"Duduk menadah kelopak yang berjatuhan, tanpa menyadari bunga itu telah menanggalkan pesonanya. Dan harum yang sempat disapa jemari, kini pasrah terinjak, terbenam bersama tanah."
Pagi melipat sisa malam dengan dingin yang enggan meluruh. Dari selipan kain gorden, sebilah cahaya miring jatuh menimpa lantai kayu, memotong keheningan kamar seperti garis kapur di atas papan tulis yang belum dibersihkan.
Kasapi tidak langsung bergerak. Matanya menatap langit-langit, tempat cat putihnya mengelupas menyerupai benua yang kehilangan batas. Di meja samping ranjang, potongan kayu beratap pecahan kaca buatan mereka masih bersandar pada tumpukan buku pelajaran. Serat-seratnya yang kasar tampak makin kentara, menyerap sinar matahari pertama yang pekat.
Tangannya terulur. Ibu jarinya meraba bagian pinggir kayu yang tak rata—bekas amplas yang terhenti setengah jalan. Sebersit lengkung tipis nyaris terbentuk di sudut bibirnya, tetapi langsung lenyap begitu matanya menangkap bayangan diri di pecahan kaca di atasnya: buram, terbelah dua oleh retakan halus.
Ia meletakkan kayu itu kembali. Bunyi tak pelan terdengar ketika sudutnya membentur permukaan meja.
Laci ditarik keluar. Gesekan kayu dengan kayu mengirim derit pendek ke udara pagi. Di antara tumpukan kertas kuitansi bergambar logo Percetakan Manara, sebatang pensil yang tinggal separuh, dan buku saku bersampul kain, terselip secarik kertas kusam yang dilipat empat.
Kasapi membukanya. Tinta pulpen biru di sana sudah terurai menjadi keabu-abuan, mekar di sepanjang lipatan yang melapuk.
Jl. Kenari No. 02
Mata Kasapi menyapu baris kalimat itu sekali. Lalu sekali lagi. Tidak ada desah napas, tidak ada ketukan jari. Hanya lipatan kertas itu yang dikembalikan ke bentuk terkerucutnya, ditangkas dengan teliti, lalu dimasukkan ke dalam lipatan paling dalam di dompet kulitnya yang kusam.
Aroma minyak tanah membakar uap pisang goreng di atas meja makan. Radio kotak berwarna cokelat tua—dengan tombol putar yang diganjal potongan kertas karton—memuntahkan desis frekuensi radio AM yang menyajikan berita kenaikan harga bahan bakar minyak, beradu dengan dendang musik pop yang terpotong-potong.
Kakek tidak menoleh ketika Kasapi melangkah mendekat. Tangan tua itu sigap menuang air panas dari teko seng berbercak jelaga ke dalam dua gelas bermotif lurik hijau.
"Asap teh masih banyak, keburu dingin nanti," kata Kakek. Suaranya serak, khas tenggorokan tua yang belum tersiram air sejak bangun tidur.
Kasapi menarik kursi kayu berkaki kaku. "Iya, Kek."
Sepiring pisang goreng bercak-bercak cokelat kehitaman mengembunkan minyak di atas selembar kertas koran bekas terbitan dua minggu lalu. Kasapi mengambil sepotong. Kerenyahannya pecah di gigitan pertama, melepaskan rasa manis yang membakar lidah, sementara minyak panasnya menempel di sela-sela jarinya.
Kakek menyesap tehnya. Beliau tidak menyapu minyak di bibirnya, hanya membiarkannya berkilat ditimpa pendar lampu bohlam lima watt yang masih menyala di sudut dapur.
"Mau keluar?" Kakek memecah hening, jarinya mengetuk-ngetuk dinding gelas yang panas.
"Iya."
"Ke percetakan?"
"Bukan."
Kakek meniup permukaan tehnya yang bergelombang kecil. Uapnya membumbung, memoles wajah keriput itu dengan kelembapan sesaat. "Mau ke mana?"
"Nyari seseorang."
Sendok teh di dalam gelas Kakek berdenting pelan. Beliau tidak menanyakan siapa. Tangan tuanya justru masuk ke dalam saku kemeja dril kusam yang kancing atasnya terlepas, merogoh beberapa lembar uang kertas berwarna kebiruan—dua lembar ribuan lusuh bertahun emisi lama yang sudut-sudutnya terlipat mati.
Uang itu diletakkan di tepi meja, tepat di dekat piring pisang.
"Buat ongkos."
Kasapi menatap dua lembar kertas berbau dompet tua itu. Tanpa menyentuhnya, ia menggeser piring pisang sedikit ke depan. "Aku jalan kaki aja."
"Jauh?"
"Deket kok."
Kakek mengembuskan napas panjang, meninggalkan bunyi huff pelan di celah kumis putihnya. "Kamu dari dulu selalu bilang begitu."
Kasapi tidak menyahut. Ia meraih gelas tehnya yang mulai suam, meminumnya dalam dua teukan panjang hingga menyisakan endapan gula pasir di dasar gelas. Ia berdiri, mengusap celana kainnya yang agak kebesaran.
"Aku berangkat dulu, Kek."
Kasapi baru saja menyentuh selot pintu kayu ketika ketukan tumit Kakek berhenti di lantai semen.
"Pi."
Kasapi menoleh.
Kakek berdiri bersandar pada tepi meja makan, gelas tehnya dipegang dengan kedua tangan. "Kalau lewat pasar, beliin gula pasir sekilo, ya."
Beliau merogoh saku kemejanya lagi, mengulurkan selembar uang lima ribuan yang masih kaku. "Sekalian kalau ada kembaliannya, pakai buat jajan."
Kasapi menatap lembaran uang di tangan Kakek. Jarinya yang berada di dalam saku celana menyentuh gumpalan dompet yang memadat oleh kertas alamat.
"Nggak usah, Kek. Pake uang aku aja."
"Ambil. Yang penting jangan lupa gulanya."
Kasapi akhirnya menerima lembaran kertas itu. Teksturnya kaku dan dingin. "Gula..." gumamnya pendek. "Berangkat, Kek."
"Hati-hati."
Aspal jalan raya menyerap panas matahari pagi yang merambat naik. Di pinggir trotoar, kepulan asap knalpot dari deretan sepeda motor bebek bertengki depan dan mobil-mobil angkutan kota berwarna kuning pekat meninggalkan bau bensin gantung di udara.
Di depan Percetakan Manara, rol besi pintu toko ditarik ke atas dengan derak nyaring yang memantulkan gema di sepanjang pertokoan. Pak Hendro, bersandar pada ambang pintu sambil memegang slang air yang mengucur pelan ke pot-pot kuping gajah, mengangkat wajahnya yang mengilap oleh keringat.
"Pagi, Pi!" serunya, suaranya bersaing dengan deru mesin bus antar-kota yang melintas. "Nggak sekolah malah jalan-jalan?"
Kasapi menghentikan langkahnya sebentar di batas bayang-bayang atap seng percetakan. "Pagi, Pak. Ada urusan sebentar."