur. Ayah selalu bilang, “Ayah kuat, Nak. Cuma masuk angin.”

Tapi aku tahu, batuk itu bukan cuma masuk angin. Aku tahu dari cara Ayah berjalan lebih pelan dari biasanya, juga dari matanya yang sering memejam di sela-sela makan malam.

Sekitar pukul delapan pagi, suara langkah pelan terdengar di depan rumah.

Ketukan di pintu. Tiga kali. Pelan. Tapi cukup untuk membuat jantungku berhenti sesaat.

Aku membuka pintu. Di sana berdiri Pak Seno, tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan bengkel tempat Ayah bekerja. Wajahnya basah, entah karena air hujan atau karena air mata yang coba ia disembunyikan.

“Kya...” suaranya berat, “boleh Bapak masuk sebentar?”

Aku menyingkir, mencoba memberi jalan.

Ravi muncul dari ruang tengah, menatap penuh harap. “Pak Seno, Ayah di mana?”

Pak Seno menunduk lama. Tangannya meremas topi lusuh yang basah di genggamannya.

“Tadi malam... Ayahmu... dia jatuh di bengkel. Kami sudah bawa dia ke rumah sakit.” Pak Seno mulai berhenti bicara, menarik napas panjang.

Dan untuk beberapa detik, aku tak bisa berbicara. Seolah udara di sekitar ikut membeku. Dan seketika itu juga semua ingatan kenangan ku tentang Mama mulai muncul lagi. Kenangan pahit tentang kehilangan Mama yang sedikit demi sedikit mulai bersahabat denganku, kini terlintas lagi di benakku. Rasa sedihnya, rasa sakitnya, bahkan semua rasa perih yang tak ingin aku rasakan lagi seketika terulang kembali.

Aku menatap Ravi yang masih berdiri penuh harap. Pelan-pelan aku mulai berkata dengan suara bergetar,

“Ravi, kita harus ke tempat Ayah sekarang.”

Rumah sakit itu tak jauh dari rumahku. Pak Seno yang mengantar kami kesana. Tapi bagi aku, perjalanan terasa seperti menembus kabut panjang yang tak ada ujungnya. Di sepanjang jalan, lampu-lampu kota terlihat redup, seperti mata yang ikut menunduk.

Begitu sampai, aku melihat Ayah terbaring di ranjang kecil. Wajahnya pucat, napasnya pelan.

Ada jarum infus di tangan kirinya, dan suara mesin kecil berdetak di sisi ranjang.

“Pak Sam kelelahan berat,” kata dokter pelan. “Mungkin sudah sakit sejak beberapa minggu, dilihat dari kondisinya, pak Sam sepertinya terus memaksakan diri untuk bekerja.”

Aku menatap wajah Ayah yang tenang tapi terasa asing. Seolah waktu telah mengambil sebagian darinya.

“Kenapa ayah nggak bilang…” bisik ku pelan. Dan tak seorang pun yang mendengar suaraku.

Ravi menggenggam tangan ku erat.

“Kak… Kakak, Ayah kenapa?”

Aku menyeka air matanya. “Nggak apa-apa. Ayah cuma kelelahan.” suara ku bergetar, seperti daun yang ditiup angin pelan-pelan.

Di luar, hujan masih turun dengan deras.

Lihat selengkapnya