SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #5

Bab 4 — Garis Bayangan

“awan hitam selalu terbelah dengan setapak sisa yang ditinggalkan"


"Aga! Kak Aga udah pulang?"

Suara itu meluncur lebih dulu daripada langkah kecil yang menyusul di belakangnya. Dari ruang tengah, seorang anak laki-laki berlari dengan kaki-kaki mungil yang masih canggung menjaga keseimbangan. Ada kegembiraan yang begitu utuh di wajahnya, seolah satu detik keterlambatan saja cukup membuat orang yang dipanggilnya lenyap bersama angin.

Pemuda yang baru saja melangkah melewati ambang pintu menoleh. Penat yang sejak tadi menempel di wajahnya luruh begitu melihat anak itu. Senyumnya mengembang hangat, seperti seseorang yang akhirnya benar-benar tiba di tempat pulang.

"Iya," katanya pelan sambil membuka kedua tangan. "Kak Aga udah pulang."

"Hore!"

Anak itu segera menghambur ke arahnya. Aga tertawa lirih, lalu berjongkok hingga tinggi mereka hampir sejajar. Jemarinya mengusap rambut si kecil yang kusut karena terlalu lama bermain di bawah matahari.

"Halo, adik manis."

Sapaan itu terdengar begitu biasa, tapi entah mengapa mengandung keakraban yang sulit dijelaskan—seolah kalimat itu telah diucapkan berkali-kali pada sore-sore yang lain, pada hari-hari yang tak lagi diingat siapa pun.

Aga merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa butir permen gula terbungkus kertas warna-warni. Bungkusnya berkilau ketika tersentuh cahaya yang masuk dari jendela.

"Nih," ujarnya sambil menyodorkannya. "Permen kesukaan Abi, kan?"

Mata anak itu seketika berbinar. "Buat Abi?"

"Iya."

"Semuanya?"

Aga mengangguk sambil terkekeh. "Kalau dimakan sekaligus, nanti giginya protes."

Abi ikut tertawa. Dengan kedua telapak tangan yang masih mungil, ia menerima permen-permen itu hati-hati, seakan benda kecil tersebut adalah hadiah paling berharga yang pernah ia dapatkan.

"Terima kasih, Aga." Ia mendongak dengan senyum yang begitu tulus. "Aga baik."

Aga mengusap pipinya pelan. "Abi juga anak baik."

Belum sempat percakapan kecil itu berlanjut, suara seorang perempuan mengalun dari arah dapur.

"Saktra!"

Nada suaranya tidak keras, tapi memenuhi seluruh rumah dengan kehangatan yang aneh—di dalamnya ada aroma masakan yang mengepul bersama uap, denting peralatan dapur, serta rasa akrab yang tak memerlukan penjelasan.

Tak lama kemudian, seorang remaja laki-laki muncul dari lorong sambil menggaruk tengkuknya sendiri.

"Iya, Bu?"

"Kamu ini," sahut perempuan itu dengan nada setengah mengomel, "kalau dipanggil harus berapa kali dulu baru nyaut?"

Saktra hanya menyeringai tanpa rasa bersalah. "Tadi lagi beresin buku."

"Beresin atau malah tidur?"

"Ya... dua-duanya, dikit."

Perempuan itu menggeleng pelan. Meski begitu, senyum tetap terselip di sudut bibirnya, seolah ia sudah terlalu hafal dengan kebiasaan anak itu untuk benar-benar merasa kesal.

"Ayo ke dapur. Bantu Ibu sebentar."

"Iya, Bu."

Saktra melangkah mendekat. Perempuan itu sempat menepuk pelan bahunya sebelum mereka berjalan berdampingan menuju dapur. Selama beberapa saat, suara percakapan mereka mengalir pelan, bercampur bunyi wajan dan sendok yang saling beradu. Kata-katanya tak terdengar jelas, namun nada di antara mereka cukup untuk membuat rumah itu terasa hidup.

Abi memperhatikan punggung keduanya hingga menghilang di balik dinding. Lalu ia menoleh kepada Aga yang masih berdiri di dekat pintu.

"Aga capek?"

"Lumayan."

"Kerja terus?"

"Iya."

"Nggak boleh capek."

"Lho, memang kenapa?"

"Soalnya kalau capek, nanti nggak bisa main sama Abi."

Tawa Aga pecah begitu saja. "Iya deh. Aga usahain nggak capek."

Jawaban itu membuat Abi tersenyum puas. Ia lalu membuka bungkus salah satu permen dengan kesabaran seorang anak yang sedang menikmati momen kecilnya sendiri. Kertas pembungkus berkeresek pelan sebelum akhirnya terlepas.

Permen itu masuk ke mulutnya. Rasa manis segera mencair di lidah.

Sederhana.

Namun kehangatannya menjalar perlahan, bukan hanya memenuhi mulut, melainkan juga menghadirkan perasaan yang sulit diberi nama—seolah rasa itu pernah ia kenal sejak lama, pernah mengisi masa kecil yang kini telah mengabur bersama waktu.

Abi memandang sekeliling.

Rumah itu tidak besar. Dinding-dindingnya dicat warna krem yang mulai memudar dimakan usia. Sebuah meja kayu berdiri di tengah ruang makan dengan permukaan yang mengilap karena sering dipoles. Kursi-kursinya tersusun rapi mengelilinginya, masing-masing seolah menyimpan cerita tentang makan malam, tawa, dan percakapan yang tak pernah dicatat siapa pun.

Di atas lemari kayu, sebuah bingkai foto memantulkan cahaya siang. Seorang pemuda tersenyum di dalamnya—senyum yang terasa begitu akrab, meski Abi tidak yakin pernah benar-benar mengenalnya.

Kipas angin tua berputar lambat di langit-langit. Suara dengungnya mengisi rumah dengan irama yang menenangkan, seperti lagu lama yang terus diputar oleh ingatan. Bersama aroma masakan yang menguar dari dapur dan sinar matahari yang jatuh lembut melalui jendela, semuanya menyatu menjadi pemandangan yang membuat dada Abi dipenuhi rasa tenteram.

Aneh.

Ia tidak ingat pernah datang ke rumah ini. Namun setiap sudutnya terasa seperti halaman-halaman buku yang pernah ia baca berulang kali. Tak ada yang benar-benar asing. Bahkan cahaya yang jatuh di atas lantai pun seolah tahu persis ke mana harus singgah.

Perasaan itu begitu lembut, tapi cukup kuat untuk membuatnya bertanya dalam diam.

Apa mungkin seseorang bisa merindukan tempat yang bahkan tak pernah ia datangi?

Atau mungkinkah sebuah rumah lebih dulu mengingat penghuninya, daripada penghuni itu mengingat rumahnya?

Abi turun dari kursinya. Dengan langkah kecil, ia berjalan menuju dapur sambil menggenggam permen yang belum habis.

"Ibu?"

Tak ada jawaban.

Ia terus melangkah hingga tiba di ambang pintu.

Langkahnya terhenti.

Dapur itu kosong. Panci masih bertengger di atas kompor, tutupnya sedikit terbuka hingga uap tipis masih mengepul perlahan. Beberapa piring tertata rapi di rak. Gelas-gelas bening berjajar di dekat wastafel, memantulkan cahaya yang masuk dari jendela belakang.

Semuanya masih berada di tempatnya—seolah baru beberapa detik lalu seseorang meninggalkannya.

Namun perempuan yang tadi memanggil Saktra sudah tak ada.

Saktra pun menghilang.

Abi menoleh ke belakang. "Aga?"

Ruang tengah tampak lengang. Pintu depan masih terbuka sedikit, membiarkan angin masuk bersama harum dedaunan. Akan tetapi, Aga yang tadi berdiri di sana kini tak lagi terlihat.

Keheningan mulai merambat perlahan. Mula-mula hanya setipis embun. Lalu tumbuh menjadi sesuatu yang memenuhi setiap sudut rumah, menghapus sisa-sisa tawa yang beberapa saat lalu masih terdengar begitu dekat.

Abi menggenggam permen itu sedikit lebih erat. Dadanya mendadak dipenuhi kegelisahan yang datang tanpa alasan.

Ia melangkah keluar dari dapur, memanggil sekali lagi dengan suara yang lebih lirih.

"Ibu...?"

Tak ada siapa pun yang menjawab.

Sunyi itu tidak datang sekaligus.

Ia merambat perlahan, mengisi sela-sela rumah, sedikit demi sedikit suara-suara yang tadi begitu akrab menghilang dari pendengaran Abi. Tak ada lagi denting sendok dari dapur, tak terdengar langkah kaki Saktra, juga tawa Aga yang beberapa saat lalu masih memenuhi ruang tamu. Yang tersisa hanyalah desir angin yang menyelinap melalui jendela dan dengung kipas tua yang berputar dengan ritme lambat, seakan sedang menghitung waktu yang tak lagi dimiliki rumah itu.

Abi menelan ludah.

"Ibu...?"

Panggilannya meluncur pelan, lalu pecah menjadi gema yang pendek sebelum lenyap begitu saja.

Ia melangkah menuju ruang makan.

Kosong.

Kursi-kursi masih berada pada tempatnya. Sebuah gelas berisi air setengah penuh masih berdiri di atas meja, seolah baru saja ditinggalkan seseorang yang berniat kembali beberapa saat lagi. Namun tak seorang pun datang.

Abi berlari ke lorong. "Aga!"

Tak ada jawaban.

Ia membuka pintu kamar yang berada di ujung lorong. Tempat tidur telah dirapikan. Tirai putih bergerak perlahan ditiup angin. Cahaya matahari jatuh membentuk bidang keemasan di lantai, tapi ruangan itu sama lengangnya dengan seluruh rumah.

Lihat selengkapnya