"Bahasa Menyediakan Ribuan Ruang Tafsir Kemungkinan"
Jelaga dingin mengendap di balik kuku-kuku jari. Bau sabun batangan berkadar basa tinggi membakar pori-pori kulit yang lecet, beradu dengan aroma tanah basah yang perlahan mengering di tepi-tepi celana. Di depan barisan tenda kubah yang memantulkan rona jingga pembakaran petang, Sanak Tara berdiri membentuk garis yang timpang.
Nakta melipat kedua tangannya di atas dada, tumit sepatunya mengikis batuan pasir. Matanya memindai tanah lapang yang mulai dipenuhi asap kayu basah.
"Bika," Nakta menggeser tumpuan kakinya. "Josua ke mana?"
Razan yang berdiri dua langkah di sampingnya mendadak menatap ujung lengannya yang koyak, pura-pura sibuk membersihkan serpihan benang yang terlepas.
Tabika menyapu sisa air di lehernya dengan ujung jemari. Matanya bergulir singkat ke arah Razan sebelum menjawab datar. "Paling masih di pancuran. Tadi gue lihat kotornya persis lutung"
"Gue sengaja," sela Razan kencang, lidahnya menekan pipi dalam. "Dia mau sok pahlawan meluk bahu gue pas kepleset, ya sekalian aja gue belokkan tumpuan gue ke ceruk lumpur."
Sesosok tubuh dengan rambut basah mencuat dari balik semak ketapang. Langkah kakinya berat, menekankan sol sepatu ke tanah basah hingga memercikkan sisa air.
"Razan Cinanda!"
Josua melompat, jemarinya yang masih lembap mencengkeram tengkuk jaket Razan, memutar tubuh cowok itu hingga goyah. Namun alih-alih memukul, Josua justru membenamkan dahinya ke bahu Tabika yang berdiri di dekatnya, bahunya naik-turun pendek. Air matanya—atau mungkin sisa air pancuran yang belum tuntas diusap—meninggalkan jejak basah di kain kaus Tabika.
"Gue mau tolongin lo, Za," suara Josua serak, teredam di lipatan kain. "Gue cuma mau nahan tas lo."
Tabika tidak bergeser. Tangan kirinya terangkat, menepuk-nepuk punggung Josua dengan ritme yang terlalu kaku untuk disebut ketenangan. "Sabar, Jo. Razan emang jahat. Nanti gue lebih parah lagi."
Josua mendongak, matanya yang kemerahan menatap Kasapi yang sejak tadi bersedekap di samping tiang tenda. "Pi... liat tuh. Kasih tahu mereka, Pi."
Kasapi mengamati lelehan air di ujung rambut Josua yang menetes ke tanah, membasahi seekor semut rangrang yang sedang merayap. "Bagus. Lanjutkan."
Tawa melenting pendek dari tenggorokan Nakta. Josua menarik nafas kencang lewat hidung, membuang muka seraya menyilangkan kedua tangannya rapat-rapat. Tidak ada yang membujuknya, namun tumpuan kakinya tidak bergeser sejengkal pun dari lingkaran berdiri mereka.
Satu pukulan gong perunggu berdengung dari tengah lapangan. Asap kayu jati menari rendah, membawa hawa hangat yang memotong dinginnya angin punggung bukit.
Api unggun utama belum dinyalakan. Di sekeliling lingkaran batu kali, belasan kelompok duduk melingkar di atas karung goni. Seorang panitia berseragam lapangan melangkah ke tengah, tangannya memegang tampah bambu berisi tumpukan balok kayu cemara berukuran dua jengkal.
"Malam terakhir," suara panitia melintas di atas kepala mereka, terpotong gesekan dahan pinus. "Acara kita sederhana: Membuat Terimakasih.
Tidak ada sorak. Pengumuman itu mengendap begitu saja di udara terbuka.
"Setiap kelompok mendapat delapan belas potong kayu," panitia itu membungkuk, meletakkan tumpukan kayu di depan Sanak Tara. Batang-batang kayu itu mulus, memotong serat alami cemara tanpa lubang, tanpa paku, tanpa takikan. "Bangun satu replika. Gunakan apa saja yang kalian bawa dari perjalanan hari ini."
Nakta menumpuk dua balok kayu dengan ujung jarinya. Kayu itu berguling, jatuh kembali ke goni. "Lama-lama otak gue bisa pecah."
"Gak ada paku. Gak ada lem," Tabika meremas telapak tangannya sendiri. "Bagaimana bisa berdiri?"
Dari celah lingkaran, suara Ketua OSIS terdengar lantang menembus desir angin, tidak ditujukan pada siapa pun secara khusus:
Bangunan tidak dibangun oleh dinding yang utuh, melainkan oleh bagian-bagian yang memilih saling melengkapi.
Razan menarik nafas dalam-dalam. Jarinya memutar-mutar balok cemara. "Maksudnya disusun jadi satu kesatuan? Kita bikin rumah? Tapi atapnya pakai apa?"
Nakta mendadak berdiri, melangkah dua tindak lalu memukul bahu Razan. "Za, lo kesurupan apa? Kok logis?"
Kasapi tidak bersuara. Dari saku jaket bagian dalam, ia menarik buntalan sapu tangan lusuh. Pecahan kaca melengkung itu muncul kembali, memantulkan pijar jingga dari obor panitia yang baru dinyalakan. Ujung tajamnya berkilau kusam.
Tanpa bicara, Kasapi berbalik. Langkah kakinya cepat, melintasi rumput basah menuju tenda mereka. Dua puluh detik kemudian ia kembali membawa segulung tali tambang tua—sisa perlengkapan dari Pos 3 yang berserat kasar, kotor oleh tanah kering yang mengelupas.
"Sini," kata Kasapi pendek.
Lima pasang tangan bergerak di atas karung goni.
Josua memegang dua kayu pertama secara vertikal, urat pergelangan tangannya menegang menahan tumpuan. Nakta melilitkan tali tambang kusam itu, memutar tiga kali lalu menguncinya dengan simpul jangkar yang dipelajarinya secara acak. Tabika menyelipkan balok ketiga di celah tengah, menahan agar ikatan tali tidak meluncur turun.
Di bagian puncak, Kasapi meletakkan pecahan kaca melengkung itu. Kaca itu tidak menutup rapat; ada celah selebar dua jari di antara lekukan bening dan serat kayu cemara. Namun ketika tali terakhir ditarik kencang oleh Razan, struktur itu terkunci.
Sebuah replika bangunan kecil berdiri di tengah mereka.
Tali-talinya kasar, berserat lepas dan bernoda lumpur cokelat tua. Kayunya usang. Kaca di bagian atapnya retak di satu sudut, membiarkan angin malam menerobos celah-celah kecil di dalamnya. Benda itu tampak ringkih, unproposional, dan sama sekali jauh dari kata rapi.
Mereka menatapnya dalam keheningan yang mendadak menebal.