Sebelum Langit Kehilangan Warna

Anggi Irawan
Chapter #12

Bab 11 - Cerita Langit Ayah

Pagi belum benar-benar terang ketika aku melihat sepatu Skya yang robek di ujungnya.

Sepasang sepatu kecil berwarna putih yang kini tak lagi putih. Jahitannya terlepas, solnya mulai terbuka. Tapi anak itu tetap memakainya setiap hari, seolah tak mau mengeluh. Aku tahu kenapa. Dia tak mau aku merasa terbebani.

Kupandangi sepatu itu lama sekali, lalu kuambil jarum dan benang yang biasa kupakai untuk memperbaiki sarung tangan bengkel. Tanganku bergetar sedikit, mungkin karena dingin pagi, atau karena aku takut gagal memperbaiki sesuatu yang bagi anakku mungkin sangat berharga.

Aku bukan ayah yang pandai berkata-kata.

Aku juga tak tahu bagaimana menenangkan hati anak perempuan yang kehilangan Mamanya di usia sembilan tahun. Yang bisa kulakukan hanya memastikan sepatunya tidak berlubang, bajunya tidak sobek, dan makannya cukup tiga kali sehari.

Sementara aku sendiri... sering lupa makan.

Ketika Kya keluar kamar, rambutnya masih acak-acakan, matanya setengah tertutup.

“Yah, ngapain?” katanya sambil menguap.

Aku tersenyum, berusaha menyembunyikan benang yang kusut di tanganku.

“Sepatumu mau Ayah perbaiki. Biar nanti nggak kepleset waktu lari di sekolah. Dan tidak tembus air saat menginjak genangan air hujan dijalan.”

Dia melihatku, lalu menunduk.

“Maaf ya, Yah... aku lupa bilang kemarin.”

Aku menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Sepatu robek masih bisa dijahit. Yang penting kamu nggak robek hatinya.”

Dia tertawa kecil. Suara tawa yang jarang kudengar sejak Mamanya tiada.

Dan entah kenapa, suara itu membuat pagi terasa lebih hangat daripada secangkir kopi.

Setelah Kya dan Ravi berangkat sekolah, aku duduk lama di teras.

Angin membawa aroma sabun cuci dari rumah tetangga, dan matahari pelan-pelan muncul di ujung gang. Aku menatap langit, seperti kebiasaanku setiap pagi.

“Lihat, Sayang,” bisikku pelan, “Skya makin mirip kamu sekarang.”

Sudah satu tahun sejak istriku pergi.

Aku masih bisa mengingat semua hal kecil tentangnya. Cara dia melipat baju anak-anak, aroma jahe di teh paginya, senyum sabar setiap kali aku lupa ulang tahun pernikahan kami.

Sekarang, setiap hal kecil itu cuma tinggal di kepalaku, bergema dalam keheningan yang panjang.

Malamnya, Kya mendatangiku dengan sepatu di tangannya.

“Yah, ini sudah dijahit? Rapi banget.”

Aku tertawa kecil. “Nggak rapi, cuma kuat. Kadang, yang penting itu bukan kelihatan bagus, tapi biar tahan lama.”

Dia memelukku singkat. Pelukan kaku anak kecil yang belum terbiasa mengungkap sayang.

Tapi pelukan itu... cukup untuk membuatku menahan air mata.

“Kya,” kataku pelan, “Ayah janji, nggak akan biarin kamu dan Ravi kekurangan apa pun. Mungkin nggak bisa ngasih banyak, tapi Ayah akan ada sampai kalian nggak butuh Ayah lagi.”

Dia mengangguk, tidak sepenuhnya paham arti kalimat itu. Tapi aku tahu suatu hari nanti, dia akan mengingat janji ini. Dan mungkin… mengerti kenapa setiap malam, aku menatap foto Mamanya sambil berkata,

“Tenang ya, Sayang. Aku masih di sini. Menjaga dunia kecil kita yang tersisa.”


***


Hari ini panas sekali.

Langit cerah, tapi hati rasanya berat.

Aku baru pulang dari bengkel, uang di saku tinggal beberapa lembar. Cukup untuk beli beras dan minyak, tapi Ravi sudah seminggu merengek soal sepatunya yang bolong juga.

Dia memang tidak pernah minta banyak, akan tetapi ia sering sekali berdiri di depan toko sepatu di pinggir jalan setiap kali kami lewat. Aku pura-pura tidak melihatnya, tetapi hal seperti itulah yang membuat diriku tidak bisa melupakan atau berpura-pura lupa… dada ini rasanya sesak.

Sore itu, aku pulang lebih cepat. Di tangan ku saat ini, ada kantong plastik kecil berisi sepasang sepatu bekas yang aku temukan di pasar loak. Warnanya biru muda, solnya mulai terlihat agak renggang, tapi masih sangat bagus. Aku membersihkannya tadi siang dengan sabun cuci di bengkel, lalu ku keringkan di bawah sinar matahari siang. Ketika Ravi melihatnya, matanya langsung berbinar.

“Ini buat aku, Yah?”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Cuma sepatu bekas, tapi Ayah udah gosok sampai kinclong. Kalau dipakai, pasti kelihatan baru.”

Ravi lantas memelukku dengan erat.

Dan untuk sekejap, semua lelah di tubuh ini hilang.

Dan malamnya, aku duduk di depan rumah.

Kya sedang belajar, Ravi sudah tertidur sambil memeluk sepatunya. Aku memperhatikan langit yang mulai memudar warnanya.

Kadang aku merasa bersalah.

Aku tahu mereka berhak punya masa kecil yang lebih indah dari ini. Bukan rumah yang bocor, bukan nasi dengan lauk seadanya. Tapi aku hanya bisa berusaha. Aku menatap tangan ini, kapalan, hitam, penuh luka kecil dari bengkel. Tangan yang dulu sering digenggam istriku, sekarang cuma sibuk memegang kunci pas dan kain lap.

Lalu dari balik pintu, suara kecil memanggil.

“Ayah, Kya boleh duduk di sini?”

Aku menoleh, Kya datang membawa dua gelas air putih.

“Buat Ayah,” katanya pelan.

Lihat selengkapnya