SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #10

Bab 9 — Sisi Rangkai

"Aku selalu merasa tenggelam di pantulan cahaya cermin yang menyerapku dan membiarkanku melihat bahwa dibalik itu kosong."



Pagi meledak menjadi ribuan jarum cahaya yang menusuk di antara celah-celah daun pinus. Bau terpal basah, asap api unggun mati, dan getah pinus yang mengering bertumpuk di udara, berat dan membakar pangkal tenggorokan.

Di sekeliling lapangan, derit pasak besi yang dicabut dari tanah beradu dengan bunyi gesekan kain kanvas kaku. Tenda-tenda membungkuk, rubuh satu demi satu seperti kulit bangkai binatang tua yang dikuliti.

Nakta menyeret ranselnya dengan satu tangan. Matanya menyempit, menghindari silau embun yang memantulkan pendar matahari pagi dari atas helai-helai rumput. Di sampingnya, Josua membungkuk ganda, membiarkan dua tas carrier bertengger di bahu dan dadanya. Wajah Josua menegang, urat-urat hijau di pelipisnya mencuat tipis.

"Ta," panggil Josua. Suaranya serak, terendam bunyi besi gesper yang saling menabrak. "Ini tas lo isi batu kali apa pasir pantai?"

Nakta tidak memandang. Ia hanya menyeringai tipis, mengunyah bibir bawahnya sambil menyenggol rusuk Josua memakai sikutnya yang kering. "Tinggal jalan sepuluh meter ke bus, Jo. Jangan manja."

Kasapi yang berjalan di belakang mereka melangkah tanpa henti. Saat melewati Josua, tangannya terulur secara alami, menyambar tali ransel tambahan yang menggelantung di dada Josua, memindahkannya ke pundak sendiri tanpa mengumbar senyum. Josua meliriknya sekilas, mengembuskan napas panjang lewat hidung, lalu merenggangkan lehernya yang kaku.

Di tepi jalan berbatu, pembina kemah berdiri mengawasi. Kumis tebalnya yang mulai beruban menutup separuh bibir atasnya yang mengatup rapat. Beliau tidak lagi bersuara melalui megapon. Beliau hanya berdiri, memiringkan kepalanya sedikit setiap kali ada anak yang melintas dengan tas yang dipikul tidak seimbang.

Kasapi memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku jaket. Jarinya menyentuh permukaan licin sebuah selembar kertas foto kusam. Ujung-ujungnya sudah melengkung, terkelupas menjadi serat-serat putih. Ia menekannya sebentar memakai ibu jari, merasakan kontur tipis yang tersembunyi di sana, sebelum kembali menarik tangannya keluar. Kertas itu tetap berada di dalam saku, dingin dan berembun.

Mesin bus meraung rendah. Getarannya merambat naik dari lantai besi yang dilapisi karet hitam, menyusup ke telapak sepatu, meliuk hingga ke pangkal paha.

Di dalam, udara berbau minyak tanah, keringat basi, dan pelembut pakaian murah. Tabika duduk di samping jendela pada deretan kedua dari belakang. Tangannya mengusap embun tipis yang menempel di dalam kaca, meninggalkan tiga garis bening yang memperlihatkan gumpalan pohon pinus meluncur mundur.

Di sebelahnya, Kasapi memangku buku catatannya. Punggung buku itu sudah aus, benang jahitannya terburai kecil di beberapa sudut.

Di bangku paling belakang, Razan dan Nakta sedang berebut sebotol minuman soda yang tinggal separuh. Suara gelak tawa mereka bertumpuk dengan musik pop melayu yang diputar sopir dari pengeras suara retak di atas kepala. Sementara itu, Josua duduk menyendiri di seberang lorong, kepalanya terkulai miring menempel pada dinding bus, mulutnya sedikit terbuka, tertidur lelap ditimpa guncangan roda yang melompati lubang jalanan.

Kasapi membiarkan pulpen hitamnya bertengger di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Pena itu bergerak sendiri, seolah lengannya hanya tiang kayu yang digerakkan angin.

Angin bertiup tenang bersama badai

Rusuk pohon menerpa arah yang sesat,

Haluan akar mengikat rembulan,

Lilitan serangga mengukir ruam

Sebilah cahaya menerpa badai,

Tuanku berlayar di atas cahaya,

Tangan meraba denah yang tak bernama,

Mencari arah di tengah sesat

Raungan burung menyaksikan siksa,

seraya menawarkan cinta

Berikan aku sayap patah arah,

Undangan nikmat ke antara belantar

Saksikan pesta riuhan tanah,

Bersama ular menerjang gelap

Terjebak dalam nikmat udara,

Lupa akan peluang hirupan

Terdengar siulan menertawakan,

Biarlah undangan itu membahagiakan rusa

Diantar ke dalam gua menjadi santapan,

Menyenangkan, hingga menjadi candaan

Rasa menyesak — tertinggal cahaya,

seraya berbisik,

"Terima kasih arah, akar melingkar, aku tersedak”

Tinta hitam itu basah, merebak sedikit di atas serat kertas murah. Kasapi memandangi deretan tulisan itu. Dadanya mengembang pelan, lalu mengecil.

Tabika miringkan badannya. Matanya membaca dari atas, mengikuti alur lekuk huruf Kasapi yang lancip-lancip di ujungnya.

Lihat selengkapnya