Langit sore itu berwarna jingga keemasan.
Sisa hujan tadi pagi masih menempel di ujung daun mangga, memantulkan cahaya matahari yang perlahan turun di balik gedung-gedung baru di kejauhan.
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan rumah tua tanpa pagar dan dikelilingi banyak sekali alang-alang liar di pinggiran temboknya. Serta kursi kayu tepat di teras depan rumah yang mulai lapuk dimakan waktu. Cat dindingnya mengelupas, namun bentuknya masih sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Rumah itu berdiri tenang, seolah menunggu seseorang untuk kembali membuka pintunya.
Dari dalam mobil, seorang perempuan keluar.
Langkahnya pelan, tapi mantap. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya teduh, matanya membawa lelah yang tenang.
Dialah Skya. Kini berusia tiga puluh tahun, seorang penulis novel yang kisah-kisahnya banyak berbicara tentang kehilangan dan rumah untuk pulang.
Dari kursi belakang mobil, seorang pria muda turun sambil menenteng kamera.
Rambutnya agak acak-acakan, namun senyumnya hangat. Ravi. Kini berusia dua puluh tujuh tahun. Seorang fotografer yang selalu menjadikan kenangan dan langit sebagai tema dari setiap potret yang ia ambil dan disuguhkan lewat majalah ternama di kota xx.
Keduanya berdiri diam di depan rumah tua itu.
Udara sore membawa aroma tanah basah dan debu masa lalu. Wangi bunga melati yang tumbuh liar di halaman menambah kenangan masa lalu mereka.
Pintu kayu itu berderit saat Ravi membukanya, suara yang dulu begitu akrab di telinga mereka.
“Kak,” Ravi berkata pelan, “rasanya aneh ya… bisa balik ke sini lagi.”
“Iya,” jawab Kya, suaranya seperti bisikan angin. “Aneh, tapi… hangat. Kayak pulang ke sesuatu tempat yang sangat jauh dan selalu menunggu pemiliknya untuk kembali lagi memberi warna di tiap harinya.” sambung Kya.
Begitu mereka masuk, aroma kayu tua langsung menyambut. Ditambah aroma debu-debu yang bertebaran menusuk hidung mereka. Cahaya sore masuk lewat jendela, memantul pada debu-debu kecil yang menari di udara.
Di ruang tamu, foto lama Ayah dan Mama masih tergantung di dinding. Sedikit miring, tapi masih utuh dengan warna yang sedikit berubah kekuningan. Di bawahnya, di atas meja kayu yang kini berdebu, tergeletak selembar kertas bergambar.
Ravi menunduk.
Tangannya menyentuh kertas itu perlahan, seolah takut merusaknya.
“Kak… ini?”
“Gambar kamu,” potong Kya dengan senyum samar. “Masih di sini, Rav. Aku taruh waktu kita pindah dulu. Sengaja aku letakan di meja itu. Ternyata Pak Soleh nggak banyak merubah isi rumah ini.”
Ravi duduk, matanya memandangi gambar ditangannya itu lama.
Gambarnya sudah mulai pudar, tapi bentuknya masih jelas. Rumah kecil, dua anak berdiri di depan pintu, dan dua sosok bersayap di langit.
Di bawahnya tertulis,
KITA SEMUA MASIH SATU RUMAH.
Air mata Ravi menetes tanpa ia sadari.
Ia tersenyum sambil mengusap pipinya cepat-cepat.
“Aku waktu itu nggak ngerti kenapa gambar ini penting banget buat Kakak.”
“Karena waktu itu cuma gambar ini yang bikin aku percaya… kalau kehilangan nggak selalu berarti pergi,” jawab Kya pelan. “Kadang kehilangan cuma merubah tempat dan keadaan saja.”
***
Malam turun secara perlahan.
Lampu minyak menyala di ruang tamu, menciptakan cahaya temaram yang membuat semuanya terasa seperti masa lalu yang hidup kembali.
Ravi menyiapkan tripod di pojok ruangan, mengatur fokus kameranya.
“Aku mau foto rumah ini, Kak” katanya sambil tersenyum kecil. “Buat proyek dokumenterku. Tentang tempat-tempat yang pernah ditinggalkan tapi masih terus bernafas.”
“Bagus sekali,” balas Kya, menatap ke arah kamera.
“Aku juga lagi nulis novel baru. Tentang dua anak yang mencari langitnya lagi setelah kehilangan warnanya.”
Ravi menoleh. “Kayak kita, ya?”
“Kayak kita,” jawab Kya dengan lembut.
Mereka kemudian duduk di teras rumah, membawa dua cangkir teh panas.
Udara malam yang menenangkan, penuh suara jangkrik dan semilir angin.
Dari sana, langit terlihat luas, dihiasi bintang-bintang yang berkerlip samar.
Kya menatap ke atas langit, lalu tersenyum kecil.
“Dulu aku sering nulis surat ke Ayah dan Mama dari sini,” katanya lirih. “Sekarang aku pengin bilang sesuatu yang belum pernah sempat aku ucapkan.”
“Apa, Kak?”
“Kalau kami baik-baik saja sampai di titik ini. Itu berarti kami sudah tumbuh dewasa. Dan kami nggak lagi takut sama sebuah kehilangan. Bahkan kami sudah sembuh dari semua luka-luka itu, dan berdamai dengan kehilangan itu sendiri.”
Ravi diam, lalu memotret langit malam itu. Klik… kameranya terdengar lembut, seolah menangkap bukan cuma pemandangan, tapi juga kehangatan yang menggantung di udara.
“Kak,” katanya pelan, “liat deh… langitnya bersih banget malam ini.”
Kya mengangguk, suaranya hampir seperti bisikan doa. “Iya, Rav. Langitnya sudah nggak abu-abu lagi. Karena langitnya sudah cerah lagi, sepertinya mulai besok kita harus membersihkan rumah ini lagi, Rav. Kita harus mewarnai semuanya dari awal.”
“Setuju!” Balas Ravi dengan senyuman hangat di wajahnya.