SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #8

Bab 7 — Muara Hilir

"Ratusan ribu lembar kertas terbentang terlalu tipis untuk menampung secawan tinta.”



Tanah basah yang mengendap di alur-alur sol sepatu melahirkan irama yang timpang. Kering, basah, berderit—tiap pijakan meninggalkan kerak tanah cokelat tua yang perlahan terlepas, terlempar menabrak semak-semak pakis di tepi jalur. Bau humus tanah basah dan jelaga dingin yang menempel di jaket mereka perlahan menguap, terbilas oleh aroma resin pinus yang tajam dan menusuk hidung.

Razan mengangkat kaki kanannya, menatap gumpalan lumpur yang mengeras di sekeliling tumitnya seperti mantel tanah liat. "Ibu gue pasti mikir gue habis disiram cor-coran."

Nakta tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada lipatan celananya sendiri yang kaku oleh kerak mengering. "Sepatu lo doang. Badan lo cuma bau tanah."

"Sama aja. Ini sepatu beli pakai keringat."

"Keringat bapak lo," sela Josua dari garis belakang. Ia memindahkan bobot tas punggungnya, membiarkan tali bahu yang basah menyengat kulit lehernya yang lecet.

Razan memutar tubuh setengah lingkaran, tumitnya mengikis batuan pasir. "Lo dari tadi diam aja, Jos. Biasanya paling bising kalau urusan kotor-kotoran."

"Nyesuaiin debit suara," Josua menggeser pandangan ke celah-celah kanopi. "Biar enggak buang-buang oksigen."

Kasapi berjalan tiga jengkal di belakang barisan. Jemari tangan kirinya meremas kartu kayu persegi dari Pos 3 yang tersimpan di dalam saku jaketnya. Permukaan kayu yang terbakar itu sudah hangat oleh suhu tubuhnya, tekstur dua kata bertoreh besi panas—Jejak Tumpuan —terasa bergerigi menekan bantalan ibu jarinya.

"Masih belum masuk tas?"

Kasapi menoleh. Tabika berjalan sejajar dengannya, menyisakan jarak seluas satu jengkal bahu. Baju kaus hitam yang dikenakan gadis itu menyerap aroma humus, baunya menusuk dan jujur.

Kasapi menarik tangannya keluar dari saku, memperlihatkan telapak tangannya yang kosong, meski jemarinya masih agak melengkung seperti membungkus sesuatu yang tak kasatmata. "Saku jaket bolong. Kalau jatuh malah hilang."

"Panitia enggak bakal minta balik," ujar Tabika. Pandangannya lurus ke depan, menembus garis punggung Nakta yang bergerak naik-turun di atas tanjakan. "Benda begitu cuma sampah kayu kalau udah lewat garis."

"Bisa jadi." Kasapi menyapu ujung sepatunya ke rumput liar, membersihkan sisa lumpur cair yang masih memantulkan warna langit sore. "Tapi kayu terbakar harumnya beda."

Tabika tidak membalas. Ia hanya menarik napas panjang, menahan napas itu dua detik sebelum membiarkannya keluar perlahan dari celah bibirnya.

Di depan mereka, sebatang pohon pinus tumbang melintang setinggi pinggang, kulit kayunya melupas dikerumuni jamur papan berwarna jingga kusam.

Nakta melompati batang itu lebih dulu. Sol sepatunya mendarat dengan dentum datar di atas tanah padat. Bum. Ia berbalik, bersedekap. "Siapa yang lewat tanpa nyentuh kulit kayunya, gue kasih jatah makan malam gue."

"Makan malam lo cuma mi instan remuk," balasan Razan meluncur cepat. Ia mengambil ancang-ancang, mengayunkan kaki kanannya melewati rintangan. Bagian belakang celananya tersangkut pinggiran kayu yang tajam. Suara kain robek halus terdengar singkat.

"Gagal," celetuk Josua singkat tanpa mengubah raut wajahnya. Ia sendiri melangkah melangkahi batang kayu itu dengan satu gerakan panjang yang efisien, lututnya terangkat tinggi, melintasi rintangan tanpa menyisa getaran pada jamur-jamur jingga.

"Nggak kena kulit kayu," sergah Razan, tangannya memegang bagian belakang celananya yang koyak seruas jari. "Cuma benang."

"Tetap kena," Nakta menunjuk serpihan kain yang tertinggal di kulit kayu. "Gugur."

Tawa riuh memecah keheningan koridor pinus. Suara mereka melenting di antara batang-batang pohon yang berdiri terlalu rapat, mengusir kawanan burung pemburu serangga yang bersarang di dahan-dahan rendah.

Kasapi menghentikan langkahnya sejenak. Ia melihat daun-daun pinus yang gugur terangkat perlahan oleh angin bawah, berputar dua kali di udara sebelum mendarat kembali di atas debu. Ada getaran tak kasat mata dalam cara mereka tertawa—bukan tawa lepas yang tanpa beban, melainkan tawa orang-orang yang baru saja menyadari bahwa mereka selamat dari sesuatu yang tidak mereka pahami sepenuhnya.

Jalur berubah drastis sepuluh menit kemudian. Lumpur pekat berganti menjadi hamparan kerikil pecah dan tanah merah yang memadatkan bukit.

Lapangan di Pos 4 tidak memiliki bentangan tali atau plang kayu berukir tantangan. Di bawah naungan empat batang pinus raksasa yang tajuknya saling mengunci, enam bangku kayu tanpa sandaran tersusun melingkar. Di tengahnya berdiri sebuah bangku lain yang menopang kotak kayu pinus bertutup engsel besi.

Seorang panitia perempuan berkemeja lapangan kelabu berdiri di samping bangku. Kulit wajahnya terbakar matahari, matanya mengawasi Sanak Tara tanpa ekspresi yang bisa dibaca.

"Ambil satu," katanya ketika mereka berlima berhenti di batas lingkaran tanah bersih.

Razan merogoh kotak lebih dulu, menarik selembar kertas lusuh yang terlipat empat. "Empat."

Josua menyusul. "Dua."

Nakta. "Lima."

Kasapi membuka lipatan kertasnya. Angka 1 tergores rapat menggunakan tinta hitam tipis.

Tabika meremas kertasnya sendiri sebelum membukanya. "Tiga."

Panitia perempuan itu tidak mengangguk. Ia hanya menunjuk ke arah celah semak di barat lapangan—sebuah jalan setapak yang menyempit dan menghilang di balik kerimbunan pohon paku.

"Aturan," kata perempuan itu. Suaranya datar, tanpa nada latar. "Tidak ada suara. Tidak ada isyarat jari. Tidak ada gerakan kepala yang disengaja untuk memberi tanda."

Razan mengangkat bahunya yang kaku. "Kalau dia kepleset?"

"Lanjutkan berjalan."

"Kalau—"

Perempuan itu mengangkat peluit perak yang menggantung di lehernya. Prrritt!

Suara lengkingan perunggu itu memotong kata-kata Razan di udara. "Lima belas menit. Mulai."

Kasapi melangkah memasuki lorong paku-pakuan. Tabika berjalan tepat dua telapak kaki di belakangnya.

Hutan di jalur Pos 4 tidak bising oleh angin. Pohon-pohon paku raksasa menahan arus udara, menciptakan kanopi basah yang lembap dan pekat. Setiap embusan napas meninggalkan uap tipis di udara sore yang dingin.

Kasapi mendengar langkah kaki di belakangnya. Krik. Krik. Gesekan sol sepatu Tabika dengan batuan pasir halus di atas tanah terasa amat terukur. Tidak ada jeda yang berlebih; setiap kali kaki kanan Kasapi mendarat, dua ketukan kemudian kaki kiri Tabika menyusul di irama yang persis sama.

Sebuah akar pinus melintang, licin oleh lumut basah.

Kasapi merendahkan tumpuan badannya, memiringkan telapak kaki kirinya empat puluh lima derajat untuk menumpu di bagian akar yang paling kasar. Ia tidak menoleh. Ia tidak melambatkan gerakan secara mendadak.

Di belakangnya, ia mendengar gesekan kain jaket Tabika. Perempuan itu menggeser tubuhnya tiga sentimeter ke kanan, memilih bagian tanah berkerikil daripada menginjak akar yang sama.

Mereka bergerak tanpa sepatah kata pun. Keheningan di antara mereka bukan lagi keheningan yang kosong, melainkan keheningan yang dipenuhi oleh pengamatan yang tajam dan diam-diam.

Kasapi merasakan dadanya bergetar pelan. Suara kepakan sayap burung enggang di atas kanopi terdengar seolah terjadi tepat di dalam tempurung kepalanya. Ia bisa merasakan kelembapan udara menyentuh tengkuknya, membekukan butiran keringat yang menyembul dari pori-pori kulitnya.

Di depannya, sekumpulan bunga liar berwarna ungu pucat tumbuh menyempil di antara dua batu kapur. Batangnya tipis, menekuk di bawah bobot embun sore.

Langkah Kasapi tertahan setengah detik. Matanya terpaut pada kelopak bunga yang hampir gugur itu. Ia tidak memetiknya. Ia hanya membiarkan pandangannya menyapu tekstur daunnya yang berbulu halus sebelum kembali melangkah.

Di belakangnya, Tabika ikut memperlambat gerakan, matanya tidak menatap bunga itu, melainkan menatap bahu kiri Kasapi yang sedikit turun setiap kali cowok itu memfokuskan perhatian pada detail-detail kecil di sekitar mereka.

Sebuah tikungan tajam membawa mereka ke sebuah batu besar bergambar lingkaran cat putih. Batas akhir.

Kasapi berbalik. Tabika sudah lebih dulu berputar, tumit sepatunya memutar debu merah di atas tanah.

Perjalanan kembali terasa berbeda. Bukan karena jalurnya berubah, melainkan karena kini mereka berjalan menghadap arah cahaya petang yang mulai memerah.

Kasapi melihat bayangan Tabika mendahului tubuh gadis itu sendiri, terentang panjang di atas tanah merah. Setiap kali Kasapi memperlambat langkah karena ada cabang ranting rendah, bayangan di depannya ikut memendek, menunggu tanpa pernah berbalik.

Ketika mereka berdua kembali ke lingkaran bangku, Razan sedang meluruskan kakinya di atas tanah.

Josua duduk tegak di bangku kayu paling ujung, lengannya bersedekap rapat. Matanya menatap lurus ke arah panitia perempuan yang masih memegang papan jepit bergaris.

Nakta muncul dari jalur barat lima menit kemudian bersama panitia laki-laki yang berjalan tanpa ekspresi.

Panitia perempuan itu melangkah ke tengah lingkaran. Pennya berdecit di atas kertas tipis.

Lihat selengkapnya