Hari pertama tanpa Ayah terasa seperti rumah yang lupa caranya untuk bernapas.
Udara di sekeliling ku mendadak diam. Dinding-dinding rumah seolah lebih tebal dari biasanya. Menutupi setiap suara hiruk pikuk dunia luar. Tak ada tawa, tak ada canda, tak ada senyuman pagi hari, sunyi seperti hadir melanda setiap detiknya, seolah tak ingin ada semua itu lagi dirumah ini.
Langit memang terlihat cerah di luar seperti cerita-cerita musim semi yang sering aku lihat di acara televisi bersama Ravi, tapi entah mengapa di dalam rumah terasa seperti musim gugur yang datang lebih awal. Rumah ini benar-benar telah kehilangan bunga terbaiknya, layu, gugur, dan menanggalkan semua kelopaknya. Bunga yang semula indah kini telah pergi, seolah lebih memilih untuk meninggalkan kedua tangkainya yang belum siap untuk tumbuh lebih tinggi hingga menggapai langit.
Sejak pagi hingga menjelang sore suasananya sungguh sangat berbeda. Pagi yang datang tanpa senyuman dan sore yang hadir lewat cahaya yang jatuh dengan cara yang berbeda. Cahaya itu datang lebih lambat, lebih berat, seperti menolak memberikan sinar hangatnya kepada malam yang dingin.
Pagi berikutnya aku mulai dengan membiasakan diri membuka pintu depan lebih awal. Hal yang biasa dilakukan Ayah hampir setiap pagi, disaat aku dan Ravi masih tertidur dan mungkin masih bersenang-senang dengan mimpi-mimpi kami. Aroma tanah basah masih tersisa dari hujan semalam. Semalam hujan turun dengan sangat deras, apa langit tahu kalau aku sedang bersedih? Sepertinya langit juga ikut bersedih. Tapi pagi ini langit sangat cerah, seperti ingin memberitahukan ku untuk jangan terus bersedih. Burung-burung bertengger di kabel listrik, dan suara kendaraan dari kejauhan terdengar seperti gema di dunia yang berbeda. Dunia yang tetap berjalan tanpa menunggu aku untuk sembuh.
Di teras rumah, kursi rotan Ayah masih di tempatnya.
Sedikit miring ke arah barat, menghadap langit pagi yang masih setia dengan warna birunya dengan sedikit awan putih di sekitarnya. Di atas meja kecil di sebelahnya, ada cangkir retak dan koran yang terlipat rapi, seolah Ayah baru saja duduk sebentar, lalu pergi lagi entah kemana.
Aku berjalan mendekati kursi itu, menyentuh sandaran kursi yang dingin dan lembab.
Di sisi permukaannya terasa hangat oleh sinar matahari, rasa hangat yang cukup untuk memberi kekuatan bunga-bunga agar mekar di pagi hari.
Aku menarik napas panjang, dan perlahan duduk di kursi itu. Rasa hangat ini yang selalu Ayah rasakan setiap pagi disaat kami libur sekolah. Karena saat kami libur sekolah, Ayah tidak akan terlalu sibuk untuk menyiapkan keperluan aku dan Ravi, jadi Ayah bisa sedikit bersantai di kursi ini. Tiba-tiba Ravi datang membawa dua gelas air putih. Lalu duduk di lantai, bersandar di lutut ku.
“Kak, kenapa kursinya nggak kita pindahin aja?” tanya Ravi.
Aku menatap kursi itu sejenak.
“Biar tetap di sini saja, Rav. Kursi ini... sudah tahu banyak menyimpan cerita kita. Biar saja menjadi tempat Ayah untuk pulang.”
Ravi mengangguk. Ia menatap langit di depan rumah. warnanya lembut, seperti kapas yang dibasuh air mata senja.
“Hari ini cerah ya, kak. Langitnya biru. Aku rindu Ayah, Kak.”
Aku mencoba mengusap rambutnya perlahan.
“Aku juga, Rav. Mungkin... Ayah sekarang sudah sama Mama dilangit. Ayah dan Mama sekarang bisa melihat kita setiap pagi, dari langit.”
Hening.
Hanya suara angin yang lewat di sela pot bunga melati, membawa aroma bunga dan sedikit debu-debu jalanan. Seekor kupu-kupu kuning melintas perlahan, hinggap di sandaran kursi ayah. Ravi tersenyum kecil.
“Lihat, Kak... mungkin itu Ayah.”
Aku menatap kupu-kupu itu, lalu menunduk, menahan air mata yang akhirnya jatuh juga.
Sore harinya, aku berdiri di teras rumah. Ya… anak kecil yang berdiri dengan satu kursi kosong di sebelahnya. Aku tidak bicara banyak kali ini, hanya terdiam dan membiarkan cahaya senja memeluk tubuhku. Dan ketika matahari akhirnya mulai tenggelam, aku memejamkan mataku, lalu berbisik dalam hati,
“Selamat sore, Ayah... hari ini langitnya indah, kalau Ayah disana, aku cuma mau bilang terima kasih karena telah menjadi Ayah yang hebat untuk aku dan Ravi.”
Di kursi kosong itu, cahaya jingga terakhir berhenti sejenak. Seolah menunggu sebentar untuk memberi sedikit warna jingganya sebelum malam mengambilnya perlahan.
***