Sebelum Langit Kehilangan Warna

Anggi Irawan
Chapter #11

Bab 10 - Langit di Rumah Bibi Mira

Rumah Bibi Mira lebih besar dari rumah kami, tapi anehnya rumah ini terasa lebih sempit. Setiap sudutnya terlalu rapi, terlalu sunyi, dan tak ada tempat untuk suara tawa Ravi atau langkah kecil ku yang terbiasa berlarian di halaman. Karena di rumah Bibi Mira, semua hal dilakukan dengan aturan. Jam makan selalu tepat waktu, piring harus dicuci bersih setelah makan, tak boleh membuat kamar berantakan, dan sepatu tak boleh ditinggal sembarangan di depan pintu. Bibi Mira bukan orang jahat, hanya orang yang sangat sibuk, bahkan terlalu sibuk. Jika Bibi sudah mulai bekerja di toko rotinya, selalu tidak pernah ingat waktu, dan tidak jarang pula ia sering pulang larut malam. Hari-hari kami sering di temani oleh Mbok Tuti, pembantu tua yang jarang bicara. Sama halnya seperti pak Soleh, Mbok Tuti juga sudah lama bekerja dengan Bibi Mira untuk mengurusi rumah Bibi. Sebenarnya pak Soleh itu adalah supir Bibi Mira, tapi mungkin Bibi memberikannya pekerjaan untuk mengawasi rumah kami. Dirumah ini mungkin aku tidak akan banyak tersenyum, dan menemukan titik kenyamanannya akan membutuhkan waktu buat aku dan Ravi. Karena tak semua dinding bisa jadi tempat sandar, begitu pula dengan manusia yang ada di dalam rumah manapun. Aku butuh waktu untuk beradaptasi dengan keadaan baru ku ini.

Seperti hari-hari biasa, pagi ini datang tanpa ada senyuman dan canda tawa. Aku duduk di meja makan dengan seragam sekolah yang sedikit kebesaran. Aku baru tahu, ternyata Bibi Mira mengatur semua kepindahan sekolah kami, ke sekolah yang baru. Dan sekolah itu dekat dengan rumah Bibi.

Ravi masih berusaha mengancing bajunya sendiri, tapi kancing yang ada di paling atas selalu saja salah lubang. Kali ini aku membantunya tanpa banyak bicara. Karena biasanya Ayah lah yang membantu Ravi memakaikan seragam sekolahnya.

“Kak, kalau kita udah gede, kita bisa balik ke rumah Ayah lagi?” tanya Ravi, sambil menunduk memperhatikan kancing bajunya. Aku berhenti sejenak, lalu menjawab pelan,

“Mungkin bisa, Rav. Tapi sekarang belum. Makanya sekarang kita harus belajar sungguh-sungguh, kalau kita sukses nanti, kita bisa kembali ke rumah Ayah lagi.”

Ravi mengangguk, meski jelas wajahnya menunjukan ketidakpuasan atas jawabanku itu. Karena mungkin saja Ravi sedang berpikir, kalau hal itu akan memakan waktu yang sangat lama untuk bisa kembali ke rumah kami lagi.


***


Di sekolah yang baru, Aku duduk di bangku paling belakang. Teman-teman sekelas ku sangat ramah, tapi jelas aku rindu dengan semua teman-teman ku di sekolah yang lama. Aku masih harus membiasakan diriku dengan lingkungan yang baru, Teman yang baru, guru yang baru, dan suasana kelas yang juga baru. Aku tidak terlalu banyak bicara hari ini. Hanya mendengarkan Ibu guru yang menjelaskan tentang pelajaran didepan kelas. Hari ini Bu guru mengajari kami tentang kehidupan bersosialisasi. Hidup sosial kepada keluarga, dan hidup sosial kepada tetangga. Ketika Bu guru bertanya tentang arti keluarga kepadaku, dan peran masing-masing dalam keluarga, dengan polosnya aku hanya menjawab,

“Ayah dan Mamaku sudah tidak ada Bu. Sekarang aku dan adikku tinggal sama bibi.”

Mendadak hal itu membuat Bu guru terkejut, dan langsung meminta maaf kepadaku. Sebenarnya aku tidak masalah dengan itu semua. Aku hanya mau dilihat sebagai anak yang kuat, dan tidak memandang iba terhadap diriku dan juga Ravi. Karena dulu Ayah sering mengajari kami tentang arti dari hidup yang lebih kuat dan harus bisa mandiri. Lebih tepatnya “berdiri di atas kakiku sendiri,” begitu kata ayah. Mungkin orang dewasa hanya bisa memandang aku dan Ravi dengan tatapan iba, tanpa tahu seberapa berat perjuangan kami untuk sembuh dan berdamai dengan keadaan seperti ini. Bila terus di bumbui dengan rasa kasihan terhadap kami, kami tidak akan pernah bisa berteman dengan rasa kehilangan itu.

Setiap bel pelajaran berakhir, kami lantas bergegas untuk segera pulang. Hal yang sangat tidak aku sukai ketika beranjak pulang adalah aku selalu melihat anak-anak lain dijemput ayah atau ibu mereka. Beberapa anak ada yang berlari sambil tertawa, lalu memeluk orang tua mereka dengan spontan. Sedangkan aku hanya berdiri di tepi gerbang, menggandeng Ravi, menatap satu per satu mobil yang pergi. Mungkin aku hanya iri dengan mereka yang masih memiliki orangtua yang lengkap. Aku disini hanya tenggelam dalam riuh yang asing, dan berdiri di titik hening. Mencoba mengangkat piala kebahagiaan itu sendiri, dan merayakan sisa-sisa diriku yang selamat dari badai besar yang menerpa hati. Aku dan Ravi hanya bisa merayakan setiap luka yang menjelma menjadi sebuah rasa ikhlas dan kebijaksanaan.

“Mereka semua dijemput, Kak. Kita nggak,” kata Ravi, matanya menerawang.

“Nggak apa-apa, Rav. Kita kan bisa pulang berdua.” jawabku cepat.

Aku mencoba tersenyum, tapi entah mengapa senyum itu seolah menggigil di ujung bibir.


***


Malamnya, ketika Bibi Mira pulang, Aku mencoba menatapnya dari dapur.

Wanita itu tampak lelah. Ia melepaskan sepatu, duduk di kursi, dan membuka laptop sambil menyeruput teh. Bibi tampak sedikit terkejut saat melihatku berjalan keluar dari dapur, lalu memanggilku dan menyuruhku untuk duduk disebelahnya.

“Kamu dan Ravi betah tinggal di sini?” tanyanya tanpa menoleh, serta pandangan matanya yang masih tertuju ke arah laptop.

“Iya, Bi,” jawab ku singkat.

“Kalau ada apa-apa, atau kalian perlu apa-apa, bilang ya. Bibi masih sibuk mengurus toko, jadi Bibi belum bisa menemani kalian. Jangan pernah sungkan ya Kya, Bibi kan masih keluarga kalian juga.”

Kata keluarga terdengar indah, tapi entah kenapa terasa sangat jauh.

Aku hanya bisa mengangguk saja, meski hatiku kini masih seperti menggantung di rumah lama, ya… rumah yang masih menyimpan aroma ayah, wangi ibu, dan kehangatan udara disekitar pohon mangga di halaman rumah, tempat aku dan Ravi biasa bermain di sore hari. Rindu saat malam hari, dimana aku dan Ravi bernaung di bawah atap rumah ayah, mendengarkan suara hujan yang jatuh seperti semua kenangan yang tak ingin pergi dari kami.


***


Beberapa minggu kemudian, Ravi mulai jarang bicara.

Ia lebih sering duduk di pojok kamar, menggambar rumah lama kami di buku gambar dengan menggunakan krayonnya. Ada beberapa gambar di buku gambarnya itu. aku juga melihat ia menggambar orang yang terlihat seperti Ayah sedang berdiri di depan rumah, seolah sedang melambaikan tangan.

“Ravi, udah malam. Tidur, yuk.”

“Aku mau gambar Ayah dulu. Takut nanti lupa wajahnya,” jawab Ravi lirih.

Aku tak menjawab apapun. Aku mencoba memeluk Ravi pelan dari belakang, menatap gambar sederhana itu. Rumah dengan dua jendela, satu pohon mangga, dan dua anak kecil di depannya. Tak lupa dengan gambar bunga matahari di samping rumah itu.

Tapi tak ada Mama di gambar itu. Juga tak ada Bibi Mira.

Sekilas terlihat seperti kami berdua, dengan sosok Ayah yang tersenyum.

Malam itu, aku menulis sesuatu di buku harianku lagi. Kali ini hanya tulisan singkat, tanpa bait seperti puisi yang sering aku tulis di buku harianku.

“Ikhlas bukan hanya tentang menenangkan hati disaat kita sedang diuji, tapi belajar menerima kehilangan juga termasuk dari sebuah keikhlasan itu sendiri.”

Aku menutup buku harianku, dan meletakannya di bawah bantal ku. Di luar, suara jangkrik terdengar sayup. Lampu kamar redup. Dan untuk kesekian kalinya aku menengok ke arah Ravi, ternyata Ravi sudah tertidur disampingku, masih memeluk gambar Ayah dengan rumah itu. Aku beralih pandangan. Kali ini aku menatap ke arah langit-langit kamar, aku berdoa, meminta dalam keheningan malam. Bukan meminta untuk Ayah kembali, bukan meminta semuanya seperti dulu lagi. Aku hanya meminta satu hal,

“Tolong jaga kami, Ayah. Soalnya aku capek pura-pura kuat.”

Pagi ini, udara masih berembun dan Cahaya matahari kembali memberikan kehangatan lewat sebagian sinarnya yang menembus jendela kecil di dapur rumah Bibi Mira. Aku berdiri di depan meja dapur, menyiapkan bekal untuk aku dan Ravi seadanya. Nasi goreng sederhana dan telur mata sapi. Bibi Mira selalu menyiapkan semua bahan-bahan makanan untuk dimasak di dapur. Walaupun Bibi selalu bilang kalau sarapan akan di buatkan Mbok Tuti, tapi aku tidak ingin merepotkan Bibi dan Mbok Tuti selama disini. Lagi pula Ravi selalu suka dengan masakan nasi goreng ku. Ayah yang mengajariku memasak nasi goreng, walaupun kadang sering keasinan. Tapi tetap saja Ravi selalu bilang masakan aku yang terenak.

Di kursi ujung meja, Ravi duduk diam, memandangi sendoknya yang berkilat terkena cahaya matahari. Biasanya, pagi-pagi seperti ini selalu diisi dengan tawa Ayah yang bercampur dengan bunyi radio tua dan aroma kopi yang menenangkan. Tapi sekarang, hanya suara sendok makan Ravi yang beradu pelan dengan piring.

“Ayah biasanya suka lupa tambahin garam,” kata Ravi tiba-tiba, menatap nasi di piringnya.

Aku tersenyum kecil, meski mata ku terasa berkaca-kaca. “Iya, tapi kita tetap makan sampai habis walaupun kurang asin. Makanya Kakak selalu tambahin garam untuk nasi gorengnya, Rav.”

Ravi mengangguk. “Tapi kadang nasi goreng Kakak terlalu asin, tapi tetap enak, Kak.”

Aku dan Ravi tertawa setelah percakapan pagi itu. Rasanya sangat hangat sekali. Aku dan Ravi makan perlahan. Di dapur ini, waktu berjalan lambat. terlalu lambat, seolah setiap menitnya kami sedang di ajari cara baru untuk berlalu tanpa suara yang biasa mengisi pagi hari.

Di luar jendela terlihat daun-daun jati mulai gugur satu per satu. Angin membawa satu daun kecil masuk lewat jendela, jatuh tepat di meja makan.

Ravi memungutnya, menatap warna cokelatnya yang nyaris pudar.

“Sepertinya Ayah hadir menemani kita pagi ini, ya, Kak? Aku harap Ayah terus ingat sama kita… Aku rindu pulang ke rumah, Kak.”

Aku menatapnya lama.

Lihat selengkapnya