“Tak semua yang sempat muncul ke permukaan ingin ditemukan; sebagian memilih tenggelam ketika dunia mulai mengembun.”
Uap napas mengkristal singkat sebelum melesap ke dalam dingin yang merambat dari lantai tanah. Di antara ceruk-ceruk pohon pinus, bayangan membentang panjang, saling tumpang-tindih seperti jemari hitam yang berusaha menahan laju petang. Cahaya matahari yang tembus dari kanopi warna jingganya tajam, memotong batang-batang pohon menjadi selarik-selarik garis emas yang menyengat mata.
Gedebuk tas-tas carrier yang dijatuhkan menyeret bunyi gesekan kain kanvas tebal dengan humus basah. Aroma tanah yang terusik terangkat ke udara—bau tembaga peluh bercampur getah resin yang manis melegit.
"Serius... pohonnya tinggi banget."
"Eh, lihat bukitnya! Bagus banget."
"Kayak di film."
Tengkuk-tengkuk menekuk. Biji mata bergulir dari akar berlumut hingga ke pucuk-pucuk yang bergetar diterpa angin atas. Sesosok tubuh berjaket parasut merah menekul, telapak tangannya menekan lutut yang gemetar usai menempuh tanjakan terakhir. Di sampingnya, seorang anak laki-laki mengusap pelipis dengan lengan baju. Kain katunnya meninggalkan jelaga keringat tipis di kulit pipi.
Langkah kaki membentur tanah kering. Pak Diwara melangkah ke ceruk tengah. Daging di bawah dagunya yang mengendur ikut bergetar seiring napasnya yang berat. Dua telapak tangannya yang kapalan bertemu—plak, plak, plak—suaranya tajam, memotong dengung serangga yang mulai ramai.
"Perhatian, semuanya."
Kumis tebalnya yang mulai memutih di pangkal bergerak melengkung ke bawah. Ia menatap deretan sepatu-sepatu yang berlumur lumpur kering.
"Selama kegiatan berlangsung, Bapak harap kalian menjaga kebersihan, menjaga kedisiplinan, dan saling membantu. Tempat ini indah bukan karena manusia, melainkan karena alam yang menjaganya selama bertahun-tahun. Jangan sampai kita menjadi alasan keindahan itu berkurang."
Mata Pak Diwara menyapu barisan, menahan pandangannya dua detik lebih lama pada bebatuan yang mulai dipenuhi sampah bungkus plastik dari rombongan lain. Ia membetulkan posisi tali jam tangannya yang longgar.
"Sekarang kalian akan dibagi menjadi kelompok yang masing-masing berisi lima orang. Setiap kelompok harus memiliki nama yang kreatif, lalu bekerja sama mendirikan tenda. Apakah jelas?"
"Siap, Jelas pak!"
Kelembapan hutan yang pekat mendadak terasa menyergap, diperparah oleh hawa gerah dari puluhan tubuh yang berjejal di jalur sempit. Udara seperti menipis. Tiba-tiba, kerumunan meledak menjadi pusaran jaket dan seruan. Arifin tertarik ke samping, bahunya bersenggolan dengan dua anak kelas sebelah. Ia sempat memutar tubuh, melempar isyarat ibu jari yang mengacung singkat ke arah Kasapi, sebelum lengannya ditarik makin jauh ke dalam barisan yang riuh. Begitu sosok Arifin hilang di balik kepungan jaket, Kasapi berbalik membelakangi kerumunan.
Satu tepukan mendarat di jaket bagian bahu Kasapi. Kainnya berdesir.
"Kasapi, lo mau satu kelompok sama gue?." Tabika berdiri dengan dua tangan terbenam di dalam saku jaket denimnya yang kebesaran. Ibu jarinya menyembul dari lipatan kain, bergerak-gerak kecil.
"Boleh."
"KASAPIIII!"
Jeritan itu datang bersama derap langkah berat yang menggetarkan kerikil. Razan melompati celah akar, napasnya berhembus memburu dengan pipi merah padam. Sebelum Razan sampai, sebuah lengan atas yang terasa hangat dan berbau sabun batangan mengunci leher Kasapi dari belakang. Nakta menyandarkan dagunya di bahu Kasapi, matanya mengedip cepat.
"Mau ya, Pi. Kita bosen kalau enggak ada lo. Kayak garam tanpa laut."
Kasapi menggeser lehernya sedikit, menjauhkan telinganya dari helaan napas Nakta. "Perumpamaan apaan, sih?"
Josua menyusul dengan langkah diseret. Ia berhenti sejengkal di samping Tabika, menendang kerikil kecil hingga bergulir ke ceruk akar. "Lebay banget kalian."
"Heh, ini bukan lebay," Nakta melepas kuncian tangannya, menepuk dadanya sendiri hingga muncul bunyi buk yang kencang. "Ini fakta."
Kasapi memandang lidah sepatu Josua yang koyak di bagian ujung. "Yaudah... boleh."
"Horeee!"
Razan melompat kaku, kedua lengannya lurus ke atas. Nakta memutar tumitnya di tanah basah, meninggalkan celah melingkar di antara rumput. Josua hanya menarik sudut bibirnya, memalingkan muka ke arah deretan pinus sambil bersedekap.
Beberapa meter di samping mereka, sekelompok anak sibuk mencatat nama di lembaran kertas bergaris. Josua mendadak menegakkan punggungnya.
"Gue punya ide."
Empat pasang mata berganti arah.
"Nama kelompok kita... Goyang Senggol."
Angin berhembus memindahkan bau getah ke wajah mereka. Tabika memiringkan kepala. "Itu nama kelompok?"
"Iya."
Razan menepuk jidatnya sendiri. Bunyinya nyaring. "Alay."
"Alay," Nakta menyahut datar.
Kasapi menatap tanah. "Alay."
Josua menurunkan tangannya perlahan, jemarinya meremas pinggiran jaketnya sendiri. "Ih, jahat banget. Padahal menurut gue itu nama paling keren sedunia."
"Tolong, simpan kreativitas lo buat hal lain," Tabika memalingkan wajah, sudut matanya berkerut rapat.
Kasapi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ruas-ruas jarinya yang kasar menggesek kulit. "Gimana kalau... SANAK TARA?"
Langkah Nakta terhenti. "Woah..."
Kasapi menunduk lagi, membetulkan letak tali sepatunya yang longgar, mengikatnya dua kali hingga membentuk simpul kencang.