Sebelum Langit Kehilangan Warna

Anggi Irawan
Chapter #9

Bab 8 - Langit dan Matahari

Hari ini adalah hari terakhir aku melihat wajah Ayah. Alat detak jantung yang dokter pasang menunjukan garis lurus, garis yang sama seperti aku kehilangan Mama dulu. Suara mesinnya menggetarkan hati dan perasaanku. Perasaan yang paling aku takutkan akhirnya terulang lagi. Para suster mencoba memeluk aku dan Ravi, mencoba menenangkan kami. Pak Seno dan beberapa tetanggaku mulai datang ke rumah sakit. Beberapa dari mereka bersedih, bahkan ada yang menangis. Entah menangisi kepergian Ayah, atau karena iba dengan aku dan Ravi. banyak kata-kata yang aku terima dari tetanggaku dan pak Seno. kalimat yang sama yang aku terima secara berulang.

“Kya anak yang kuat, jaga Ravi ya”

“Kalian anak yang hebat.”

“Yang sabar ya Kya, Ravi.”

“Doakan Ayah ya Kya.”

Aku tak bisa membalas satu katapun dari kalimat yang mereka ucapkan untuk ku dan Ravi.

Yang bisa aku lakukan sekarang adalah menangis dan memeluk erat Ravi. Walaupun keadaan harus menuntut ku untuk menjadi seorang yang dewasa lebih cepat, tapi tak bisa di pungkiri kalau aku hanyalah seorang anak berumur sepuluh tahun yang harus kehilangan Ayah dan Mama di umurku yang orang-orang bilang masih terlalu kecil untuk hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua.

Ambulans mengantarkan jenazah Ayah pulang kerumah. Aku, Ravi, dan pak Seno mendampingi jenazah Ayah di belakang. Iring-iringan dan suara sirine mobil ambulans menghancurkan perasaan ku saat ini. Mencabik-cabiknya sampai masuk ke dalam sum-sum diantara tulang-tulangku. Biarlah ini menjadi rahasia ku saja, yang akan aku simpan di hati selamanya. Mungkin waktu itu aku mengharapkan Ayah pulang dari lelahnya bekerja dengan perasaan gembira. Tapi kenyataannya sekarang Ayah harus pulang kerumah untuk yang terakhir kalinya dengan membawa kabar duka. Entah kesalahan apa yang aku perbuat, hingga Tuhan memberikan ku cobaan yang bertubi-tubi. Seolah tak ingin memberikan kesempatan untuk anak kecil ini tahu rasanya tumbuh dewasa dengan berbekal kebahagiaan. Satu yang aku tahu, kesalahan terbesarku saat ini adalah, aku belum sempat berterima kasih kepada Ayah atas semua perjuangan dan rasa lelah yang belum bisa aku balas satu persatu.

Mungkin sekarang Ayah sudah selesai dengan rasa lelahnya mengurus dan membesarkan kami berdua. Tapi aku masih belum bisa menerima kenyataan kalau harus kehilangan rasa hangat dari tubuh Ayah saat memeluk kami berdua. Kenapa lagi dan lagi harus air mata yang di paksa keluar dari tempatnya? Kenapa lagi dan lagi harus kabar duka yang aku terima dari atas langit yang aku kira birunya membawa kebahagiaan? Dan kenapa lagi, lagi, dan lagi harus aku orangnya? Aku juga ingin bahagia seperti anak-anak lain seusia ku. Bahagia seperti mereka yang memiliki keluarga yang lengkap. Mana keluarga cemara yang orang-orang bilang itu menghangatkan? Bahkan Tuhan pun enggan untuk memberikan ku kehangatan itu. Bahkan yang mereka sebut sebagai keluarga cemara itu pun tak mau mendekati diriku ini. Apa ini cobaan untuk ku, atau ini sebuah kutukan?

Kebahagiaan seperti apa yang kau siapkan untuk ku didepan sana wahai Tuhan pemilik alam semesta ini, sampai kau berikan aku cobaan sedemikian hebatnya seperti ini? Jika memang cobaan itu datang kepada mereka yang kuat menerimanya, apakah aku salah satu ciptaan mu yang pantas menerima semua ini? Tolong Tuhan… Tolong berikan aku kekuatan untuk mengikhlaskan semuanya.

Skya adalah nama pemberian Mama yang berarti langit, tapi kenyataannya sekarang aku tidak sekuat langit yang bisa menopang dirinya sendiri dan tetap berdiri kokoh di atas sana walau tanpa bantuan pilar dibawahnya. Ravi juga nama pemberian Mama yang berarti matahari, tapi yang aku saksikan sekarang dia sangat rapuh, tidak seperti matahari yang bisa menciptakan cahaya dan memberikan kehangatan untuk dirinya sendiri. Sekarang aku dan Ravi harus menyusun ulang semua serpihan dari pecahan hati kami yang dihancurkan berkali-kali.



***

Langit seolah tahu cara berduka.

Sejak pagi, awan menebal, menggantung rendah di atas perbukitan tempat pemakaman berada.

Ravi menggenggam tangan ku erat, jarinya dingin, basah oleh embun dan air mata yang belum kering. Payung-payung hitam berbaris rapi di antara nisan-nisan. Tanah merah mulai lembek, menempel di sepatu, di ujung celanaku, di kenangan yang tak ingin dilepas.

Orang-orang berdiri dalam diam. Tak ada suara kecuali doa yang bergumam pelan dan bunyi tanah jatuh ke peti.

“Duk... duk... duk…”

Seperti irama pelan dari jantung yang merasakan sebuah kehilangan.

Ravi menatap liang itu lama.

Ia tidak menangis keras. Ia hanya memandang, dengan mata yang terlalu kecil untuk menampung kehilangan sebesar itu.

“Yah...” bisiknya lirih, “aku belum sempat bilang maaf dan terima kasih ke Ayah.”

Aku hanya bisa menunduk, bahuku terasa bergetar.

Aku ingin memeluk Ravi, tapi tangan ku mencoba menggenggam payung yang hampir jatuh karena tertiup angin. Kalau aku bicara, mungkin aku akan kembali menangis. Jadi aku lebih memilih diam. Membiarkan air hujan menggantikan semua kata yang tidak sanggup keluar dari mulut ku.

Lihat selengkapnya