"Leburkan rupa. Teguklah rasa. Pulanglah pada mereka."
Sreeek.
Besi tua itu merobek serat kayu mahoni yang tersalut jelaga hitam, membelah permukaannya dan melahirkan selokan putih yang dalam.
Kakek menjatuhkan paku karat itu ke atas meja. Di sebelahnya, gelas tanah liat polos berdiri menahan gelap. Air di dalamnya pekat, tenang, dan mati, memantulkan bayangan dua pasang mata yang pelan-pelan kehilangan pemiliknya.
"Noda tinta di jarimu sudah bersih, Pi," gumam Kakek. Suaranya parau, berat oleh lendir yang mengendap kental di dada. "Sesuatu yang tak berbekas... tak pernah benar-benar ada."
Kasapi menunduk menatap sepuluh jemarinya. Kerak tinta percetakan yang tadi sore mengering kaku di celah-celah kuku—bekas ia memegang tuas guillotine Pak Hendro dan kertas-kertas undangan bersama Mas Hagia kini meluntur tanpa sisa. Kulit jemarinya pucat, licin, dan dingin.
Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memanggil aroma asap kayu bakar dan hawa dingin dari malam kemah mereka di atas bukit. Ia tahu betul mereka pernah di sana berlima: derak api unggun, letupan tawa Razan di tepi tenda, bunyi klik-jepret dari kamera analog Nakta yang membakar temaram, rasa cemas Tabika yang mengelus cangkir tanah liat, hingga bayangan Josua yang berteduh di naungan pinus besar dekat kali usai keriuhan pasar malam.
Semua nama itu masih utuh di tempurung kepalanya. Namun, ketika Kasapi meraba dadanya, tak ada lagi rasa hangat yang tertinggal. Kehangatan malam kemah itu mendadak membeku, berganti menjadi kanvas kelabu. Ia ingat faktanya, tetapi cangkir di atas meja telah menyedot habis rasa kasih sayang di dalamnya.
Bahkan ketika ia menyentuh parut luka tua di ibu jari kakinya, dadanya tetap rata. Ia tak lagi sanggup membedakan apakah bekas luka itu milik tubuh remajanya yang tergores pecahan batu, atau milik Kakek yang empat puluh tahun lalu dipatok ular tanah di ladang tebu.
Dua hidup telah leleh dan bertumpuk di dasar gelas yang sama.
Kasapi meraih paku karat itu. Bau besi basah langsung merekat di telapak tangannya. Tanpa menatap Kakek, ia membenamkan ujung paku kuat-kuat ke permukaan papan mahoni, menggoreskan alur baru di sebelah garis milik Kakek.
Sebuah penanda sunyi untuk sepotong jiwa yang baru saja menguap.