"Bagaimana jika air danau terasa asin dan lengkap dengan riuh gelombangnya?”
Pukul dua belas lewat tiga, Kasapi berjalan melewati aspal yang meleleh. Panasnya bukan sekadar suhu—ia berat, menekan tulang belikat siapa pun yang nekat melintas di jalanan kota. Udara bergetar di atas permukaan aspal, menciptakan ilusi genangan air yang kabur setiap kali Kasapi mengerjapkan mata.
Bayangan tentang air danau yang mendadak terasa asin dan sarat gelombang mengapung begitu saja di kepalanya. Pikiran itu naik serupa gelembung udara dari kedalaman yang tak terukur. Kasapi tidak tahu dari mana asalnya. Ia hanya merasakan geseran halus di dalam dadanya—sebuah gerak samar tanpa nama yang mengendap pelan, meresap persis seperti tinta basah yang menyerap ke serat kertas kusam.
Sebuah becak melesat terlalu dekat. Cukup dekat untuk membuat ujung seragamnya terkibas oleh pusaran angin dari roda depan. Bau knalpot menyerbu lubang hidungnya, bercampur dengan aroma aspal yang meleleh di bawah terik.
"KALAU JALAN PAKE MATA!"
Suara pengemudi memotong udara, diikuti derit rem yang terlambat dan batuk mesin yang tersengal. Kasapi tidak berbalik. Ia mengangkat tangan kanannya—gerakan singkat, setengah sadar, seperti orang yang mengusir lalat. Lalu tangannya jatuh kembali ke sisi pinggang, lemas.
Di punggung kemejanya, keringat mulai menulis peta basah sejak tiga blok lalu. Tas ranselnya bergeser miring di bahu kiri, memberat, tapi ia tidak berhenti untuk menyesuaikan talinya. Waktu terasa seperti benda padat di saku celananya.
Di ujung jalan, tidak ada yang menunggu. Tapi di rumah, kakeknya sudah pasti menyiapkan teh pahit dan sepiring kerupuk yang renyahnya terdengar sampai ke teras. Kebiasaan itu sudah berlangsung sejak Kasapi masih duduk di bangku SD. Sejak ibunya pergi. Sejak ayahnya tidak pernah kembali.
Di persimpangan berikutnya, di antara toko kelontong yang menguar bau ketumbar dan kios fotokopi yang debunya menempel di setiap permukaan, berdiri Percetakan Manara. Bangunan itu seperti sisa gigi yang terlupa dicabut—sempit, dinding betonnya mengelupas. Papan nama di atas pintu condong beberapa derajat ke kiri, seolah sedang bersandar untuk mendengar sesuatu.
Bagi Kasapi, percetakan ini sudah menjadi rumah kedua sejak kelas dua SMP. Empat tahun. Bau tinta sudah meresap ke pori-porinya, menetap di bawah kuku-kuku jarinya. Kakeknya pernah berkata, "Kamu bau seperti percetakan"—bukan sebagai celaan, hanya pernyataan fakta, seperti mengatakan "langit sore itu jingga." Sejak itu Kasapi tidak pernah lagi mencuci tangannya terlalu lama. Bau itu satu-satunya yang terus menemaninya tanpa pernah pergi.
Lonceng kuningan di atas pintu berdenting saat ia mendorong kaca.
Udara di dalam menjemputnya—hangat, padat, berlapis. Di dasar hidungnya, tinta sintetik. Di belakang langit-langit mulutnya, serat kertas basah. Di ujung lidahnya, oli mesin tua yang sudah bertahun-tahun tidak diganti. Kasapi menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma itu mengendap di paru-parunya seperti tamu yang tidak perlu disambut.
Tinta tidak pernah bertanya. Ia menempel lalu mengering. Ini kejujuran yang jarang ditemui di luar ruangan ini.
"Telat tujuh menit."
Suara Pak Hendra melayang dari balik meja kasir, seperti potongan kertas yang tertiup angin lalu mendarat di lantai. Laki-laki tua itu tidak menoleh. Matanya terpaku pada koran lipat di tangannya—halaman ekonomi, seperti biasa. Koran itu selalu terbuka di kolom yang sama: harga kertas naik, toko cetak gulung tikar, industri percetakan mati perlahan.
Kasapi menyelipkan tasnya di bawah meja kerja. "Masih tujuh menit."
"Kalau kapal tenggelam tujuh menit sebelum berlabuh," kata Pak Hendra, membalik halaman dengan bunyi sret yang tajam, "orang-orang di dalamnya tetap mati tenggelam."
Kasapi menggerakkan sudut bibirnya, hampir membentuk senyum. Ia sudah hafal perumpamaan-perumpamaan itu. Pak Hendra punya lusinan—kapal tenggelam, kereta tergelincir, pesawat jatuh. Semuanya tentang waktu dan keterlambatan. Sejak Kasapi bekerja di sini, ia sudah mendengar semuanya puluhan kali.
Di sudut ruangan, mesin cetak offset tua berdengung seperti perut kelaparan. Roda-roda giginya berputar dalam irama yang sama sejak pertama kali Kasapi masuk ke sini—sebuah detak yang tidak pernah berubah, tidak pernah lelah, tidak pernah bertanya mengapa tangan yang menjaganya kini lebih sering gemetar daripada dulu.
Kasapi menarik kursi. Di hadapannya, tumpukan pesanan sore itu menunggu. Amplop pernikahan, undangan khitanan, kartu nama dengan font yang terlalu ramai. Jemarinya mulai bergerak—menggeser, melipat, menekan, melempar. Nama. Tanggal. Alamat. Nama. Tanggal. Alamat. Ritual yang tubuhnya hafal lebih baik daripada otaknya.
Di atas meja potong, selembar kertas undangan baru saja jatuh dari baki atas. Di sudut kanan bawahnya, sebuah foto keluarga berukuran kecil tercetak dengan tinta yang masih hangat. Laki-laki berkemeja batik, wanita berkerudung lembut, anak laki-laki dengan kawat gigi yang berkilau di bawah cahaya lampu studio. Mereka berdiri rapat. Bahu menyentuh bahu. Dagu saling bertumpuk.
Kasapi membiarkan ibu jarinya hinggap di permukaan foto itu.
Kertasnya halus. Licin. Di bawah ujung jarinya, ia bisa merasakan tekstur mikro dari tinta yang mengering—sedikit lebih tinggi dari permukaan serat selulosa. Bibir sang ayah di foto itu, sedikit terbuka, seolah hendak mengatakan sesuatu. Mata sang ibu, menatap lensa dengan kepasrahan yang akrab. Dan anak itu, tersenyum lebar, memperlihatkan kawat giginya tanpa malu.
Kasapi tidak pernah punya foto seperti ini. Di rumahnya, tidak ada satu pun bingkai di dinding. Kakeknya bilang, "Foto cuma bikin rindu pada hal yang sudah lewat." Kasapi tidak pernah bertanya siapa yang dirindukan.
Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, ia ingin bertanya.
Jempol Kasapi menekan.
Krek.
Suara itu muncul sebelum ia menyadari bahwa ia sedang menekan. Lipatan tajam membelah foto dari tengah—seperti garis gempa yang merambat cepat, memisahkan wajah-wajah yang tadinya utuh menjadi dua paruhan yang tidak lagi sejajar.
"KASAPI!"
Gertakan Pak Hendra memotong udara seperti pisau guillotine.