"Sadari ada musang yang menatap jerapah, namun jerapah justru terpaku pada ular yang bergelantungan.”
Lonceng kuningan di atas pintu berdenting sekali, lalu diredam oleh deru mesin yang mati satu per satu.
Langkah kaki Pak Hendra menghilang di balik keremangan trotoar malam. Di dalam toko, keheningan datang secara fisik—berat, padat, dan mengendap seperti bau oli bekas yang mengapung di atas lantai keramik retak. Radio panggil tua di sudut meja kasir masih berderisip halus; seperti napas seseorang yang bersembunyi di ruang sebelah.
Kasapi tidak langsung mengunci pintu kaca.
Matanya tertambat pada sudut meja kasir, pada celah gelap tempat Pak Hendra baru saja menyembunyikan kotak kayu kusam itu. Ia melangkah pelan. Seluruh otot di kakinya bergerak tanpa suara, terlatih oleh ribuan jam berjalan di antara tumpukan kertas kusam dan ceceran tiner.
Ia berlutut di bawah meja kasir. Tangannya meraba di balik keranjang sampah, menarik keluar kotak kayu berengsel kuningan kusam itu. Pasak kayunya bergeser dengan bunyi klek yang kering.
Di dalamnya, pelat seng berukuran telapak tangan itu menatapnya balik. Permukaan logamnya dingin, memantulkan cahaya neon yang berkedip pelan dari langit-langit. Ukiran cangkir terbalik di atasnya dipahat kasar, dengan garis-garis melingkar yang tidak simetris—seolah si pemahat menggoresnya dengan jemari yang tremor di tengah malam.
Kasapi meraih pelat itu. Logam tua tersebut meninggalkan bau seng dan minyak kayu putih yang lengket di kulit telapak tangannya.
Ia tidak menyimpannya kembali. Ia membawanya ke meja potong, di bawah naungan pisau guillotine yang membisu. Kasapi mengambil rol tinta hitam yang belum sepenuhnya mengering dari baki mesin, lalu membalurkannya tipis-tipis di atas ukiran cangkir terbalik pada pelat seng.
Ia lalu menyambar selembar kertas sisa potongan—kertas kusam bermutu rendah tanpa nama, yang biasanya berakhir di tempat pembakaran sampah.
Dengan menekan telapak tangannya kuat-kuat, Kasapi mencetak gambar itu di atas serat putih.
Sreep.
Kertas dicabut. Tinta hitam merekat kaku. Namun, begitu cetakan cangkir itu mewujud utuh di atas kertas, pandangan Kasapi mendadak kabur. Garis melingkar di dinding cangkir pada kertas itu tidak tampak kaku; ia seolah bergetar tipis, serupa permukaan air yang dihantam gerimis halus.
Sensasi asing yang dingin merayap naik, menusuk pangkal tenggorokannya. Kasapi mengusap dahinya yang mendadak banjir keringat dingin. Saat ia memfokuskan kembali pandangannya ke arah cetakan tersebut, bentuk cangkir itu mendadak kembali kaku—hanya noda kertas mati yang tak bergerak. Namun, noda tinta yang tadi mengering di kuku ibu jarinya terasa menyusut, meresap makin dalam ke balik pori-pori, seolah-olah kulit tubuhnya menolak membawanya pulang.
Di bawah baki pengering, bertumpuk kaleng-kaleng seng berisi baki stempel tua dari masa ketika Percetakan Manara belum memakai mesin digital. Huruf-huruf timbal di dalamnya sudah aus, berkerak oleh minyak mengering menjadi lapisan abu-abu pekat.
Jemari Kasapi meraba ke dalam salah satu baki kayu. Ia menarik tiga balok huruf timbal yang paling sering dipakai orang untuk mencetak akta kelahiran tua dan nota duka cita.
Bukan kehangatan pelukan yang Kasapi cari setiap kali matanya membentur foto keluarga milik pelanggan di atas meja potong. Kasapi tidak punya ingatan tentang bagaimana suara ibunya saat memanggil namanya di sore hari, atau bagaimana cara ayahnya berjalan di ambang pintu. Yang membuat dadanya selalu ngilu adalah presensi administratif: fakta bahwa orang-orang itu terdaftar, tercatat, dan memiliki buktinya di atas kertas bermaterai.
Di rumahnya, ketiadaan itu mutlak. Tidak ada satu pun piagam, sertifikat, atau sekadar resi pembelian toko kelontong yang mencantumkan nama orang tuanya. Kakek telah membersihkan rumah mereka seolah-olah Kasapi muncul di bumi begitu saja—jatuh dari langit-langit papan yang dimakan rayap.
Kasapi mengambil selembar kertas kalkir sisa. Ia menyusun balok-balok huruf tua itu pada pegangan stempel kayu, membalur permukaannya dengan tinta stempel merah yang berbau kerosin tajam.