SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #7

Bab 6 — Lintas Angin

“karena pikiran yang membuat jiwa ada bersama manusia


Uap embun pagi menyapu permukaan kulit bersama sisa dingin malam yang belum sepenuhnya menguap. Di balik jalinan tajuk pinus, tajamnya bias matahari terbit memotong kabut menjadi helai-helai benang emas. Aroma tanah basah bercampur humus tua yang terusik, menguar pekat ke udara.

Empat orang duduk membisu di atas kain terpal depan tenda. Hanya Josua yang masih tenggelam di balik kepompong selimut lipatnya, menyisakan deru napas teratur yang timbul tenggelam.

Tabika membetulkan letak lengan jaketnya yang kedodoran. Ibu jarinya meraba tepi kain denim yang kasar. " Eh, sari bunga kemarin malam... ngapain lo tidur meluk-peluk gue? Pake ngorok segala."

Nakta yang sedang memijat pergelangan kakinya menghentikan gerakan. "Terserah gue mau tidur gimana. Kenapa lo yang repot?"

"Biasa aja dong jawabnya." Tabika membuang muka, matanya menyapu pucuk-pucuk pohon yang bergesekan melahirkan bunyi desir-desir yang konstan.

Tangan Nakta terulur, meraih kerah jaket Tabika dengan jari-jari melengkung kaku. Tabika merespons tanpa jeda—jemarinya menyusup ke sela rambut Nakta, menariknya hingga kepala cowok itu terdongak. Tatapan mereka terkunci dalam jarak beberapa senti. Udara di antara mereka mendadak berat.

Kasapi di sisi lain hanya membalik halaman bukunya yang bersuara srek. Penanya terhenti di margin kertas. Di dekatnya, Razan mengunyah biskuit kering, matanya berbinar menatap pertengkaran itu seolah menyaksikan pertunjukan berbayar.

Ibu jari Nakta mendadak menusuk rusuk Tabika. Pegangan pada kerah baju terlepas saat Tabika memekik kaku, tubuhnya terdorong ke tanah berumput. Dalam sekejap, keduanya melompat berdiri, saling mengejar melintasi tiang-tiang tenda yang terpancang.

"Monyet," gumam Josua yang baru merangkak keluar dari kantong tidur. Kelopak matanya masih sembap, garis merah bekas lipatan bantal membiru di pipi kirinya. Ia mengucek mata dengan buku jari sebelum mendaratkan pantatnya tepat di samping Kasapi. "Kalian ngapain, sih? Kayak ngadain konser pagi-pagi."

Razan melirik. "Gue rasa kita lebih mending, Jos. Daripada lo, ayam udah serak baru sadar."

"Saran gue," Kasapi menyela tanpa mengalihkan pandangan dari baris kalimat di bukunya, "pangkas sikit durasi mimpi lo."

Kasapi mengangkat telapak tangannya kaku. Razan mendaratkan tepukan kencang di sana. Josua melipat kedua tangannya di dada, merebahkan kepalanya ke belakang menatap langit yang kian cerah. "Tidur itu adalah kehidupan."

Langkah kaki bersepatu boot memotong percakapan. Seorang anggota panitia meletakkan lima piring seng berisi nasi goreng hangat di atas terpal. Uapnya membawa aroma kecap hangus dan bawang goreng. Dua sosok yang bertengkar tadi berhenti seketika. Nakta mendarat lebih dulu, merebut satu piring, sementara Tabika menyambar piring di sebelahnya. Tanpa kata-kata, Tabika menyendok separuh bagian nasi dari piringnya, memindahkannya ke piring Nakta yang belum genap terisi.

Panggilan dari toa genggam memecah riuh perkemahan. Suara Sunaka menggelegar dari tengah lapangan kecil, membawa gema yang memantul di dinding-dinding bukit.

"SELURUH SISWA AGAR BERKUMPUL."

Kerumunan merapat. Sepatu-sepatu yang berlumur lumpur kering meninggalkan jejak-jejak abu-abu di atas rumput basah. Sunaka berdiri dengan dua kaki terbuka lebar, jemarinya memegang mikrofon dengan buku-buku jari yang memutih.

"Hari ini kita masuk kegiatan Jejak Rimba. Ada enam pos. Setiap pos menguji seberapa cermat mata kalian membaca lingkungan." Sunaka jeda sejenak, menatap lurus ke barisan belakang. "Ingat petunjuk dasarnya: perhatikan tanah di jalan sempit tanpa nama depan, karena di setiap serpihan menyisakan angin."

Razan berbisik menyamping, napasnya berbau mint. "Masa kita disuruh merhatiin tanah terus? Enggak masuk akal."

"Hutan mana yang jalannya pakai papan nama," bisik Nakta menimpali.

"Urutan keberangkatan ditentukan dari benda yang kalian pilih," lanjut Sunaka.

Meja kayu di sisi lapangan dipenuhi perkakas bekas. Pisau berkarat dengan gagang kayu retak, kunci pintunya yang terkelupas, jam saku tanpa jarum detik, kompas dengan jarum magnet melenceng, hingga beberapa lembar foto buram yang terlipat.

Kelompok demi kelompok maju. Kelompok Henyara mengambil pisau karatan setelah perdebatan panjang. Kelompok berikutnya menyambar kompas rusak.

Ketika giliran Sanak Tara tiba, tersisa dua benda di atas kain terpal hitam. Selembar foto kusam berbercak jamur dan pecahan kaca transparan dengan tepi yang tajam.

"Gila, kita dapet barang sisa," gumam Josua.

Kasapi mengulurkan tangan. Ujung jarinya menekan bagian kaca yang tumpul, merasakan dingin material padat itu menyengat kulitnya. "Bawa ini."

Tabika menatap pecahan itu. "Gak ada gunanya, Pi. Mending gak usah bawa apa-apa."

"Bawa aja," sela Josua pasrah. "Lumayan buat dibuang nanti."

Panitia mencatat. "Dua kata alasan kalian memilih benda ini?"

Tabika memandang pecahan transparan di tangan Kasapi. "Dirangkai kembali."

Panitia mengangguk singkat tanpa menaikkan alis, lalu menggoreskan pena di atas lembar penilaian. "Pecahan kaca. Nomor urut sepuluh."

Nakta menepuk jidatnya sendiri. "Nomor buntut. Rasanya mau demo."

Nomor sepuluh memosisikan mereka di batas paling akhir rombongan. Saat melangkahkan kaki melewati penjaganya di persimpangan awal, Kasapi menunjukkan potongan kaca yang berkilat tertimpa cahaya menerobos dedaunan.

Panitia itu menatap kaca tersebut, lalu tersenyum tipis. "Pintar," bisiknya datar. "Ambil kiri."

Jalur kiri sempit, hampir tertutup oleh semak liar yang membasahi celana jeans mereka dengan embun malam yang tersisa. Tanah di bawah tapak sepatu terasa gembur dan dalam.

Papan kayu bertuliskan POS 1 — Jejak Barat Laut terpancang kaku. Di bawahnya gantung beberapa potong kayu kecil bergambar simbol-simbol susunan batu, ranting melengkung, dan daun terlipat.

Panitia pos berdiri dengan tongkat kayu pendek. "Mulai dari pos ini, kalian tidak lagi dipandu oleh manusia. Kalian dipandu oleh apa yang ditinggalkan di tanah." Tongkatnya mengetuk papan sekali. Tak. "Ingat, tidak semua jejak dibuat untuk menuntun."

Peluit melengking.

Jalur kembali bercabang di balik semak tinggi. Di cabang kanan, tiga buah batu bersih tersusun rapi membentuk mata panah. Di cabang kiri, sebatang ranting pinus patah, dengan serat kayu yang sedikit menggelap di ujungnya.

Nakta menunjuk batu. "Kanan. Jelas bentuknya panah."

"Belum tentu," potong Josua, melangkah mendekat. "Bisa aja jebakan."

"Terus kita mau diem di sini sampai malam?"

Tabika memutar tubuhnya menghadap Kasapi. "Pi?"

Kasapi menyangkul di depan batu. Ia meraba permukaan batu teratas, lalu mengusap humus di sekelilingnya. Tidak ada serasah daun yang menumpuk di sela batu, seolah seseorang baru saja menyapu bersih area tersebut beberapa menit lalu. Pandangannya berpindah pada ranting di jalur kiri—getah pada patahan kayunya sudah mengering, menyerap debu menjadi warna kecokelatan yang kusam.

"Kiri," kata Kasapi.

"Alasannya?" desak Nakta.

"Batunya terlalu bersih untuk ditaruh tadi pagi. Ranting di kiri patah dari kemarin."

Josua mengangguk cepat. "Masuk akal."

Mereka mengambil jalur kiri. Lima menit pertama hanya diisi oleh gesekan kain parasut dengan daun semak. Nakta mengembuskan napas berat yang berulang, sebelum akhirnya papan kayu POS 2 — Jejak Bersama menyambut di balik bukit kecil.

Di area Pos 2, tiga batang kayu gelondongan tergeletak kaku di tanah. Masing-masing berdiameter setebal paha orang dewasa dengan panjang mendekati dua meter.

"Aturannya," panitia Pos 2 mengangkat papan jalan, "kayu ini dibawa sampai Pos 3. Tidak boleh menyentuh tanah satu milimeter pun selama perjalanan. Kalau jatuh, balik ke sini."

Nakta langsung merunduk, menyelipkan bahu kirinya di bawah batang kayu. "Gue depan."

Josua mengambil posisi paling belakang. Kasapi dan Tabika membagi beban di bagian tengah, sementara Razan mengisi celah di samping Kasapi.

Satu meter pertama, kayu itu terasa lumrah. Lima meter berikutnya, serat kayu yang kasar mulai menggerus kain jaket, menekan tulang belikat dengan bobot yang kian berat seiring jalur yang menanjak.

Napas Nakta terdengar makin pendek dan patah. Langkah kakinya mulai terseret, menyeret kerikil-kerikil kecil di bawah sol sepatunya. Bahunya miring ke kiri, membuat gelondongan kayu bergeser menekan leher Tabika.

"Hati-hati," peringat Tabika.

"Masih... bisa," sahut Nakta dengan gigi terkatuk kencang.

Kasapi menoleh. Wajah Nakta memerah, pembuluh darah di lehernya menegang tajam. Tanpa bersuara, Kasapi menggeser tumpuan kakinya lima sentimeter lebih rapat ke arah Nakta. Ia menegakkan punggung, mengangkat bahunya dua senti lebih tinggi. Sebagian besar beban berat di bagian depan berpindah ke atas bahu Kasapi.

Tabika menangkap perubahan sudut kayu itu. Ia memandang Kasapi, lalu tanpa bicara, menggeser posisinya sendiri untuk menopang beban tengah yang mulai timpang.

Langkah Nakta akhirnya terhenti di sebuah tanjakan licin. Kayu bergetar hebat di udara.

"Tarik napas," instruksi Josua dari belakang dengan suara tenang. "Jangan diturunin."

Nakta menunduk, menatap tanah basah di antara dua kakinya. Keringat menetes dari ujung hidungnya, jatuh membasahi serasah daun. "Sorry... gue pikir gue bisa bawa terus di depan."

Tabika menepuk pinggang Nakta dengan tangan kirinya yang bebas. "Ini bukan urusan siapa yang paling tahan sakit. Tukar posisi."

Nakta menggeser bahunya keluar. Kasapi masuk menggantikan posisi paling depan, menerima guncangan penuh dari gelondongan kayu tersebut.

Mereka kembali bergerak. Ritmenya berubah. Tidak ada lagi yang berusaha berjalan lebih cepat dari yang lain. Sol sepatu mereka mendarat di tanah dalam jeda yang hampir bersamaan—puk, puk, puk.

Lihat selengkapnya