"Bilah hanya memotong dan menyisakan remah saat dirapatkan. Ia dapat meretas masuk tanpa merusak apa pun—sebab tak ada bilah yang melukai tuannya, kecuali jemari itu sendiri yang rindu akan cacat."
Bel pulang sekolah meraung panjang, memotong udara siang yang kental oleh debu kapur tulis dan keringat yang mengering di lipatan seragam. Di sepanjang koridor, lantai semen memantulkan derap ratusan sepatu karet. Siswa-siswa bergerombol, tumpah ruah menembus pintu gerbang besi yang setengah terbuka, sementara percakapan tentang tugas dan janji bermain bertumpukan di udara seperti deru angin.
Kasapi melangkah melawan arus.
Ibu jarinya menekat sudut kertas buram di saku seragamnya. Tinta stensil pada kertas itu masih meninggalkan bau kimia yang tajam.
Proyek Kelompok Sejarah
Dokumentasi Kerajinan Tradisional dan Nilai Budaya Setempat
Anggota: Kasapi, Tabika, Nakta, Josua, Razan.
"Pi!"
Langkah Kasapi tertahan di dekat tiang bendera yang tali besinya berdenting dipukul angin. Razan berlari kecil menghampirinya, tas karung terpalnya meluncur turun hingga ke siku, ditahan oleh satu leher yang mendongak. Di belakangnya, Nakta berjalan santai sambil mengunyah es lilin rasa asam jawa yang dibungkus plastik tipis.
"Lo mau langsung pulang?" tanya Razan, napasnya memburu di pangkal tenggorokan.
Kasapi menggeleng pelan. "Ke percetakan."
"Kita harus nentuin lokasi proyek," sela Tabika yang baru muncul bersama Josua dari balik ruang perpustakaan. Jarinya sibuk menyisipkan anak rambut ke belakang telinga. Tangannya yang lain menggenggam buku catatan bergaris dengan sampul gambar aktor film aksi yang populer di awal dekade. "Jangan sampai kita dapat tempat yang jauh. Bensin motor abang gue mahal."
"Ke Pasar Lama aja," kata Josua. Suaranya serak, matanya sedikit memerah bekas tertidur di jam terakhir. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan sebungkus rokok kretek murah yang tinggal isi dua batang, memutar-mutarnya di antara jemari sebelum menyimpannya kembali saat melihat guru piket melintas. "Di sana ada toko gerabah. Kakek gue dulu sering beli tempat air di sana."
Kata gerabah jatuh ke udara siang seperti kerikil yang dilemparkan ke dalam sumur tua.
Kasapi tidak langsung menyahut. Di pangkal lidahnya, kata itu terasa aneh—bukan sebagai susunan huruf, melainkan sebagai rasa dingin yang samar, serupa bau tanah basah yang diperam dalam ruangan tanpa jendela.
"Pi?" Tabika menatapnya, matanya menyipit menahan silau matahari yang memantul dari atap seng tempat parkir. "Lo dengar, kan?"
"Dengar," Kasapi meratakan lipatan kertas di sakunya. "Besok sepulang sekolah?"
"Jangan telat. Gue nggak mau ngguin kayak kemarin," potong Nakta pendek. Ia mengikat sisa plastik es lilinnya dengan simpul mati, lalu melemparkannya tepat ke dalam tong sampah seng yang penyok.
Mereka berpisah di perempatan jalan. Kasapi membalas lambaian tangan Tabika tanpa bersuara, lalu membalikkan badan menuju deretan toko beratap tinggi yang berjejer di sepanjang Jalan Kereta Lama.
Bau tinta minyak tanah dan kertas cetak kusam menyambut Kasapi saat bel di atas pintu Percetakan Manara berdenting tunggal.
Di belakang mesin potong kertas berukuran besar, Pak Hendro sedang menumpuk lembaran kalender dinding tahun 2008 yang memuat gambar pemandangan alam dan foto pejabat daerah. Kacamata minusnya meluncur ke ujung hidung, ditahan oleh lipatan pipinya yang berkerat.
"Ganti baju dulu, Pi," kata Pak Hendro tanpa menghentikan tuas pemotong yang turun dengan bunyi brik-prak yang berat. "Ada formulir kelurahan yang harus dilipat. Pemesannya mau ambil sebelum magrib."
Kasapi menggantung tasnya pada paku di balik pintu kayu, menggulung lengan seragam putihnya yang mulai menguning di bagian siku. Mesin cetak offset mini di sudut ruangan berdetak dengan irama konstan, memuntahkan kertas demi kertas yang basah oleh garis-garis hitam kental.
Seorang pria bersepeda jengki berhenti di depan pintu. Jaket kainnya yang lusuh berdebu di bagian bahu, membawa map plastik tebal di ketiaknya.
"Mas, mau cetak surat edaran RT," katanya, menaruh lembaran kertas bergaris ke atas meja kasir.
Kasapi mendekat, meraih kertas itu. Jarinya terhenti pada baris paling atas, tepat pada stempel kelurahan yang tintanya agak samar.
Kelurahan Arjapura – Wilayah IV
Sesuatu di dada Kasapi seperti ditarik pelan. Tangannya mengusap tepi meja kayu yang penuh noda tinta mati.
"Bapak... dari Arjapura?" tanya Kasapi. Suaranya tertahan di balik desing mesin cetak.
Pria itu mengangguk, merogoh saku untuk mengeluarkan sebungkus tembakau mole. "Iya. Kenapa, Mas?"
"Jalan Kenanga... masih jauh dari sana?"
Pria itu berhenti melilit tembakaunya dengan kertas papir. Matanya menatap Kasapi sekilas dari atas ke bawah. "Di sebelah barat pasar. Tapi jalan itu sudah habis diaspal dua tahun lalu. Banyak rumah tua yang dirobohkan buat perluasan pertokoan."
Kasapi menelan ludah. Lidahnya terasa kering. "Semua rumah?"