SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #4

Bab 3— Arah Ujung

"Setiap lima lembar menyisakan dua puluh sisa — guratan jelas tetapi membalas."


Bel berbunyi. Suaranya melengking tajam, memotong udara sore yang pekat oleh debu kapur.

Decit kayu dan besi memenuhi ruangan saat kursi-kursi bergeser serentak—serupa tulang-tulang yang diregangkan setelah terlalu lama membeku. Kasapi tetap melipat kedua tangannya di atas meja potong kayu kelabu. Buku catatan bersampul cokelat tergelar di hadapannya. Ujung pulpennya menggantung dua milimeter di atas serat kertas, membisu. Dari balik kaca jendela yang kusam oleh uap napas, ia memperhatikan daun-daun trembesi bergerak lambat dihantam angin kencang.

Di tengah kelas, empat siswi menyatukan tiga meja kayu hingga berderit. Tawa mereka pecah, mengendap di celah-celah langit-langit papan.

Jemari Kasapi bergerak tanpa perintah kepala. Di sudut halaman bukunya, tinta hitam membentuk goresan-goresan pendek: pengamatan kecil tentang siapa yang menepuk meja paling keras, siapa yang memalingkan wajah saat tawa hampir usai. Ia tidak membacanya kembali. Ia membiarkan cairan tinta sintetik itu meresap perlahan, mengering kaku di antara serat selulosa.

Di barisan paling belakang, seorang siswa membalik halaman novel tebal dengan bunyi sret yang konstan—bunyi yang sama persis dengan gesekan pisau guillotine saat membelah kertas sisa di percetakan. Di telinga Kasapi, setiap lembar yang terlipat terasa seperti ada sesuatu yang dilepaskan secara sengaja.

Pintu kelas mendadak terdorong dari luar. Razan muncul membawa gelas plastik berisi sisa es batu yang mencair. Langkah kakinya ringan, dengan bahu sedikit terangkat dan senyum yang tertahan di sudut bibir.

Ia berjalan tanpa suara menuju sudut kelas, tempat seorang siswa tertidur dengan dahi menempel ke permukaan meja kayu yang tercoret pulpen.

"Parah," bisik seorang anak di barisan depan.

"Menurut lo dia masih bernapas nggak?"

"Kalau mati pasti udah busuk."

Razan merogoh dasar gelasnya dengan dua jari. Dengan ketelitian ganjil seorang tukang potong daging, ia menyelipkan sepotong es batu licin ke dalam kerah seragam siswa yang tertidur itu.

Satu detik.

Dua detik.

"WOI!"

Anak itu mencelat dari kursinya seperti dilempar pegas besi. Kelas meledak. Tawa berhamburan memukul dinding batako. Beberapa anak menepuk meja hingga debu kapur beterbangan di bawah sorot cahaya.

"Kurang ajar lo pada!" Korban sibuk mengacak-acak bagian belakang seragamnya yang basah kuyup, sementara Razan sudah melompat mundur ke balik deretan meja, tertawa hingga matanya menyipit.

"Lagian lo tidur kayak kebo!" seru Razan sambil menyeka sudut matanya.

"Biarin, lah! Suka-suka gue!"

Lantai keramik bergetar tipis saat mereka berdua mulai saling mengejar di antara celah bangku. Derap sepatu kets mereka terdengar bukan seperti permainan, melainkan irama berburu yang tergesa-gesa—gerakan fisik yang gaduh, kontras dengan keheningan yang biasa Kasapi simpan di balik rusuknya.

Kasapi menatap tulisan di bukunya. Tangannya menambah tiga kata kunci di bawah baris tadi: Razan. Es batu. Seragam basah.

"Kasapi."

Kasapi mendongak. Razan sudah berdiri di samping mejanya, memegang lututnya sendiri dengan napas memburu.

"Lo dari tadi diem aja kayak tiang bendera. Nggak pegel?"

Kasapi menutup bukunya setengah senti. "Biasa."

"Biasa aja udah kayak patung maskot." Razan menunjuk ke arah kertas cokelat di meja. "Nulis apa lo? Catatan rahasia?"

"Bukan."

"Boleh lihat?"

"Nggak."

Razan mengangkat alisnya, menyunggingkan senyum remeh yang kaku, lalu menepuk pundak Kasapi dua kali sebelum berbalik menuju rombongannya.

Bel kedua berbunyi. Suasana riuh langsung menyusut saat sosok Bu Nira melangkah masuk membawa map kain tebal.

"Baik, kita absensi dulu."

Satu per satu nama dipanggil dari atas meja guru.

Lihat selengkapnya